RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Syekh Chatib Imam Masjid Al-Haram Mengingat Tanah Minangkabau

Ranah minang banyak menghasilkan ulama dan tokoh nasional bahkan internasional. Syekh Ahmad Chatib Al-Minangkabawi (1860-1916) merupakan ulama nusantara asal Minangkabau yang memiliki pengaruh besar di tanah Arab maupun di luar Arab. Meskipun tidak hidup di tanah air, pemikiran Syekh Chatib banyak tersebar di nusantara.

Syekh Chatib pernah menjadi imam dan khatib di Masjidil Haram Makkah. Di sana, dia mengajar ribuan ulama yang datang dari berbagai dunia, termasuk dari tanah kelahirannya sendiri. Beberapa murid Syekh Chatib dari Indonesia yaitu pendiri NU KH Hasyim Asy’ari dan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan.

Syekh Ahmad Chatib Al-Minangkabawi memiliki nama lengkap Ahmad Chatib bin Abdul Lathief bin Abdullah bin Kalan al-Minangkabawi al-Jawi. Beliau dilahirkan pada 26 Mei 1860 di rumah ibunya, Aminah di Kota Tuo, Minangkabau. Di kampung halamannya ini, Syekh Chatib menghabiskan waktu untuk menghafalkan Alquran dan belajar ilmu agama kepada ayahnya, Abdul Lathief.

Kendati eksis hingga wafat di tanah suci, namun ingatan Syekh Chatib terhadap kampung halamannya tak pernah terlupakan. Hal tersebut dia tuliskan dalam buku riwayatnya yang berjudul Al-Qaulu al-Nahif fi Bayani Tarjamah Tarikh Hayati Ahmad Chatib Ibni Abdil Lathief.

Dalam buku ini Syekh Chatib menceritakan tentang lingkungan dan keluarganya saat tinggal di Minangkabau. Melalui otobiografinya ini, syekh Chatib telah memperkenalkan daerah Minangkabau kepada murid-muridnya yang berasal dari berbagai negara.

Menurut Syekh Chatib, Minangkabau jika dibahasa-Arabkan berarti “ghalabatul jamus”, yang artinya kerbau yang menang. Menurut Syekh Chatib, nama daerah itu muncul karena dulu terdapat kebiasaan mengadu kerbau pada hari-hari tertentu.

Kemudian, datanglah seorang raja dari Jawa membawa kerbau yang besar untuk diadu dengan kerbau dari raja negeri tersebut. Untuk menghadapi kerbau besar itu, raja negeri itu hanya membawa kerbau yang kecil.

Kendati demikian, ternyata adu kerbau bisa dimenangkan kerbau kecil milik raja negeri tersebut. Sejak itulah negeri itu dinamakan Minangkabau, sedangkan ibu kotanya bernama Pagaruyung.

Sementara itu, cerita yang beredar di masyarakat, kerbau kecil dari Minangkabau itu diberi tanduk dari besi dan sedang sangat kehausan karena sengaja dipisahkan dari induknya. Setelah diadu, kerbau kecil itupun mengira kerbau besar dari Majapahit itu adalah induknya. Kerbau kecil itu pun langsung mencari tetek susu kerbau besar, sehingga tanduk besinya menusuk-nusuk perut kerbau besar itu hingga robek.

Dalam otobiografinya ini, Syekh Chatib juga menjelaskan secara rinci lokasi Minangkabau. Beliau tampaknya menyadari bahwa yang akan membaca tulisannya adalah umat Islam dari berbagai negara.

Dia menjelaskan bahwa Minangkabau merupakan bagian dari Indonesia yang terletak di Pulau Sumatera bagian Barat. Menurut dia, Minangkabau terletak di 0′-20′ BT tenggara dan garis lintang 69′ dari Kairo, Mesir.

Leave a Reply