RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Transportasi tradisional di Kota Padang Yang Sudah Ditinggalkan

Transportasi tradisional di Kota Padang Yang Sudah Ditinggalkan

Kemajuan transportasi modern yang menawarkan berbagai kelebihan menjadi alasan masyarakat berpaling. Namun, siapa sangka, masih ada kusir bendi yang bertahan di Pasar Raya Padang demi jati diri.

Bendi merupakan transportasi tradisional masyarakat Minangkabau berbentuk kereta kuda. Di Ibukota Indonesia, transportasi yang hampir mirip dengan bendi dikenal dengan sebutan delman atau andong. Kendaraan yang sumber tenaganya dari Kuda ini dikendalikan seorang kusir.

Igul adalah salah satu kusir yang masih bertahan di Pasar Raya Kota Padang. Pria 31 tahun ini mengaku peminat bendi sudah menurun drastis. Dalam sehari, kadang ia hanya mendapat satu penyewa.

“Belakangan ini memang sudah sepi. Kami hanya bisa mendapat satu pelanggan,” kata Igul , Jumat 26 Juli 2013.

Pendapatan Igul dalam sehari hanya berkisar Rp30 ribu. Itu pun hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan kudanya. Keadaan itu sudah berlangsung sejak 2010 lalu. Sebelumnya, ia bisa mendapat sekitar Rp80 ribu.

Tapi, kadang Bendi Igul disewa untuk arak-arakan pesta. Sewanya bisa mencapai Rp150 ribu. Namun itu rezeki bak bintang jatuh bagi Igul.

Menurut Igul, penyebab menurunnya peminat bendi akibat banyaknya kendaraan umum. Selain itu, masyarakat sudah memiliki kendaraan pribadi.

Hal tersebut dibenarkan oleh Edo, 33 tahun. Ia lebih senang memakai kendaraan pribadinya. “Dulu, saya sering menaiki bendi. Tapi sekarang sudah tidak pernah lagi karena lambat dan panas. Saya lebih sering menggunakan kendraan pribadi atau umum,” katanya.

Namun, Edo mengaku senang menumpangi bendi. Ia merasakan sensasi masa lalu Minangkabau. “Ketika saya menaiki bendi, saya seperti bernostalgia dengan masa lalu. Seolah saya berada di Minangkabau saisuak (Minangkabau masa silam) seperti yang cerita orang tua-tua.”

Sebagai masyarakat Minang, Edo berharap bendi tetap dilestarikan. Bendi diberi rute wisata dan dibebaskan dari jalur angkutan umum.

Igul, ayah dua orang anak ini, bertekad untuk bertahan menjalani profesinya sebagai kusir. “Selagi ada bendi, saya akan tetap menjadi kusir. Selain untuk mencari nafkah, saya juga ingin menjaga sisa-sisa budaya di zaman serba canggih ini,” katanya.

Leave a Reply