Polwan, untuk Indonesia dari Bukittinggi

Tepat pada hari Rabu 1 September 1948, pagi jatuh lembut di Bukittinggi. Enam gadis Minangkabau yang tak tertirukan itu, bersiap untuk latihan.

Enam gadis Minangkabau, merupakan Polwan pertama di Indonesia. Kehadiran keenamnya, antara lain, untuk melindungi harkat perempuan kalau berurusan dengan hukum, jika diperiksa atau digeledah, dilakukan kaumnya sendiri.

Sejarah polwan bermula. Dari Bukittinggi, polisi wanita yang dijuluki Proklamator Soekarno sebagai sang bunga Kartini, hadir untuk Indonesia.Mereka adalah Mariana Saanin Mufti, Nelly Pauna Situmorang, Rosmalina Pramono, Dahniar Sukotjo, Djasmainar Husein, dan Rosnalia Taher.

Dikutip dari buku “Polisi Pejuang dan Polisi Masyarakat-Sejarah Kepolisian RI dari Sumatera Tengah” karya Khairul Jasmi, Hasril Chaniago dan Muhammad Akmil, keenam gadis remaja ini secara resmi mulai mengikuti Pendidikan Inspektur Polisi di SPN Bukittinggi pada 1 September 1948.

Tanggal itulah yang belakangan dinyatakan sebagai hari lahirnya polisi wanita.

“Jumlah polwan saat ini, 24.000 orang lebih,” kata Brigadir Jenderal Polisi Apriastini Baktibugiansri, perwira koordinator (Pakoor) Polwan se Indonesia, saat berkunjung ke Sumatera Barat akhir Agustus lalu dalam rangkaian peringatan Hari Polwan ke-72.

Ditemui Singgalang usai berkunjung ke Monumen Polwan Bukittinggi dan singgah di sejumlah daerah seperti Limapuluh Kota dan Tanah Datar, Brigjen Pol Apriastini yang menjabat Kepala Pusat Sejarah Polri itu mengaku, Sumbar punya histori panjang terkait polwan.

“Harapannya, ke depan tentu bisa lahir polwan-polwan hebat dari Ranah Minang. Apalagi, saat ini, di Indonesia, posisi strategis banyak diisi polwan. Dulu ada Kapolda yang polwan, di Banten. Sekarang, beberapa polwan juga jadi Kasatwil, banyak jadi PJU,” kata mantan ajudan Ibu Negara Ani Yudhoyono itu.

Didampingi pamen polisi wanita dari Divisi Hukum Mabes Polri Kombes Pol Yuliani dan Kabid Hukum Polda Sumbar Kombes Pol Nina Febri Linda, Brigjen Apriastini menyebut, dalam peringatan hari polwan ke-72 pihaknya turun ke Sumbar untuk beberapa misi sesuai semangat dan atensi Kapolri Jenderal Polisi Idham Aziz.

“Diantaranya, kaitan tugas pusat sejarah Polri yang saya pimpin untuk mengumpulkan, meneliti dan mendata barang koleksi sejarah kemudian napak tilas HUT polwan,” sebut Apriastini, di RM Pongek Or Situjuah.

Pesan Kapolri
Sementara itu, dalam rangka HUT Polwan, Kapolri Jenderal Idham Aziz menyebut, sat ini, Polwan Republik Indonesia berjumlah 24.506 personel.

Terdiri atas 3 Pati, 1.567 Pamen, 3.355 Pama, dan 19.581 Bintara. Berbagai posisi jabatan strategis baik di Mabes, Polda, Polres, maupun Polsek, juga telah banyak diemban oleh personel Polwan.

“Teruslah bekerja baik saja dan tunjukkan prestasi di mana pun rekan-rekan bertugas. Ini momentum untuk introspeksi diri, memperkuat soliditas dan mendorong peningkatan kinerja di tengah situasi pandemi Covid-19,” kata Idham dalam keterangannya, Selasa (1/9).

Idham menjelaskan, ada beberapa hal untuk dipedomani dan dilaksanakan oleh seluruh Polwan.

Pertama, jadilah teladan bagi masyarakat, sesama personel Polri dan keluarga dalam berdisiplin menerapkan protokol kesehatan Covid-19 dengan memakai masker, mencuci tangan secara benar, menjaga jarak dan berperilaku hidup bersih dan sehat.

Kedua, tingkatkan peran aktif dalam mendukung pelaksanaan tugas-tugas Polri terkait penanganan Covid-19 sesuai dengan kemampuan dan kewenangannya.

Ketiga, tidak melakukan perbuatan yang kontraproduktif dan merugikan institusi Polri. Keempat atur waktu sebaik-baiknya untuk menjalankan peran ganda Polwan baik sebagai istri/ibu maupun sebagai anggota Polri.

“Terakhir sebagai tuan rumah Agenda Internasional Konferensi IAWP ke-58 yang rencananya akan dilaksanakan pada 5 sampai 9 September 2021 di Yogyakarta, agar dilakukan persiapan dengan sebaik-baiknya. Selamat HUT polwan,” kata Idham Aziz dihubungi Singgalang, terpisah. Sumber

Leave a Reply