Ulama Pertama ‘Syekh Burhanuddin’ Penyebar Islam di Minangkabau

Nama Syekh Burhanuddin Ulakan masih terawat dalam ingatan masyarakat Ranah Minang. Ia dicatat sebagai salah satu ulama generasi awal yang menyebarkan Islam di Minangkabau.

Sekitar empat abad berlalu, dalam berbagai literatur mencatat beragam tahun kelahiran Syekh Burhanuddin. Namun, umumnya sekitar awal abad ke-17. Masoed Abidin dkk dalam “Ensiklopedi Minangkabau” (2010) menyebut tahun kelahirannya pada 1021 Hijriah.

Sementara, Bustamam yang menulis profil Syekh Burhanuddin dalam “Riwayat Hidup Ulama Sumatera Barat dan Perjuangannya” (2001) menyebut tahun 1026 Hijriah. Duski Samad dalam “Syekh Burhanuddin Ulakan dan Islamisasi di Minangkabau” (2003) juga menyebut tahun 1026 H.

Ketika dikonversi ke tahun Masehi, rentang 1021-1026 Hijriah tersebut diperkirakan antara tahun 1612-1617 Masehi, atau sekitar awal abad ke-17.

Buku Ensiklopedi Minangkabau menulis, Burhanuddin lahir di Pariangan, Tanah Datar. Ayahnya bernama Pampak dari Suku Koto. Sementara, ibunya Cukuik dari Suku Guci. “Nama kecil Burhanuddin ialah Kunun. Tetapi teman-teman sebayanya memanggilnya Pono,” tulis Bustamam.

Kehidupan Pono bersama keluarganya serba kekurangan. Hal ini yang kemudian membuat keluarga ini hijrah mencari kehidupan baru ke arah pesisir, saat Pono berusia 7 tahun. Keluarga ini sampai di Sintuk, dan kemudian diberi sebidang tanah untuk digarap oleh ninik mamak setempat.

“Pindah ke Sintuk Lubuk Alung dan belajar agama Islam pertama sekali dengan Tuanku Madinah di Tapakih, Kecamatan Nan Sabarih,” tulis Duski Samad.

Di Tapakis, bermukim seorang ulama bernama Yahyuddin yang dikenal dengan nama Tuanku Madinah. Kepada guru ini, Pono mulai mendalami agama Islam, lebih kurang 3 tahun. Ia mempelajari ibadah wajib, tauhid, fiqih, tafsir dan sejarah Islam. Sebelum meninggal, Tuanku Madinah meminta Pono melanjukan pelajaran agama kepada Syekh Abdurrauf Singkil di Aceh.

Ketika gurunya meninggal, ia membulatkan tekad berangkat ke Aceh untuk belajar agama kepada Syekh Abdurrauf. Abdurrauf adalah ulama terkemuka Aceh di abad ke-17 tersebut. Ia pernah menetap di Mekkah selama 10 tahun untuk mendalami Islam.

Kepadanyalah Pono belajar, memperdalam tasawuf dan tarekat Syattariyah, sebagai jalan mengembangkan agama Islam kepada masyarakat. Selama di Aceh, ia bukan hanya memperdalam pelajaran agama, tapi juga melewati berbagai ujian berat. Ujian itu, sejak dari tirakat, kesetiaan hingga ujian hawa nafsu. Semua mampu dilewati oleh Pono.

Setelah 9 tahun mempelajari tarekat, Pono lulus dan mendapat ijazah dari Syekh Abdurrdauf Singkil. Sejak itu, ia dipanggil dengan sebutan Syekh. Ada yang menyebut, ia belajar di Aceh selama 21 tahun, ada yang menyebut sampai 30 tahun.

Ia akhirnya pamit kepada Syekh Abdurrauf untuk pulang kembali ke Minangkabau. Sebelum Pono pulang, Syekh mengganti namanya menjadi Burhanuddin. Sehingga, setelah itu kemudian dikenal dengan panggilan Syekh Burhanuddin.

Burhanuddin dilepas dengan upacara khusus oleh Syekh Abdurrauf Sinkel. Selain nasehat, Syekh Burhanuddin dibekali kitab serta perahu dengan sembilan awak, sekaligus pengawal.

Menyusuri pantai barat Sumatra dari Aceh ke Pariaman, Syekh Burhanuddin akhirnya sampai di Ulakan. Atas kebaikan kawan lamanya dan izin Raja Ulakan, Syekh Burhanuddin diberi sebidang tanah. Di atas tanah tersebut, Syekh Burhanuddin mendirikan surau pertama, Surau Gadang Tanjung Medan.

“Dari surau itulah Syekh Burhanuddin dengan dibantu oleh teman lamanya Idris Majolelo, mensyiarkan Islam ke nagari-nagari di sekitarnya, yang sebelumnya sudah mengenal Islam tetapi masih jauh dari pengamalannya,” tulis Bustamam.

Surau menjadi tempat mengaji, belajar Islam, belajar tarekat, silat dan kekebalan menurut ajaran tarekat. Murid-murid syekh semakin banyak. Lembaga pendidikan itu juga mengembangkan solidaritas, gotong royong dan persaudaraan.

Berhasil ke masyarakat, Syekh Burhanuddin melanjutkan dakwah ke Raja Ulakan sambil meminta izin untuk berdakwah lebih luas. Mangkuto Alam yang saat itu menjabat raja Ulakan menyambut baik Syekh Burhanuddin. Sejak itu, muridnya makin banyak, tidak saja dari Ulakan, tetapi juga dari Sintuk, Lubuk Alung, Pakandangan dan daerah Pariaman bagian utara.

Murid-murid yang telah menyelesaikan pengajian dan pelajaran di Surau Gadang Tanjung Medan, kemudian diminta Syekh kembali ke kampung halaman masing-masing. Mereka diminta membuka surau dan pengajian di daerah masing-masing. Dengan cara inilah cabang pengajian Syekh Burhanuddin dan tarekat Syattariyah menyebar ke berbagai pelosok Sumatra Barat.

Setelah berdakwah sekitar 21 tahun, Syekh Burhanuddin berpulang ke Rahmatullah pada 10 Safar 1111 Hijriah. Tanggal ini, saat dikonversikan ke tahun masehi bertepatan dengan 7 Agustus 1699. Namun, sumber lain juga ada yang menyebut ia wafat pada 20 Juni 1704.

Terlepas dari itu, selepas kepergian sang ulama generasi pertama, bekas muridnya berziarah ke Ulakan setiap 10 Safar. Ziarah massal ini kemudian dikenal dengan tradisi “basapa” dan terus bertahan hingga lebih dari 3 abad hingga kini.

Sumber Artikel dan Photo : Langgam.id

Leave a Reply