RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Sawahlunto Primadona Wisata Baru Setelah Diakui UNESCO

Provinsi Sumatera Barat harumkan nama Indonesia sebagai primadona wisata di mata dunia. Pasalnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan bekas tambang batu bara Ombilin di Sawahlunto menjadi bagian dari Warisan Dunia UNESCO.

Selanjutnya, lokasi pertambangan zaman kolonial ini diganjar dengan pemberian nama baru, yakni Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto.

Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadjamuddin Ramly menerangkan sejak tahun 2015, Kota Sawahlunto telah dimasukkan ke dalam daftar sementara warisan dunia dalam kategori budaya.

Sejak saat itu, lanjut dia, proses pengumpulan data, penyusunan dokumen pendukung, hingga diskusi panjang dengan para ahli dan akademikus dari dalam maupun luar negeri makin intensif dilakukan.

Ia mengatakan, ada dua kriteria dalam Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto yang ditetapkan oleh UNESCO. “Yaitu Nilai Universal Luar Biasa (Outstanding Universal Value) adalah kritera dua dan empat,” jelas Nadjamuddin, seperti dilansir dari Antara, Senin 8 Juli 2019.

Dia menceritakan kriteria dua mengenai adanya pertukaran penting dalam nilai-nilai kemanusiaan sepanjang masa atau dalam lingkup kawasan budaya, dalam perkembangan arsitektur dan teknologi, seni monumental, perencanaan kota, dan desain lanskap.

“Keunikan tambang Ombilin itu menunjukkan adanya pertukaran informasi dan teknologi lokal dengan teknologi Eropa terkait dengan eksplotasi batubara di masa akhir abad ke-19 sampai dengan masa awal abad ke-20 di dunia, khususnya di Asia Tenggara,” ujar dia.

Sedangkan kriteria empat, lanjutnya, tentang contoh luar biasa dari tipe bangunan, karya arsitektur, dan kombinasi teknologi atau lanskap yang menggambarkan tahapan penting dalam sejarah manusia.

“Tambang batubara Ombilin di Sawahlunto menunjukkan contoh rangkaian kombinasi teknologi dalam suatu lanskap kota pertambangan yang dirancang untuk efisiensi sejak tahap ekstraksi batubara, pengolahan, dan transportasi. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam organisasi perusahaan, pembagian pekerja, sekolah pertambangan, dan penataan kota pertambangan yang dihuni oleh sekitar 7.000 penduduk,” terangnya.

Dampak Positif

Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno menyatakan penetapan Ombilin sebagai warisan dunia tidak hanya melanggengkan nilai-nilai sejarah yang ada di Sawahlunto. Menurut dia, hal itu bisa memberi dampak positif terhadap geliat pariwisata daerah.

“Pariwisata Sawahlunto merupakan sektor unggulan daerah itu yang menjadi fokus utama dalam menunjang pembangunan ekonomi daerah. Promosi menjadi tuas utama untuk menggerakkan sektor pariwisata. Penetapan Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto ini adalah sebuah promosi yang sangat bagus,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Barat Oni Yulfian yakin bahwa penetapan warisan dunia dari UNESCO akan berdampak bagi masyarakat setempat. Ia yakin industri pariwisata di sana akan meningkat seiring waktu berjalan.

Wisatawan, yang datang, menurut Oni, nantinya tidak hanya didominasi warga Singapura dan Malaysia saja, tetapi bisa menjalar hingga ke negara-negara Asia, Timur Tengah, Amerika dan Eropa.

“Selain itu Sumatera Barat juga punya platform wisata halal untuk menarik wisatawan dari negara-negara Islam di Timur Tengah serta Geopark yang lebih menonjolkan keunikan geologi serta budaya masyarakat pendukungnya,” tutur Oni.

Jadi, kata dia, soal destinasi, seni budaya dan kuliner Sumatera Barat tak perlu diragukan lagi. “Provinsi ini memiliki semua yang dibutuhkan untuk memberikan pengalaman berwisata yang lengkap dari dasar laut hingga puncak gunung,” ujar dia.

Sebelumnya Ada Delapan

Sebelumnya Indonesia sudah memiliki empat warisan dunia UNESCO yang masuk kategori alam yakni Taman Nasional Komodo (1991), Taman Nasional Lorentz (1999), Hutan Tropis Sumatera (2004), dan Taman Nasional Ujung Kulon (1991).

Selain itu, Indonesia juga masuk ke warisan dunia kategori budaya, yaitu Candi Borobudur (1991), Candi Prambanan (1991), Situs Sangiran (1996) dan sistem Subak di Bali (2012).

Leave a Reply