Sosok Pembaharu Sekolah Agama dan Bahasa Khutbah di Sumbar

Pengenalan pertama memakai model pembelajaran modern di sekolah agama di Sumatera Barat (Sumbar) adalah Syaikh Muhammad Thaib Umar yang tergolong fenomenal.

Meskipun tak berjalan mulus di awalnya, langkah yang diambilnya cukup progresif. Hal lain, dia juga yang memelopori penggunaan bahasa Indonesia pada penyampaian khutbah Jum’at dan khutbah Hari Raya.

Muhammad Thaib Umar lahir Sungayang, Batusangkar, Sumatera Barat, pada 1874. Ayahnya bernama Umar bin Abdul Kadir, seorang terkenal di saat itu. Di masa kecilnya, Thaib Umar belajar agama kepada sang ayah. Kemudian, sejak usia 9 tahun, dia belajar dengan berpindah-pindah dari satu surau ke surau lainnya di sekitar dia tinggal.

Thaib Umar dikenal cerdas. Terkait itu, sang ayah mengingini Thaib Umar -yang pada waktu itu usianya belum 20 tahun- bisa menuntut ilmu di Tanah Suci. Maka, pada 1892 mereka berdua pergi ke Mekkah, untuk berhaji.

Setelah berhaji, Thaib Umar menetap di Mekkah sekitar 5 tahun untuk belajar. Di sana, dia berguru kepada banyak ulama dan salah satunya adalah Syaikh Ahmad Khatib al-Minagkabawi (ulama Indonesia asal Minangkabau yang memiliki hak untuk mengajar di Masjidil Haram). Thaib Umar tergolong sebagai salah satu murid senior dari Syaikh Ahmad Khatib al-Minagkabawi.

Pada 1897 Thaib Umar pulang ke Indonesia. Dia lalu membuka pengajian di surau milik sang ayah di Batu Bayang Sungayang Batusangkar. Jumlah santrinya terus meningkat. Untuk pengembangan, dia yang waktu itu baru berusia 23 tahun, lalu membangun surau sendiri di Tanjung Pauh, Sungayang Batusangkar. Jika melihat usianya, maka hal itu tergolong sangat muda untuk ukuran rata-rata pemimpin sebuah surau atau pesantren.

Surau tersebut cepat berkembang pesat. Santrinya terus meningkat dan tak hanya berasal dari sekitar Batusangkar saja, tapi juga dari kota-kota lain seperti Bukittinggi, Padang Panjang, Payakumbuh, Solok, dan lain-lain.

Sejumlah pembaharuan dilakukannya pada sistem dan jumlah mata pelajaran agama. Sebelumnya, pelajaran ilmu agama dan bahasa Arab ada empat macam ilmu, yakni nahwu, sharaf, fikih, dan tafsir. Hal itu lalu diperbaharui Thaib Umar menjadi 12 macam ilmu yaitu nahwu, sharaf, fikih, ushul fiqh, tafsir, hadis, musthalah hadis, tauhid, mantiq, ma’ani, bayan, dan juga ilmu badi’.

Pada 1909, Thaib Umar mendirikan madrasah (tak lagi surau) di Batusangkar. Namun, tak lama, madrasah tersebut pengelolaannya diserahkan kapada guru-guru yang ada.

Thaib Umar lalu mendirikan madrasah lagi di Sungayang Batusangkar dan diberi nama Madras School. Dari segi nama, tampak bahwa model pendidikan yang dipakai agar berbeda dari yang biasa diselenggarakan di surau atau pesantren. Di dalamnya ada pembaharuan. Para santri tak lagi duduk bersila melingkari sang guru (model halaqah). Tapi, santri duduk berjajar di kursi masing-masing. Ada meja dan ada pula papan tulis. Sekolah ini bisa dikatakan merupakan sekolah agama modern pertama di Sumatera Barat yang menggunakan kursi dan meja dalam kegiatan pembelajarannya. Disebut modern karena tak lagi tradisional seperti yang biasa ada di surau.

Mata pelajaran yang diberikan juga bertambah dari yang selama ini telah dijalankan. Di samping ilmu-ilmu agama, seperti nahwu, sharaf, muhadatsah, dan imla, pelajaran juga ditambah dengan ilmu umum seperti berhitung dan aljabar.

Tapi yang sering terjadi di banyak tempat, perubahan itu dianggap terlalu modern untuk masyarakat Minangkabau ketika itu. Akibatnya, lembaga pendidikan itu hanya bertahan kurang dari empat tahun. Pada 1914 Thaib Umar menutup madrasah modernnya karena para murid kembali ke model surau. Thaib Umar pun kembali ke model semula, halaqah.

Kecuali lewat pendidikan formal, Thaib Umar juga aktif dalam kegiatan dakwah kepada masyarakat umum. Di antara pilihan bentuk dakwahnya adalah lewat tulisan.

Pada 1914, Thaib Umar Syaikh Abdul Karim Amrullah dan Syaikh Jamil Jambek aktif berdakwah lewat majalahh Al-Munir. Lewat majalah yang dipimpin H. Abdullah Ahmad itu, Thaib Umar kerap menyampaikan pandangan-pandangan barunya. Dengan nada optimis Thaib Umar kerap mengajak umat Islam, khususnya generasi muda, agar mempelajari ilmu pengetahuan umum. Menurut dia, maju dan berhasilnya bangsa Barat lantaran mereka mempelajari ilmu dunia, sesuatu yang diperlukan untuk hidup di dunia. Thaib Umar tidak menyukai kebiasaan sebagian kalangan yang hanya mementingkan pelajaran ilmu fikih saja.

Memang, keberadaan Al-Munir selaras dengan langkah Thaib Umar selama ini. Lihatlah, Al-Munir bertujuan untuk memperoleh agama Islam yang sejati serta menegakkan syariat Nabi Muhammad Saw yang benar dengan dorongan menghidupkan kembali tradisi Nabi Saw dan mengutuk bid’ah dalam praktik ibadah umat Islam. Lebih dari itu, Al-Munir juga bersuara keras kepada pemerintah kolonial Belanda.

Thaib Umar terus berdakwah. Pada 1918 di Masjid Lantai Batusangkar dia melakukan pembaharuan yang lain. Dia memelopori penggunaan bahasa Indonesia di saat menyampaikan khutbah Jumat dan khutbah Hari Raya.

Langkah ini jelas tergolong maju, sebab sebelumnya khutbah Jumat dan khutbah Hari Raya disampaikan dengan bahasa Arab sekalipun tak ada jaminan si pendengar mengerti atau tidak. Terkait perubahan ini, Thaib Umar lalu dikecam oleh ulama-ulama tradisional. Tapi, dia tak surut. Dia kuat memegang pendirian.

Lebih jauh lagi, Thaib Umar menjadi ulama pertama yang menulis buku khutbah Jumat dan khutbah Hari Raya dalam bahasa Indonesia. Pada 1918 buku itu dicetak dan disebarkan ke seluruh Minangkabau.

Pada 22 Juli 1920, Syaikh Muhammad Thaib Umar, ulama peletak dasar pembaharuan pendidikan agama di Sumatera Barat, wafat di Batusangkar. Meski meninggal ketika masih berusia muda -yaitu tak sampai berumur 50 tahun- tapi jejak amal shalihnya insya Allah sudak cukup panjang. Jejak itu patut untuk diteladani oleh semua lapisan usia.

Sumber Artikel dan Photo : LADUNI.ID

Leave a Reply