Tari Piring Adalah Persembahan untuk Dewa?

Tari Piring merupakan tari tradisional yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat. Seperti namanya, tarian ini menggunakan piring sebagai properti. Dilansir dari jurnal berjudul Tari Piring di Pandai Sikek, Sebuah Tinjauan Pewarisan karya Wirma Surya, hampir seluruh wilayah dataran tinggi Sumatera Barat memiliki Tari Piring.

“Tari Piring ini hampir sama pola dan gaya gerak, namun ada beberapa perbedaan yang menggambarkan karakteristik lingkungan masyarakat tempat Tari Piring itu berasal,” tulis Surya.

Sejarah Tari Piring Dilansir dari Tari-tarian Tradisional Nusantara karya Indrawati, Tari Piring dipercaya telah ada di Kepulauan Melayu lebih dari 800 tahun yang lalu. Tarian ini telah muncul di Sumatera Barat dan berkembang hingga ke zaman Sriwijaya.

Keberhasilan Majapahit dalam menaklukkan Sriwijaya membuat tari ini berkembang hingga ke negeri-negeri Melayu. Orang-orang Sriwijaya yang melarikan diri ke berbagai tempat membuat tarian ini akhirnya menyebar ke sejumlah wilayah lain.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Mengutip sumber lain berjudul Keanekaragaman Seni Tari Nusantara karya Dewi, menurut sejarahnya tari piring diciptakan untuk menunjukkan rasa syukur masyarakat kepada para dewa.

Rasa syukur tersebut diwujudkan dengan sajian makanan lezat yang dibawakan gadis-gadis cantik. “Namun, seiring masuknya Islam di daerah melayu, fungsi tarian piring pun tidak lagi ditujukan untuk persembahan bagi para dewa, tetapi ditunjukan untuk para raja dan pejabat,” jelas Dewi.

Dalam perkembangannya, tarian ini tak lagi hanya dinikmati oleh kalangan pejabat dan raja. Tari Piring kini dapat dinikmati semua kalangan masyarakat. Tarian ini juga biasa ditampilkan dalam acara pernikahan. Dalam konsep ini, pasangan pengantin dianggap sebagai raja dan ratu sehari.

Persebaran Tari Piring

Dilansir dari Laporan Penelitian Tari Sebagai Media Budaya: Suatu Penilaian Perkembangan di Minangkabau yang disusun Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Tari Piring merupakan salah satu tari dari Minangkabau yang persebarannya cukup luas.

Tari Piring, Tari Sewah, dan Gelombang disebut tak memiliki asal daerah spesifik. Tak satu pun daerah di Minangkabau yang dapat secara pasti disebut sebagai sumber lahirnya ketiga tari tersebut.

Tari Piring dari setiap daerah juga memiliki karakteristik dan ciri khas tersendiri. Ciri khas tersebut bisa berasal dari gerakannya atau pun jenis piring yang digunakan sebagai properti pertunnjukkan.

Musik pengiring dan pakaian Tari Piring

Menurut Indrawati, busana yang dikenakan penari dalam Tari Piring adalah baju Melayu. Tidak ada ketentuan khusus terkait warna. Penari bebas menentukan warna busana yang mereka kenakan. Akan tetapi, warna-warna terang seperti merah dan kuning sering menjadi pilihan.

Tari Piring biasa ditampilkan dengan iringan musik rebana dan gong. Pukulan gong dalam alunan musik tersebut menjadi pentik jarena menjadi panduan bagi penari untuk menentukan langkah dan gerak tari piringnya. Namun dalam keadaan tertentu, tari piring juga bisa diiringi oleh alat musik lain, seperti talempong dan gendang.

Leave a Reply