Situjuah Batua Malewa Galakan 47 Datuak

47 calon niniak-mamak sedang menunggu waktu dilewakan, 47 calon niniak-mamak menunggu tepat sebelah kantor wali nagari plus lembaga kerapatan adat, mereka berasal dari kawasan Situjuah Batua, Kecamatan Situjah Limo Nagari, Limapuluh Kota.

Dengan menggunakan baju dan celana hitam semi gembrong, keris, sawek dan sisampiang, para calon Datuak ini terlihat berwibawa dengan penutup kepala bernama, saluak. Sambil memegang tungkek di tangan kanan, mereka duduk rapi di hadapan ratusan tamu undangan.

Kegiatan yang dikemas para tokoh adat serta Wali Nagari Situjuah Batua, Don Vesky Datuak Tan Marajo ini, Daulat Nan Dipertuan Rajo Pagaruyuang bersama permaisuri, serta Rajo Diluak.

Acara dijaga ketat para dubalang, ratusan masyarakat menumpuk bak lautan manusia. Ya, tepat Senin, 13 Januari 2020 siang pukul 11.00 WIB, sesuai jadwal yang sudah dirancang panitia, puluhan calon pemimpin kaum di Situjuah Batua akan dilewa sembari diambil sumpah. Tradisi adat Minangkabau ini lazim disebut batagak panghulu.

Dari ke 47 yang akan dilewa rata-rata ialah pewaris gelar yang sebelumnya ditinggalkan niniak mamak terdahulu. Terdiri dari 11 orang mangulipah, 29 orang mangambang nan talipek, 6 orang mangguntiang baju dan 1 orang manggungguang mambao tabang.

Pandangan tokoh adat yang juga ketua panitia, Datuak Paduko Sindo, mangulipah atau hidup bakurelaan adalah melanjutkan tanggung jawab panghul yang masih hidup tapi diserahkan kepada yang lebih mampu. Sementara mangambang nan talipek, ialah menggantikan gelar adat yang pemiliknya sudah meninggal dunia.

“Mangguntiang baju adalah gelar adat baru, sementara manggungguang mambao tabang, adalah gelar adat yang diberikan kepada satu kelompok atau suku yang telah lama menetap di Nagari Situjuah Batua,” ujarnya.

Di kampung para pahlawan tersebut, baru kali ini ritual sebesar itu dilaksanakan. Sebelum diambil sumpah oleh pucuak adat Situjuah Batua, para calon datuak terlebih dahulu mendengarkan sambutan pepatah-petitih adat.

Para perempuan dengan pakaian khas bundo kanduangnya juga tak kalah antusias. Akhirnya, penantian malewa gala pimpinan adat segera tiba. Mereka dilewakan ka nan rami, bia basuluah mato ari, bagalanggang mato urang banyak.

Nantinya, calon niniak mamak dengan gelar adatnya dipanggil satu-persatu, kemudian para perwakilan dipasangi saluak dan keris. Ini pertanda beban tanggung jawab yang cukup berat itu telah melekat pada diri seorang pemimpin.

Mereka disumpah menjaga kebaikan bagi anak- kemenakan di dalam kaum atau nagari. Sumpah dipandu pucuak adat Situjuah Batua di bawah Kitab Suci Al Quran. Jelang suara azan Zuhur berkumandang, gelar datuak pada 47 niniak-mamak itu sudah resmi melekat.

Ketek banamo, gadang bagala. Sekarang mereka sudah bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, dengan para niniak mamak lain di Situjuah Batua. Orang-orang kampung pun mulai memanggilnya Datuak.

Wali Nagari Situjuah Batua Don Vesky Dt Tan Marajo mengatakan, pengukuhan 47 gelar adat di Situjuah Batua diinisiasi anak nagari dan perantau setempat. Pengambilan sumpah dipimpin langsung pucuak adat Datuak Marajo Kayo.

Selain itu, ada dua agenda lain yang dilaksanakan di festival yang digelar sejak 12 Januari hingga 20 Januari mendatang. Sehari sebelumnya, dilaksanakan arak-iriang salah satu tradisi adat yang dilakukan perantau dan masyarakat.

“Agenda terakhir, peringatan peristiwa Situjuah ke-71, yang bakal berlangsung sepanjang Rabu (15/1),” sebut DV Datuak Tan Marajo.

Turut hadir dalam prosesi batagak panghulu tersebut Bupati Lima Puluh Kota, Irfendi Arbi, Wakil Bupati Ferizal Ridwan, Ketua DPRD Deni Asra, Walikota Payakumbuh Riza Felepi hingga Anggota Hakim Agung asal Situjuah Batua.

Sumber Artikel dan photo : minangkabaunews.com

Leave a Reply