RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Tidak Pedas, Berikut 6 Kuliner Khas Minangkabau Ini Rasanya Manis

Salah satu kekhasan kuliner Minangkabau yang dikenal oleh masyarakat Nusantara adalah rasanya yang pedas. Dimulai dari rendang daging, ayam balado, sate padang hingga keripik balado dan banyak makanan lainnya, citra kuliner Minangkabau yang dikenal adalah rasa pedasnya. Bahkan, kata “balado” yang artinya “bercabe” dalam bahasa Minangkabau, sudah menjelma menjadi salah satu bentuk sajian bumbu masakan yang bersifat nasional.

Namun, sebenarnya makanan khas Minangkabau tentu tidak semuanya pedas. Masyarakat Minangkabau tetaplah manusia biasa yang ingin merasakan manis di lidah sebagai pemuas selera makan.

Bahkan, rupanya ada banyak kuliner khas Minangkabau yang rasanya manis sebagai penyeimbang rasa pedas yang juga banyak. Berikut 6 di antaranya yang kamu bisa cicipi ketika berkunjung ke ranah Minangkabau atau Provinsi Sumatera Barat.

1. Galamai, makanan yang mirip dodol yang sangat legit
Galamai adalah makanan yang terbuat dari tepung ketan atau disebut dengan pulut, gula merah, dan santan. Adonannya diaduk-aduk sekuat tenaga, ada juga yang mencampur dengan kacang merah. Hasilnya mirip seperti dodol, tapi lebih legit dan berwarna hitam. Rasanya sangat manis, dan lebih dikenal berasal dari daerah Kabupaten 50 Kota dan Kota Payakumbuh.

2. Lamang tapai, jajanan tradisional di Sumatera Barat yang dijajakan berkeliling
Lamang tapai merupakan makanan manis yang terbuat dari beras ketan putih dicampur dengan kelapa dan sedikit pandan. Campuran itu dibalut daun pisang kemudian dimasukkan ke dalam bambu muda untuk selanjutnya dibakar. Kemudian, disajikan dengan tapai (tape) yang terbuat dari ketan hitam yang dikukus. Orang Minangkabau menyebut proses pembuatannya dengan istilah “Malamang”, yang juga menjadi acara untuk penyambutan hari-hari besar.

Dulu, makanan ini sering dijual di pasar tradisional dan ada juga yang dengan cara membawa bakul di atas kepala lalu berkeliling di sebuah kawasan tempat tinggal, tapi sekarang dominan menjadi jajanan pinggir jalan.

3. Bubur kampiun, bubur yang rasanya juara!
Dari namanya, terdengar bahwa di sana ada istilah serapan dari bahasa Inggris yaitu Champion yang artinya juara. Konon, nama itu memang diambil dari sebuah perlombaan kuliner khas Minangkabau dan bubur ini menang.

Namun, diberi nama “Kampiun” bukan karena menang, tapi justru sebelum menang. Si peserta atau pembuatnya yang sudah panik duluan karena takut kalah, secara random memberi nama “Kampiun” yang memang artinya “Champion” atau juara itu. Nama itu dianggap doa olehnya. Tapi akhirnya memang dialah pemenangnya.

Terasa beda dan enak, karena bubur ini sangat lengkap isinya seperti ketan hitam, ketan putih, tapai, gula merah, lopis, kelapa, susu, kolak, bubur kacang hijau, bubur sum-sum, candil, dan lain-lain. Tak jarang, makanan ini menjadi perburuan untuk sarapan pagi di Kota Padang.

4. Ampiang dadiah, yogurtnya Minangkabau!
Kamu yang suka minum yogurt harus coba ampiang dadiah yang rasanya sangat mirip, namun berbeda proses pembuatan. Ampiang dadiah terdiri dari ampiang (emping) dan dadiah yang berasal dari susu kerbau. Susu kerbau bahan dadiah itu dimasukkan di dalam bambu yang dipotong kecil-kecil sekitar 15-30 cm lalu ditutupi daun pisang.

Bambu itu didiamkan selama dua malam agar terjadi fermentasi. Setelah menjadi dadiah yang mirip yogurt itu, hasilnya disajikan dengan ampiang atau emping beras. Jika kamu penaran untuk mencobanya, ampiang dadiah lebih banyak tersedia di Kota Bukittinggi dan sekitarnya.

5. Kue sapik, kue kering yang legendaris
Secara nasional mirip dengan kue semprong, tapi tidak digulung. Kue ini dicetak dengan dilipat dan dijepit atau dalam bahasa Minangkabau ‘disapik’, sehingga diberi nama kue sapik. Bahan-bahannya adalah tepung beras, telur, gula pasir, santan, dan bubuk kulit kayu manis. Katanya, makanan ini juga sudah dikenal di kalangan internasional seperti rendang, karena juga sering dijadikan oleh-oleh.

6. Lapek bugih, oleh-oleh dari orang Makassar
Makanan ini adalah kue kecil yang terbuat dari tepung ketan yang dibungkus daun pisang dan dikukus. Di dalamnya ada isi berupa kelapa parut dan gula merah agar terasa manis. Hasil setelah kukusan adalah kue yang berbentuk mirip piramida berwarna putih, dengan bentuk dasar persegi panjang dan tekstur yang kenyal.

Menurut cerita, kue ini diberi nama “Lapek Bugih” karena dulunya dibawa oleh orang Bugis (Sulawesi Selatan dan Makassar) yang merantau ke ranah Minangkabau. Lapek bugih juga sama seperti lamang tapai, dijajakan dengan berkeliling perumahan oleh penjualnya. Biasanya, sasaran pasarnya adalah anak kecil yang suka jajan.

Itulah 6 kuliner manis khas Minangkabau yang akan membuatmu selalu merindukan tanah Minang. Gak melulu pedas gurih dengan citarasa rempah yang lekat, kan?

Leave a Reply