Sumatra Barat Menjadi Tempat Pertama Lahirnya Surat Kabar Islam di Indonesia

Media massa atau penerbitan yang menyuarakan aspirasi umat Islam dan berfungsi sebagai media dakwah pertama di Indonesia muncul pada 1911. Media Islam tertua di Tanah Air itu bernama majalah Al-Munir.

Awal majalah Al-Munir terbit di Kota Padang, Sumatra Barat. Media Islam itu tak mampu bertahan lama. Pada 1915, majalah yang terbit setiap Sabtu tersebut tak lagi terbit. Majalah dakwah itu dikelola oleh para ulama di Minangkabau dan dipimpin oleh Abdullah Ahmad, murid Syekh Ahmad Khatib Minangkabau.

Al-Munir merupakan media usaha orang-orang alim dan menjadi media gerakan kaum muda di Minangkabau. Sejumlah tokoh dan ulama Minangkabau bergabung menjadi pengelola majalah itu. Mereka, antara lain: Haji Marah Muhammad bin Abdul Hamid, Haji Abdul Karim Amrullah Danau, Haji Sultan Jalaluddin AbuBakar, Sutan Lembak Tuah, Haji Muhammad Thaib Umar Batusangkar, dan Sutan Muhammad Salim-ayah Agus Salim.

Beberapa tokoh dan ulama Minangkabau itu bersatu dalam sebuah wadah bernama Syarikat Ilmu. Lewat lembaga itulah mereka menerbitkan majalah Al-Munir. Oplah majalah itu hanya 1.000 eksemplar. Namun, sebaran dan distribusi majalah itu menjangkau Jawa dan Semenanjung Malaysia.

Meski beroplah kecil, majalah Al-Munir yang menggunakan bahasa Melayu dan huruf Jawa itu terdiri atas berbagai rubrik. Ada artikel yang membahas masalah-masalah agama, forum tanya-jawab atau konsultasi keagamaan terkait fikih, serta kronik dunia Islam yang disadur dari media-media yang terbit di Timur Tengah.

“Sehingga, majalah ini sudah bisa disebut karya jurnalistik meskipun oplahnya kecil,” tulis Ensiklopedi Islam. Al-Munir hadir karena terinspirasi oleh majalah Al-Imam yang terbit di Singapura. Sebab, terdapat kesamaan dari sisi isi dan pengelolaan antara kedua majalah itu.

Terbit pada 1906. Al-Munir, media yang terbit di Singapura di bawah pimpinan Syekh Taher Jalaluddin itu juga berumur pendek: hanya dua tahun. Al-Imam juga ternyata mendapat pengaruh atau inspirasi dari majalah Al-Manar yang diterbitkan Muhammad Rasyid Rida di Mesir pada 1898.

Edisi terakhir majalah Al-Munir terbit pada 15 Rabiul Awal 1333/31 atau Januari 1915 M. Dalam edisi terakhir itu, terdapat artikel bertajuk “Khatama” yang berisi pemberitahuan bahwa majalah itu tak akan terbit lagi. Masyarakat Islam dianjurkan untuk terus menambah ilmunya dengan rajin membaca.

Tiga tahun setelah Al-Munir tutup, Sumatra Thawalib pada 1918 menerbitkan majalah dengan nama Al-Munir Al-Manar, menggabungkan dua nama majalah Islam. Majalah itu kerap disebut Al-Munir Padangpanjang karena terbit di Kota Padangpanjang.

Majalah yang dipimpin oleh Zainuddin Labay El-Yunusy, seorang anak muda yang cerdas, itu diterbitkan atas anjuran Haji Abdullah Karim Amrullah. Dibanding Al-Munir Minangkabau, usia majalah ini lebih panjang dua tahun. Di usianya yang keenam, majalah Al-Munir Padangpanjang tutup tepat pada 1924. Majalah itu tak terbit lagi setelah Zainuddin Labay tutup usia.

Pascatutupnya majalah Al-Munir Padangpanjang, media Islam lainnya mulai bermunculan. Sejumlah ulama kemudian menerbitkan majalah Al-bayan dan Al-Itqan. Ulama dan cendekiawan Muslim terkemuka, Dr Haji Abdul Karim Amrullah, juga menerbitkan majalah Al-Basyir. Lagi-lagi, majalah itu tak mampu bertahan lama.

