RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Silek Arts Festival 2019, Sutradara Arief Malinmudo Berbagi Pengalaman Estetis

SILEK Arts Festival 2019 resmi dibuka, dan pada hari Rabu (21/8/2019) bertempat di auditorium Museum Adityawarman, dilaksanakan dialog spesial terkait silat dalam bingkai film, kali ini penyelenggara Silek Arts Festival mengundang sutradara muda Indonesia, Arief Malinmudo yang lebih awal merilis filmnya berjudul Surau dan Silek pada tahun 2017 lalu.

Dialog interaktif ini diharapkan dapat menjadi sarana memperkaya literasi dan pemahaman masyarakat yang hadir dengan menggali penafsiran Arief Malinmudo terhadap silek yang kemudian ia bingkai dalam sebuah film. Peserta yang hadir datang dari beragam profesi, seperti komunitas film mahasiswa, penggiat film animasi, dan ada juga penulis novel, serta penggiat budaya.

Dialog ini dipandu oleh budayawan Sumatera Barat, Bung Edy Utama. Berbeda dengan dialog pada umumnya, Edy Utama memandu dialog dengan diawali pertanyaan dari audiens. Salah satu peserta dialog memulai dengan bertanya pendapat Arief Malinmudo perihal silek aliran apa yang paling tepat dianggap sebagai silek awal mula di Minangkabau untuk diajarkan pada anak- anak? Apakah silek tuo, silek harimau, kumango dan sebagainya.

Menurut Arief Malinmudo, saat ini sebaiknya kita tidak terjebak dengan status silek apa yang lebih awal, silek mana yang lebih dekat dengan masyarakat, atau silek mana yang lebih mempunyai hakikat yang lebih tinggi, Arief menegaskan, yang terpenting adalah silek- silek yang diajarkan di muatan lokal atau ekstrakulikuler sekolah itu adalah silek yang masih bersandar pada falsafah silek Minangkabau yang sesungguhnya bahwa ; lahia silek mancari kawan, bathin silek mancari Tuhan. Artinya selama tidak ada unsur syirik, khurafat, taklik tak berdasar terhadap guru, serta tetap menjadikan silek sebagai salah satu pembentuk kepribadian , silek apapun boleh boleh saja diajarkan, makin variatif, justru makin baik.
.
Diskusi yang berlangsung lebih kurang 2 jam tersebut makin sore semakin seru, karena turut hadir kepada Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar Dra, Gemala Ranti, M.Si, Direktur Silek Arts Festival Ediwar, M.Hum., Ph.D serta kepala Museum Adityawarman.

Gemala Ranti juga ambil bagian pada sesi dialog, Gemala mengapresiasi prestasi serta dedikasi Arief Malinmudo terhadap budaya Minangkabau, yang telah mengantarkan nilai – nilai kearifan lokal kepada masyarakat dunia lewat film.
.
Para peserta tampak antusias bertanya seputar pengembangan ide cerita, bagaimana cara mempresentasikan gagasan karya dan bagaimana melihat potensi yang ada disekitar. Dialog yang santai tersebut juga tampaknya membuat Arief Malinmudo juga enjoy berbagi pengalaman pada para sineas – sineas yang hadir tentang bagaimana mengelola potensi yang dimiliki, mulai dari sumber daya cerita, alam, serta bagaimana menemukan partner yang satu visi dalam menciptakan sebuah karya.

Leave a Reply