RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Sherli Zulfita Anggota Tim Medis SAR Padang, Takut Melihat Mayat

Sherli Zulfita wanita kelahiran Bukittinggi 11 Maret 1983 menjadi anggota SAR Padang selama 12 tahun bagian medis. Merupakan lulusan D3 Keperawatan, Ibu 2 anak ini meniti karir mulai 2007 mendaftar menjadi anggota SAR dan lolos.

Keinginan Sherli yang awalnya bercita-cita bekerja di rumah sakit hilang seketika.

“Dulu saya sudah daftar ke rumah sakit tapi tidak diterima. Coba-coba tes di SAR dan ternyata lulus. Padahal tidak tahu kerja SAR itu apa,” katanya pada Tribunpadang.com, Kamis (14/3/2019) lalu.

Wanita dengan tinggi badan 165 cm ini mengaku sangat kesulitan jika harus melakukan penyelamatan di hutan dan bertemu binatang buas seperti beruang.

Tak hanya itu ia juga menambahkan harus melakukan tugas turun tebing dengan tali layaknya laki-laki.

“Seperi Ninja Hatori, mandaki gunung lewati lembah. Paling susah itu, harus turun tebing seperti laki-laki,” gelaknya.

Saat latihan menjadi anggota SAR, Sherli dan 7 orang temannya dari berbagai kota yang sama perempuan, melakukan latihan semi militer.

Tidak ada perbedaan antara latihan yang dilakukan laki-laki dan latihan yang dilakukan perempuan.

Tahun 2009 adalah tugas pertamanya langsung ke lapangan.
Hanya Sherli yang perempuan dan paling takut jika melihat mayat.

Tak hanya takut melihat mayat, ia juga takut jika perjalanan menuju lokasi kejadian tidak lancar.

Di ruang kerjanya, ia bercerita bahwa ia pernah menangis saat tugas di Pasaman karena medan perjalanan yang harus dilalui.

“Di Pasaman saya nangis karena mobil yang mengangkut kami harus lewat 2 lembar papan dan itu sudah berlobang. Saya juga takut melihat mayat kadang suka terbawa mimpi,” kata Sherli.

Walaupun tidak ikut dalam tugas penyelamatan korban hanya menunggu di base Sherli mengaku kadang kerepotan jika ada anggota SAR yang terluka.

Karena tim medis hanya dirinya sendiri.
Disaat yang lain Sherli sempat terpikirkan untuk berhenti bekerja karena merasa jemu dengan banyaknya musibah yang datang.

Namun, lagi-lagi ia mengubur niatnya itu karena mempunyai teman-teman dan anak-anaknya yang mendukung setiap pencapaian yang ada di hidupnya.

“Kadang terpikir ingin berhenti, anak-anak komplain kenapa belum pulang padahal sudah saatnya libur. Tapi balik lagi, di samping itu anak-anak saya mendukung kerjaan Ibunya,” senyum Sherli.

Anak-anaknya yang berumur 4 dan 6 tahun sangat antusias jika mendengar cerita Sherli saat melakukan aksi penyelamatan.

Sherli sebagai tim medis kadang suka lupa jika dirinya juga terluka saat penyelamatan.

“Paling sering itu luka, tapi tidak sadar kalau ada yang luka. Nanti pas di rumah atau di kantor baru sadar kalau saya juga ikutan luka,” kenangnya.

Ia mengatakan sangat bangga bekerja menjadi SAR, apalagi jika saat penyelamatan korban masih hidup.

Hal tersebut menambah rasa bangga pada dirinya, walaupun sebenarnya ia dan tim lainnya mengantarkan nyawa sendiri.

Ia juga menghimbau pada masyarakat agar tidak sungkan untuk menginformasikan pada SAR Padang jika terjadi musibah karena SAR tidak memungut biaya.

“Saya sangat bangga, sebenarnya kita mengantarkan nyawa juga saat penyelamatan. Tapi kita tidak hiraukan. Paling penting adalah korban selamat, walaupun tidak semuanya. Saya juga berharap agar masyarakat tidak sungkan minta tolong pada kami karena kami tidak minta bayaran,” tutupnya.

Sumber artikel dan photo : Tribunpadang.com

Leave a Reply