Kota-kota di Sumatra Barat boleh dibilang menjadi perintis media-media Islam di Indonesia. Pada 1923 M, di Bukittinggi juga terbit sebuah majalah Dunia Akhirat yang dipimpin oleh Sain al-Maliki. Lagi-lagi, majalah ini hanya mampu bertahan dalam waktu yang singkat: tiga tahun.

Di Payakumbuh, Sumatra Barat, juga terbit majalah Al-Imam. Penerbitnya adalah ulama golongan tua. Syekh Haji Abbas Padang Japang menjadi pimpinan majalah yang juga tak mampu bertahan lama tersebut. Lalu, mengapa majalah-majalah Islam pada era itu tak mampu bertahan lama?

Ada sejumlah faktor yang membuat media Islam yang terbit di kota-kota Sumatra Barat itu berusia pendek. Kekurangan dana, tidak dikelola secara profesional, hanya dimaksudkan sebagai media dakwah, dan tak dimaksudkan sebagai lembaga bisnis merupakan faktor utama yang membuat majalah Islam itu tak mampu bertahan lama.

Meski kekurangan dana, media Islam terus bertumbuhan di Sumatra Barat. Di Padang juga muncul majalah Islam lainnya, seperti Medan Rakyat, Matahari Islam, dan Tafsir Quran. Bagaimana dengan di daerah lainnya? Di Pulau Jawa dan Kalimantan juga banyak bermunculan majalah Islam.

Di Pulau Jawa, Muhammadiyah, ormas Islam yang berdiri pada 1912, menerbitkan Penyiar Islam, Pancaran Amal, Suara Muhammadiyah, Almanak Muhammadiyah, dan Suara Aisyiyah. Di Kota Bandung juga terbit majalah Pembangkit, Al-Hidayah, dan Aliran Muda.

Persatuan Islam (Persis), ormas Islam yang berpusat di Bandung pada 1923, menerbitkan Al-Lisan dan Al-Fatwaa. Keduanya ditulis dalam huruf Arab berbahasa Melayu. Persis juga menerbitkan majalah berbahasa Sunda, yakni at-Taqwa. Ormas itu juga menerbitkan majalah Pembela Islam.

Ormas Islam lainnya, yakni Pelajar Islam Indonesia (PII), juga menerbitkan Islam Bergerak. Di Kota Surabaya hadir majalah Al-Jihad, Al-Islam, dan Berita NU yang diterbitkan Nahdlatul Ulama. Seakan tak ingin ketinggalan, Peranakan Arab Indonesia juga menerbitkan Aliran Baru. Di Kota Samarinda terbit Persatuan. Di Banjarmasin hadir Pelita Islam. Di Barabai ada Hikmatul Baliqah. Di Madura terbit majalah Al-Islah dan di Ambon terbit majalah Suisma.

Medan juga menjadi kota terpenting dalam penerbitan media massa Islam pada zaman sebelum Perang Dunia II. Di Kota Medan terbit majalah Suluh Islam yang dipelopori oleh Abdul Wahid serta KH Abdul Madjid Abdullah. PB Al-Wasliyah menerbitkan Medan Islam.

Ormas Islam lainnya di Medan, Al-Ittihadiyah, menerbitkan Al-Hidayah. Media lainnya yang terbit di ibu kota Sumatra Utara itu, antara lain; Dewan Islam, Menara Putri oleh HR Rasuna Said, serta Sinar oleh H Bakri dan Bakhtiar Yunus.

Selain itu, ada pula majalah yang lebih besar bernama Pedoman Masyarakat yang diterbitkan oleh Buya Hamka dan Mohammad Yunan Nasution. Di Medan juga hadir Panji Islam yang dikelola oleh Zainal Abidin Ahmad. Kedua majalah itu tercatat sebagai yang terbesar di Medan pada masa itu.

Memasuki zaman penjajahan Jepang, semua penerbitan dan media dibekukan. Panji Masyarakat tercatat sebagai majalah Islam tertua, paling besar, dan berpengaruh di antara media yang disebarkan untuk umum. Majalah itu berdiri pada 15 Juni 1959 oleh KH Fakih Usman (tokoh Muhammadiyah), Hamka, dan Yusuf Abdullah Puar. Sumber

Leave a Reply