Ragam Nama ‘Urang’ Minangkabau, dari Upiak Arai hingga Robert Davis Chaniago

Nama memiliki kedalaman makna dalam ajaran Islam. Nama menjadi doa sekaligus harapan. Tidak kurang, Nabi SAW memerintahkan kepada umatnya untuk memperindah nama. Jika beberapa daerah di Indonesia nama penduduknya memiliki keunikan dan kekhasan, maka berbeda dengan nama urang Minangkabau.

Di Sumatera Barat, nama-nama orangnya tergolong kompleks dan variatif. Hal tersebut dipengaruhi banyak faktor, jalan panjang sejarah juga menjadi andil besar dalam perubahan itu. Selain itu, mungkin istilah alam takambang jadi guru (alam menjadi guru) juga dipegang teguh oleh masyarakat.

Memalalui catatan Akademisi Sosiologi Universitas Andalas, Dr Elfitra, nenek moyang orang Minangkabau masa dahulunya memberi nama anaknya dengan Kirai, Upiak Arai, Talipuak, Si Rancak (si cantik), atau Jangguik (jenggot).

Kemudian setelah Islam masuk dan berkembang, nama-nama orang Minang mulai berubah menjadi kearab-araban seperti Mohammad Attar, Mohammad Natsir, Saiful, Bahri, Mochtar, Ali, Amir, Arifin, dan banyak lainnya.

“Mungkin istilah alam takambang jadi guru dipegang teguh masyarakat sejak dahulu,” tulisnya dalam https://groups.google.com/.

Dari dalam buku berjudul Merantau yang ditulis sosiolog Mochtar Naim, usai takluknya Sumatera Barat pada peristiwa PRRI-Permesta, banyak orang Minang kemudian memutuskan meninggalkan kampung halaman untuk pergi merantau.

Sejak itu, tulis Elfitra, tak sedikit orang Minang memiliki nama yang ada unsur Jawa, Eropa, Parsia, atau Amerika Latin. Sekadar contoh, ada yang semula bernama Bastian St Ameh, kemudian merantau ke Jawa dan berhasil jadi pengusaha sukses berubah nama menjadi Sebastian Tanamas. Atau nama tokoh dalam film lawas Warkop DKI, Robert Davis Chaniago.

Selain perubahan nama yang dipengaruhi oleh perkembangan zaman, juga banyak nama panggilan orang Minangkabau yang disingkat. Jika misalnya nama seseorang itu Emrizal, maka dipanggil si Em, contoh lainnya seseorang bernama Risman kemudian dipanggil Ris.

Dalam sebuah Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, Pusat Studi Informasi dan Kebudayaan Minangkabau (PSIKM) dan Sastra Daerah FIB Universitas Andalas yang ditulis Reniwati, disebutkan ada 5 pola kecenderungan pemanggilan nama orang Minangkabau.

Kecenderungan tersebut yakni, nama panggilan diambil di awal nama panjang, seperti Indrawadi dipanggil In, yang kedua diambil di tenggah nama panjang. “Selain itu nama panggilan diambil dari akhir nama panjang, contohnya nama panggilan Adi diambil dari nama Yampadi,” tulisnya.

Kemudian panggilan sama dengan nama panjang, seperti pada nama panjang Unah yang dipanggil sama dengan nama panjang tersebut. Terakhir, nama panggilan berbeda sama sekali dengan nama panjang, ia mencontohkan nama Syamsiar dipanggil dengan sebutan Iyen.

“Contoh lain pada nama panjang Muhammad Zainal, pemilik nama ini dipanggil dengan sebutan Toroik,” Reniwati menambahkan. Sumber

Leave a Reply