RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Vino Bastian perankan Buya Hamka, Ulama Besar Minangkabau

Vino Bastian perankan Buya Hamka, Ulama Besar Minangkabau

Aktor Vino G. Bastian akan memerankan tokoh cendekiawan Islam, Buya Hamka, dalam film Buya Hamka. Film ini akan diproduksi oleh Starvision dan Falcon Pictures. Selama ini, Vino jarang memerankan karakter yang alim.

Ia cenderung jadi jagoan yang agak nakal, seperti pendekar Wiro Sableng dalam Wiro Sableng (2018), Kasino dalam Warkop DKI Reborn (2017), dan rocker Ipang dalam Realita Cinta dan Rock n’ Roll (2005). Meski begitu, keluarga Buya menganggap suara Vino mirip dengan almarhum.

“Kenapa pilih saya, karena dia dengar itu suaranya katanya sama, serak-serak tipis gitu. Pertama itu dulu dan ketika saya coba dengari suaranya ketika tua, saya coba ikuti, ya, mudah-mudahan semua bisa nge-blend jadi satu. Bisa menghidupkan karya Buya lagi,” ujar Vino kepada Kompas.com (26/3/2019).

Dari segi fisik, Vino berusaha menambah berat badannya agar mirip dengan sang tokoh. Ia juga akan menggunakan prostetik. Ini diperlukan, sebab sosok Buya yang diperankan Vino akan memiliki dua fase kehidupan, yaitu saat muda dan ketika ia sudah jadi tokoh besar.

“Jadi fisiknya itu ada dua fase ketika Buya harus kurus dan lebih berisi. Semoga prostetik ini bisa membantu,” ujar suami aktris Marsha Timothy itu.

Vino juga melakukan riset dengan banyak membaca buku-buku karya Buya. Selain dikenal sebagai ulama, Buya Hamka adalah sastrawan. Salah satu karya beliau yang populer adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, yang sempat difilmkan pada 2013.

“Kalo gue baca skrip doang, itu cuma yang ada di permukaan. Tapi dengan membaca bukunya (karya Buya Hamka) bakal menemui karakternya,” kata Vino kepada Medcom.id (26/3/2019). “Dan Buya Hamka itu memang sosok ulama yang menyejukkan.”

Selain Vino, terlibat pula aktris Laudya Cynthya Bella sebagai Siti Raham, istri Buya Hamka. Perempuan berusia 30 itu mengaku kesulitan dalam memerankan Siti. Laudya mengaku harus memperkaya literasi dan risetnya soal Buya Hamka dan hubungannya dengan Siti Raham.

“Saya lahir tahun 1988, sementara latar belakang ini masih zaman kakek saya,” tandasnya kepada Jawa Pos (26/3/2019).

Selain Vino dan Laudya, pemeran lain adalah Dessy Ratnasari, Donny Damara, Ayudia Bing Slamet, Mawar De Jongh, Verdi Soelaiman dan Teuku Rifnu Wikana. Film Buya Hamka akan digarap oleh sutradara Fajar Bustomi, yang sudah sukses dalam genre drama remaja Dilan 1990 (2018) dan Dilan 1991 (2019).

Syuting akan dilaksanakan pada 1 April, dengan target penayangan pada 2020. Tokoh agama yang teguh dengan prinsipnya. Buya Hamka lahir dengan nama Haji Abdul Malik Karim Amrullah di Maninjau, Sumatera Barat, pada 17 Februari 1908.

Ia dibesarkan dalam tradisi Minangkabau, dalam gejolak batin ketika terjadi pertentangan yang keras antara kaum adat dan kaum muda tentang pelaksanaan ajaran Islam. Hamka aktif dalam gerakan Muhammadiyah sejak masih muda. Nama “Hamka” berasal dari singkatan nama lengkapnya, sementara Buya adalah panggilan untuk orang Minangkabau yang berasal dari kata “abi”, “abuya” dalam bahasa Arab, yang berarti “ayahku”, atau “seseorang yang dihormati”.

Hamka dikenal teguh memegang prinsip yang ia yakini. Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, Hamka berani mengeluarkan fatwa haram menikah lagi bagi sang Presiden. Ia juga mengritik kedekatan pemerintah dengan Partai Komunis Indonesia. Hal-hal itu membuat Hamka sempat dipenjara pada 1964-1966. Setelah Orde Baru berkuasa, Hamka menjadi ulama. Pada 1975, ia menjadi ketua pertama dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Di luar politik, Hamka dikenal sebagai sastrawan. Karya-karyanya antara lain Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, Di Tepi Sungai Dajlah, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Merantau ke Deli, dan Di Dalam Lembah Kehidupan. Buya Hamka meninggal di Jakarta pada 24 Juli 1981 dalam usia 73 tahun.

Leave a Reply