RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Uniknya Batik Tanah Liat dari Minangkabau

Uniknya Batik Tanah Liat dari Minangkabau

Ranah Minang punya batik yang unik, batik tanah liek (tanah liat) namanya. Diberi nama demikian karena pewarnaan dari tanah liat. Salah satu tempat pembuatannya bisa ditemukan di Padang. Adalah Wirda Hanim, 66 tahun, yang memiliki usaha Batik Tanah Liek di Jalan Sawahan Dalam nomor 33 Padang itu.

Lantai dua rumahnya dijadikan tempat pembuatan batik, sedangkan di lantai satu dijadikan galeri batik. Di galerinya, ada beberapa lembar batik tanah liat di dalam lemari kaca yang besar. Batik ini dibuat dengan pewarnaan tanah liat dan pewarnaan alami dari tumbuhan. Lembaran kainnya halus, warnanya ada yang cokelat gelap, hitam, krem dan marun. Motif batik ada burung hong, kipas, ranting patah, daun, kuda terbang.

Motif-motif batik ini persis sama dengan motif batik yang ada di selendang-selendang tua milik bundo kanduang dan datuk-datuk (pemuka adat) di Kabupaten Tanah Datar, tempat asal Wirda Hanim. Usaha Wirda ini bermula pada 1993, saat ia mengikuti pesta adat di kampung asalnya, Kenagarian Sumani, Tanah Datar.

Di acara tersebut, ia melihat melihat beberapa datuk dan bundo kanduang memakai selendang batik tanah liat yang dalam bahasa Minang disebut “batik tanah liek”. Meski selendang tersebut sudah usang dan robek di sana-sini karena lapuk, namun mereka masih memakainya sebagai bagian dari pakaian adat tradisional Minangkabau.

”Mereka memakainya dengan sangat hati-hati, seperti menjaganya agar tidak robek, ada juga yang saya lihat sudah robek dan tetap dipakai,” kata Wirda. Rupanya, selendang batik itu warisan, dulunya berasal dari Cina. “Dan saya juga dapat cerita dari mereka, batik itu pewarnaannya dari tanah liat, dan itu masuk akal, karena warnanya sangat alami, dan pada masa lalu pewarnaan sintetis belum berkembang”.

Ia prihatin melihat selendang batik itu sudah langka, karena tidak ada lagi yang membuatnya. Setelah itu Wirda mulai mencari selendang batik tanah liat kuno yang masih tersimpan di rumah-rumah gadang. Ia juga mendatangi Nagari Pariangan, Di Tanah Datar yang dianggap sebagai Nagari tertua di Minangkabau. “Saya bawa sekodi payung, saya berikan buat orang yang menunjukkan saya jalan ke rumah pemilik selendang, dan juga pada pemilik selendang, ini cara kita berterimakasih di kampung,” paparnya.

Di Pariangan Wirda berhasil melihat beberapa selendang tua. Tekadnya semakin bulat untuk membuat kain batik tanah liek sebelum benar-benar punah. Saat itu ia sudah memiliki usaha kerajinan bordir di Padang yang ia rintis sejak 1986. Batik adalah hal baru yang belum ia kenal sama sekali, hingga ia pun ke Yogyakarta untuk belajar membatik.

Wirda juga mengundang seorang pengajar batik dari Yogjakarta ke Padang yang dikontraknya tiga bulan. Eksperimen membuat perwarnaan dari tanah liat gagal, hingga ia uji coba warna-warna kimia untuk mencari warna yang sesuai dengan batik tanah liek . “Saya mencoba ke sepuluh lembar kain yang ukurannya masing-masing dua meter, akhirnya saya mendapatkan warna batik tanah liek, meski dari sepuluh lembar hanya dua lembar yang bagus,” katanya.

Sejak itu ia mulai memproduksi batik tanah liek dari bahan sintetis. Pada 2000 Wirda diutus Kantor Wilayah Departemen Perindustrian dan Perdagangan Sumatra Barat mengikuti pelatihan pewarnaan alam di Yogyakarta selama sebulan. Sejak itulah Wirda kemudian mencoba bahan alami untuk batiknya. Praktek awalnya dengan bahan tanah liat saat ia melihat sebongkah tanah coklat tua dari galian sumur di dekat rumahnya.

“Di sekitar rumah saya ini dulunya kan sawah, jadi tanahnya bagus, tanah payau, saya rebus dan diaduk dengan tawas lalu dimasukkan kain putih bahan dasar batik ke dalamnya,” kata Wirda. Akhirnya ia berhasil memproduksi batik dengan pewarnaan tanah liek. Ia tak hanya memakai tanah liat sebagai bahan baku , tetapi juga gambir, kulit rambutan, kulit jengkol, dan kulit bawang.

Motif batik yang ia gunakan persis sama dengan selendang batik kuno yang ia dapatkan dokumentasinya. Ada beberapa bentuk burung hong, ranting, batang kayu, kipas dan ada juga kuda terbang. “Saya bukan ahli motif batik, motifnya sangat banyak dan rumit, karena kain batik itu dulunya dari Cina, kemungkinan ini juga motifnya khas motif Cina,” kata Wirda.

Karena pembuatannya eksklusif, lama dan butuh penjemuran di bawah sinar matahari yang tepat agar warnanya bisa keluar, batik tanah liek ini harganya juga cukup mahal. Namun Wirda tidak mau menyebutkannya. Pembelinya biasanya kolektor. Untuk harga yang lebih terjangkau, Wirda juga membuat kain batik tulis menggunakan pewarnaan sintetis yang sama dengan warna dan motif selendang batik tanah liek. Ia juga memproduksi batik cap dan batik cetak dengan motif batik tanah liat. sumber

Leave a Reply