RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Tabuik Dihoyak Bengkel Seni Tradisional Minangkabau di Unand

Bengkel Seni Tradisional Minangkabau (BSTM) kembali menggelar acara ulang tahunnya yang ke 20 di pelataran parkir dekanat Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unand, Sabtu (28/9/2019) malam. Setiap tahun, BSTM menyuguhkan penampilan-penampilan yang spektakuler. BSTM merupakan salah satu wadah kesenian tradisi Minangkabau di kampus Unand.

Acara ulang tahun kali ini mengusung tema sejarah berdirinya BSTM, sekaligus taragak basuo dengan para pendiri BSTM yang dimeriahkan oleh berbagai penampilan dari komunitas atau kelompok kesenian yang ada di Sumatera Barat. Tema yang diusung bertujuan sebagai kilas balik pengenalan terhadap BSTM itu sendiri. Proses tahap “tumbuhnya” BSTM dari awal lahir hingga menempuh ke usia dewasa.

Bima selaku penanggung jawab dekorasi, sangat totalitas dalam mengonsep acara dengan Fadil selaku partnernya. Mulai dari instalasi yang diolah dari bambu menjadi sangkak ayam yang dipancang di tanah, rangkiang, gapura, logo BSTM, hingga lantai parkiran dekanat FIB ditabur dengan jerami berserak-serakkan yang jika dilihat sekilas seperti sawah usai dipanen. Berbagai penampilan disuguhkan di panggung

Salah satu dari sekian banyak penampilan yaitu “Gandang Tambua Massal” dan diiringi dengan “Hoyak Tabuik”. Pemain gandang tambua massal merupakan campuran dari komunitas-komunitas yang ikut serta dalam memeriahkan acara ulang tahun BSTM. Di antaranya Saraso Badunsanak, Studio Merah, Sarupa, Cermin, Sarueh Buni Bumi, Manata Tambua, Gauang Sapakaik, Teater Langkah, Kress, Ukos, Lpk, Metasinema, dan Komunitas Seni Fisip Unand.

Pola gandang tambua yang dimainkan yaitu pola gandang tambua yang berasal dari daerah Maninjau dan pola gandang tambua yang berasal dari daerah Pariaman. Awal pertunjukan gandang tambua dimulai, pemain dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok darek dengan kelompok pesisir. Kelompok darek berada di luar lingkup acara, sedangkan kelompok pesisir berada di dalam lingkup acara. Kelompok pesisir memainkan gandang tambua pola dari daerah Pariaman sebagai pembuka.

Kemudian tidak lama setelah itu menyahutlah gandang tambua kelompok darek dengan pola dari daerah Maninjau. Semua penonton terkejut dan melongo, karena tidak menyangka sebagian gandang tambua dimainkan di luar lingkup acara dan diarak sampai ke dalam lingkup acara. Sehingga menyatulah semua pemain tambua dalam lingkup acara dan membentuk lingkaran.

Pada saat gandang tambua dimainkan dengan pola yang sama antara kelompok darek dan kelompok pesisir, dua orang masuk ke dalam lingkaran mengarak dua miniatur tabuik dan menghoyaknya. Adrenalin pemain gandang tambua dan penonton semakin terpacu dan memuncak. Semua berjoget mendengar dan melihat aksi penampilan gandang tambua massal dan hoyak tabuik tersebut.

Tempo gandang tambua semakin kencang. Semua orang berdesak-desakkan mengerubungi tabuik. Geliat pemain gandang tambua seperti tengah kesurupan. Bahkan ada yang pingsan saat memainkan gandang tambua, karena saking heboh dan bersemangatnya menikmati, tak sadar daya tubuh telah mencapai batasnya.

“Saya tidak mengerti tentang penampilan-penampilan kesenian Minangkabau, tetapi saya juga ikut terhanyut dalam penampilan tersebut. Saya ingin belajar kesenian Minangkabau dan saya akan datang jika ada acara yang seperti ini lagi. Percuma saya jauh-jauh dari Jerman jika tidak belajar kesenian yang ada di Minangkabau.” Kata Omellychee salah seorang penonton berdarah Jerman saat diwawancarai pandangannya terhadap acara tersebut.

Tri Wahyuzal selaku ketua BSTM berharap ke depannya semakin bertambahnya usia BSTM semakin dewasanya karya-karya yang dilahirkan dan terus mengembangkan nilai-nilai tradisi dalam berkesenian, selamat ulang tahun BSTM.

Leave a Reply