RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Tapaktuan, Kota Minangkabau Kedua di Pesisir Barat Aceh

Bagi kalangan masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat, Kota Tapaktuan tidak asing lagi ditelinga mereka. Jika bicara Tapaktuan, Ibukota Kabupaten Aceh Selatan mereka langsung merespon dengan ucapan “Urang Awak” yang artinya orang kita. Wajar saja jika mereka menganggap orang Tapaktuan itu bagian dari orang Minangkabau.

Sebab, bahasa keseharian di kota munggil ini sama persis dengan bahasa Minangkabau, cuma dialeknya saja yang berbeda, malah di beberapa Gampong (Desa) dalam Kabupaten Aceh, mereka masih mempertahankan dialek Minangkabau.

Alkisah, penduduk yang mendiami Kota Tapaktuan ini asal muasalnya merupakan perantauan dari Minangkabau, Sumatera Barat yang saat ini dikenal sebagai Suku Aneuk Jamee. Suku Aneuk Jamee ini adalah sebuah suku yang juga tersebar di beberapa kabupaten di sepanjang pesisir barat -selatan Aceh. Namun lebih dominan di Aceh Selatan.

Hasil penelusuran Serambi dari laman https://id.m.wikipedia.org, suku ini merupakan keturunan perantau Minangkabau yang bermigrasi ke Aceh dan telah berakulturasi dengan Suku Aceh. Mereka sudah mendiami beberapa kecamatan di wilayah barat – selatan Aceh sejak berabad-abad lalu.

Migrasi orang Minang ke pesisir barat Aceh telah berlangsung sejak abad ke-16, di mana ketika itu banyak dari saudagar Minang yang berdagang dengan Kesultanan Aceh. Selain berdagang banyak pula dari masyarakat Minang yang memperdalam ilmu agama ke Aceh.

Salah satunya ialah Syeikh Burhanuddin Ulakan, seorang ulama yang berasal dari Ulakan, Pariaman, Sumatra Barat. Syekh Burhanuddin pernah menimba ilmu di Aceh kepada Syekh Abdurrauf Singkil dari Singkil, Aceh, yang pernah menjadi murid dan penganut setia ajaran Syekh Ahmad al-Qusyasyi Madinah.

Oleh Syekh Ahmad keduanya diberi wewenang untuk menyebarkan agama Islam di daerahnya masing-masing. Gelombang migrasi berikutnya terjadi pada masa Perang Paderi. Di mana pada masa itu banyak dari masyarakat Minang yang menghindar dari pergolakan dan penjajahan Hindia Belanda.

Dalam percakapan sehari-hari, kelompok masyarakat ini menggunakan Bahasa Minangkabau dialek Aceh, atau yang dikenal dengan Bahasa Aneuk Jamee. Bahasa Jamee merupakan Bahasa Minangkabau yang telah menyerap beberapa unsur dan kosakata Bahasa Aceh.

Kini kebanyakan masyarakat Suku Aneuk Jamee, terutama yang mendiami kawasan yang didominasi oleh Suku Aceh, misalnya di Kabupaten Aceh Barat, umumnya juga menguasai dan menggunakan Bahasa Aceh sebagai bahasa pergaulan sehari-hari.

Sementara di kawasan dengan populasi yang lebih didominasi oleh suku Aneuk Jamee, seperti di beberapa kecamatan di Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya, bahasa Aneuk Jamee digunakan secara lebih luas

Leave a Reply