RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Situs Perdamaian ‘Batu Batikam’ Nenek Moyang Minangkabau

Cerita Minangkabau masa lalu seperti mengulas metahistory—sejarah yang di dalamnya sarat dengan nuansa mitologi dan cerita-cerita metafisik.

Hal itu membuat Minangkabau menjadi sebuah wilayah yang unik dan menarik untuk dikunjungi. Di sana, ada banyak sekali jejak-jejak mitologi yang masih dapat dinikmati hingga hari ini.

Salah satunya adalah Batu Batikam di Limo Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Batu Batikam, atau batu yang ditikam, merupakan sebuah batu yang berada di atas susunan batu, berbentuk hampir seperti segitiga terbalik.

Jenis batuannya adalah andesit keras dengan lubang pipih menembus batu di bagian atasnya. Lubang itu memang mirip bekas tikaman senjata tajam. Batu ini berukuran tinggi 55 centimeter (cm), tebal 20 cm, dan lebar 45 cm.

Tikaman Perdamaian
Menurut kepercayaan, batu itu ditikam oleh nenek moyang orang Minangkabau yang tengah bersiteru perihal adat, yakni Datuk Parpatiah Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan.

Perseteruan itu berujung pada kedamaian dengan menikamkan keris pada sebuah batu. Wujud dari kedamaian itu pula, sistem kekerabatan berdasarkan garis keturunan ibu di Minangkabau menjadi warisan budaya dari kedua tokoh tersebut.

Situs Batu Batikam berada pada area seluas 1.800 meter persegi di Kabupaten Tanah Datar. Sekeliling situs itu dipagar dan dirawat serta ditanami tanaman perdu sebagai hiasan.

Dulu, menurut riwayatnya, situs ini merupakan sebuah area gelanggang berbentuk batu segi panjang tempat tetua adat dan masyarakat berkumpul untuk bermusyawarah. Masyarakat kemudian menamakannya sebagai medan nan bapaneh.

Hari ini, medan nan bapaneh tidak lagi tampak. Namun, jejak masa lalu tersebut tampak tidak hanya dari situs Batu Batikam itu saja. Sebuah pohon beringin besar yang tampaknya sudah berumur ratusan tahun tampak seperti menaungi situs tersebut. Hal itu membuat suasana terasa sangat berbeda ketika berada di dalam area situs tersebut.

Akan tetapi hal inilah yang justru membuat situs tersebut menjadi sangat layak dikunjungi. Aura mistis dan suasana yang membuat bulu kuduk berdiri ketika berada di area situs itu menjadi salah satu daya tarik untuk wisatawan yang ingin merasakan romansa kekayaan budaya Minangkabau yang sarat dengan mitologi.

Leave a Reply