Sejarah Minangkabau yang Terpendam

Sebuah negara yang maju adalah negara yang mengenal sejarah bangsanya dan memahami jejak rekam sejarahnya. Rekaman sejarah bangsa memang banyak sekali tertulis dalam manuskrip atau naskah kuno. Maka wajar sebuah manuskrip dijadikan sebagai objek pemajuan kebudayaan suatu bangsa. Terdapat banyak aspek pengetahuan yang terkandung dalam sebuah manuskrip.

Kesejarahan dapat dilihat dari adat istiadat, seni, juga bahasa dan sastra. Maka menjadi sangat penting bagi manuskrip itu untuk terus diselamatkan, dikaji bahkan disebarluaskan. Rekaman sejarah bangsa banyak tertuang dalam sumber sejarah berupa naskah-naskah kuno hasil tulisan tangan. Dalam ilmu Filologi sumber sejarah tertulis ini disebut manuskrip..

Manuskrip Minangkabau Sumatera Barat dikenal memiliki banyak sekali manuskrip. Jumlahnya bahkan tidak terdata. Sebagian besar manuskrip Minangkabau ada di sejumlah surau tarekat yang tersebar di wilayah Sumatera Barat. Dahulu manuskrip menjadi sebuah tradisi di kalangan para ulama Minangkabau.

Melalui tradisi intelektual inilah mereka menuliskan semua yang telah mereka pelajari, lengkap dengan sumbernya. Ini juga menjadi alasan kenapa surau banyak mengkoleksi manuskrip. Rata-rata manuskrip Minangkabau bertuliskan bahasa Arab dan Arab Jawi atau Arab Melayu.

Manuskrip yang tertinggal di Sumatera Barat kebanyakan bercerita soal agama, sebab manuskrip tentang pengobatan, teknologi, cacatan sejarah lokal dan konten lainnya diperjualbelikan oleh kolektor asing. Ini dianggap lebih menarik dan sejarah kita pun tercecer hingga ke negara mereka hingga tanpa sempat dikaji terlebih dahulu.

Praktik jual beli manuskrip memang sudah ada sejak tahun 1980. Hal ini terjadi karena banyak manuskrip di Sumatera Barat yang kepemilikannya bersifat pribadi. Ada pula beberapa pemilik naskah yang mengkeramatkan manuskrip, disimpan di tempat tersembunyi hingga akhirnya menjadi kendala bagi para filolog untuk meneliti naskah.

Maka diantara upaya yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan dan menyebarluaskan manuskrip Minangkabau adalah dengan upaya digitalisasi manuskrip. Hingga kini upaya digitalisasi naskah-naskah Minangkabau sudah mencapai angka 800an manuskrip.

Kalau diakumulasikan lebih dari 15 ribu gambar naskah yang sudah digitalkan dari naskah-naskah yang dikoleksi secara pribadi di tengah masyarakat. Sayangnya, digitalisasi itu hanya sebagai penyelamatan isinya, sementara fisik naskah masih sangat jarang disentuh.

Minangkabau Corner Di Sumatera Barat terdapat sebuah pusat informasi keminangkabauan dari masa lalu hingga masa kini yang dikenal dengan Minangkabau Corner. Selain mengumpulkan informasi, ada pula upaya pelestarian, penyelamatan, pengkajian, serta pengembangan manuskrip. Tidak hanya manuskrip kuno.

Ada pula foto, tambo, buku, hingga dokumen sejarah penting lainnya yang dikumpulkan di Minangkabau Corner. Dengan harapan ini bisa menjadi pusat kajian studi dan sumber literatur bagi dunia pendidikan.

Pramono mengatakan bahwa sejak 1998, ia sudah aktif mengumpulkan, mengkaji, dan menyelamatkan manuskrip. Koleksi yang sudah ia kumpulkan di Minangkabau Corner berkisar dari abad ke-18 hingga abad ke -20. Diluar sana terdapat banyak manuskrip yang rusak.

Ada pula yang sudah mendekati kerusakan karena faktor usia naskah dan lingkungan tempat penyimpanannya. Maka ada dua bentuk preservasi yang dilakukan di tempat ini yakni digitalisasi untuk penyelamatan isi naskah dan konservasi untuk penyelamatan fisik naskah.

Dibantu oleh beberapa pihak, Minangkabau Corner saat ini sudah mendigitalisasikan 800 manuskrip dan 400an naskah sudah diselamatkan fisiknya. Kutub Chanah dan Trio Amrullah Situs kedua yang terdapat di Sumatera Barat adalah Kutub Chanah. Kata Chanah berasal dari bahasa Turki yang artinya perpustakaan sekaligus tempat menulis.

Situs ini sangat erat kaitannya dengan tiga tokoh besar Indonesia bahkan dunia yang lahir di lingkar Danau Maninjau, Kabupaten Agam. Yaitu Syeikh Muhammad Amrullah Tuanku Abdullah Shaleh atau Kakek Buya HAMKA, Haji Abdul Karim Amrullah atau Ayah Buya HAMKA, dan Haji Abdul Malim Karim Amrullah atau buya HAMKA.

Kakek buya HAMKA sendiri adalah kaum tua dengan paham tarekat, sedangkan ayah HAMKA dan buya HAMKA sendiri punya pandangan berbeda dalam memahami Islam. Di situs inilah lahir ragam cerita yang mengawali banyaknya manuskrip dari trio Amrullah ini.

Sebagian besar koleksi Kutub Chanah adalah manuskrip karya ayah HAMKA dan sejumlah bacaannya dari buku lokal sampai buku-buku timur tengah berbahasa Arab. Sebab Kutub Chanah didirikan dengan tujuan awal sebagai tempat pendidikan ratusan murid sambil menulis karya-karya berupa manuskrip.

Sampai saat ini masih banyak tersimpan karya penting bukti sejarah perjuangan ayah HAMKA bersama ulama lainnya yang belum terakses oleh para peneliti sejarah. Contohnya adalah kisah perjuangan ayah HAMKA melawan ordonansi guru, suatu pembatasan oleh pihak Belanda bagi guru-guru agama mengajar di sekolah partikulir dan swasta.

Beliau pun menjadi motor utama penggerak perlawanan ini, terbukti dengan adanya notulen rapat para ulama yang hadir dalam mendukung gerakan beliau dalam melawan kebijakan tersebut. Manfaat Adanya Manuskrip Dari segi kebermanfaatan manuskrip, manuskrip jelas sangat bermanfaat baik dari segi akademis maupun sosial budaya.

Dari segi akademis, manuskrip merupakan sumber atau objek primer dalam kajian bidang apapun. Sehingga akan mampu memunculkan pengetahuan baru yang memperkaya khazanah sejarah lokal dan nasional. Dalam konteks sosial budaya, manuskrip adalah warisan budaya yang tidak bisa kita nafikan begitu saja, karena manuskrip merupakan identitas suatu bangsa.

Di sisi lain, kita akan kembali terhubung dengan peradaban masa lampau. Dimana dinamika perbedaan pendapat pada masa itu dikemas dalam pola perdebatan intelektual melalui karya tulis, bukan seperti saat ini..

Sumber Artikel dan Photo : Ibtimes.id

Leave a Reply