Tergerusnya Bahasa Minangkabau Dari Perdapan Zaman

Bahasa adalah media yang digunakan untuk berkomunikasi antara individu dengan individu, agar dapat berinteraksi dan saling bertukar pendapat. Media yang digunakan dalam berbahasa adalah alat ucap dari tubuh manusia.

Unsur dalam bahasa, terdapat kata dan kalimat, sehingga saat sedang berinteraksi dapat saling memahami antara penutur dan pendengar. Penutur yaitu orang yang sedang melakukan pembicaraan, sedangkan pendengar yaitu orang yang medengarkan si pembicara/penutur. Salah satu bahasa yang ada di wilayah Nusantara ini adalah bahasa Minangkabau.

Bahasa Minangkabau adalah bahasa ibu. Bahasa ibu yaitu bahasa yang telah diajarkan orangtua ketika seseorang masih berumur dibawah 5 tahun. Bahasa Minangkabau ini tidak hanya di pakai diderah Padang saja, bahasa ini juga di pakai diseluruh wilayah di Sumatera Barat. Hanya saja penyampaian antar daerah satu dengan yang lainnya itu berbeda, apakah itu dalam penyampaian, nada bicara, dan gaya bahasanya.

Pembeda tersebutlah yang menjadikan minangkabau memiliki banyak kebudayaan pada tiap-tiap daerah. Tidak jadi pemecah tapi tetap jadi pemersatu yang kokoh. Yang jadi permasalahan disini hanya karena pengaruh luar dan juga rasa saling mencintai dan peka terhadap budaya bahasa itu yang kurang.

Disisi lain, antara masyarakat di Minangkabau bahasa yang digunakan oleh generasi tua dulu dan orang tua sekarang itu terdapat perbedaan. Perbedaan bahasa antara individu dengan invidu lainnya itu pasti ada, hanya saja, jika perbedaan tersebut masih dalam ruang lingkup yang masih bisa disamakan dan dilestarikan kembali.

Perbedaan yang dimaksudkan disini, karena generasi tua sekarang kalau berbicara kepada anaknya lebih cenderung terlihat kasar,Sedangkan orang tua zaman dahulu itu lebih cenderung menggunakan pepatah dan petitih atau seperti kata-kata khiasan.

Perbedaan tersebut kita dapat temukan di media sosial dan kaba Minangkabau. Seperti :

-Bahasa yang digunakan orangtua dulu terdapat didalam kaba Minangkabau, seperti :
“Oi buyuang joden dibuyuang, mangko anak den himbau ka mari, ado nan labiah den rusuahkan, ado nan labiah den risaukan, indak duduk taduduakkan diden, indak tagak tatagakkan diden, indak lalok talalokkan diden, nasi dimakan raso sakam, aia diminum raso duri, baitu bana hati den ko kini”. (memanggil anak karena sang ibu sedang merasa kecemasan dan kegelisahan. Sehingga tidak bisa melakukan segala sesuatu karena terus dibebani oleh suatu yang ada di fikirannya tersebut).

-Bahasa minang orangtua sekarang dapat kita dalam media sosial, seperti :
“Dima ang kini? Alah jam tigo subuah alun juo pulang? Pulanglah ang lai, beko ndak salamaik dijalan”. (berbicara lewat telfon kepada anak yang sudah subuh belum juga pulang kerumah).

Dari kedua contoh ini dapatlah kita lihat bahwasannya orangtua terdahulu itu sangatlah lembut saat berbicara, sedangkan sekarang sudah memakai nada yang tinggi dan kata yang lumayan kasar. Tidak lagi memakai khiasan, langsung terhadap intinya saja. Disini dapat dilhat bahwa orang tua zaman dulu itu lebih mengedepankan perasaan, karena jika dia langsung berkata kasar maka sasaran tersebut akan langsung tersinggung. Di Minangkabau ini juga telah dikenal bahwa orangnya sangat mengedepankan “raso jo pareso” (rasa malu dan saling menyegani terhadap sesama). Seperti itulah, raso jo pareso itu lama-kelamaan makin memudar seiring perkembangan zaman pada saat sekarang ini

Dari penjelasan dan analisis diatas dapat disimpulkan bahwa, kesenjangan ini terjadi karena kurangnya kesadaran untuk belajar dan mengetahui kembali tentang budaya sendiri. Sehingga banyak memicu kesenjangan pada saat sekarang ini. Mengenal bahasa daerah itu sangatlah penting, karena itulah salah satu warisan dari budaya kita.

Tidak hanya mengenal, melestarikan kembali dan meghidupkan kembali bahasa tersebut sudah menjadi kewajiban bagi kita semua. Marilah, kita adalah masyarakat bahasa tersebut. Banyak cara yang bisa kita lakukan, seperti : yang pertama, kenali bahasa ibu yang baik kepada anak-anak karena bagaimanapun juga mereka adalah generasi penerus masyarakat bahasa tersebut.

Yang kedua, seorang ibu harus memberi panutan yang baik terhdap anak. Seperti berbicara dengan penuh kasih dan saying sehingga selalu terjalin hubungan emosional yang baik. Yang ketiga, tidak peru merasa malu dengan bahasa yang ada.

Sebetulnya kita sebagai masyarakat bahasa perlu menanamkan kesadaran terhadap bahasa yang kita lontarkan tersebut. Budayakanlah bahasa, karena Minangkabau ini kaya akan bahasanya.

Sumber artikel dan photo : minangkabaunews.com

Leave a Reply