Pernikahan Unik, Perempuan ‘Membeli Lelaki’ dalam Adat Minang

Banyak yang beranggapan bahwa di minangkabau untuk menikah perempuan harus ‘membeli lelaki’. Istilahnya ada uang jemputan dari pihak keluarga perempuang untuk pihak lelaki. Atau di Suku Bugis Makassar disebutnya uang panai. Lantas benarkah semua pria harus ‘Dibeli’ dipernikahan adat Minang?

Perlu diketahui, tidak semua pria diminang harus ‘dibeli’ dalam pernikahan. Namun memang ada daerah yang masih menjaga dan mempraktekkan tradisi ‘bajapuik’ atau uang jemputan. Dalam adat pariaman ini, pihak perempuan harus menyediakan sejumlah uang untuk pihak laki-laki sebelum akad dilangsungkan, uang inilah yang disebut dengan uang bajapuik. Lantas berapa besaran uang jemputannya?

Dalam Tradisi Bajapuik, besaran uangnya ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Uang jemputan ini bukan termasuk mahar tetapi merupakan biaya yang dikeluarkan pihak perempuan untuk membawa lelaki untuk tinggal dikeluarga pihak perempuan. Tradisi ini termasuk kedalam unsur Adat Nan Diadatkan yang memang dapat berubah dan diubah dengan cara musyawarah.

Di Pariaman sendiri tradisi manjapuik ini cukup unik, karena diikuti dengan tradisi bajapuik dimana pihak perempuan memberikan sesuatu kepada pihak laki-laki berupa uang japuik (uang jemput) dan uang hilang. Biasanya uang japuik dan uang hilang ditentukan dari status sosial marampulai (pengantin pria).

Ukuran status sosial ditentukan dengan gelar laki-laki yang diperoleh dari ayah, yakni apakah bergelar sidi (saidina/orang alim), sutan (sultan) dan bagindo (baginda) serta uang japuiknya berupa emas, seekor kuda dan barang-barang yang bernilai pada masa itu. Seorang suami akan menjadi urang sumando (orang pendatang) di rumah istrinya. Oleh sebab itu, menurut beberapa pandangan di kalangan masyarakat, sudah layak apabila seorang calon suami mendapatkan mas kawin (uang jemputan) dari istrinya, sebelum mereka menikah.

Nah sudah jelaskan, pelaksanaan perkawinan adat Minangkabau tidak semua menggunakan tradisi bajapuik. Karena tradisi ini tidak jauh berbeda dengan adat-adat lainnya di Minangkabau, namun yang membedakannya pelaksanaan tradisi ini adalah pemberian uang jemputan.

Lantas apa jadinya jika tidak ada uang jemputan dari pihak keluarga perempuan untuk pohak laki-laki? Ya, yang jelas pasti ada saksi akibat hukum yang timbul jika tidak diberikan uang jemputan. Terutama sanksi sosial di masyarakat, seperti sanksi cemoohan dari keluarga, lingkungan sekitarnya terutama dari mamaknya. Bahkan, sanksi hukum ini dapat berupa pembatalan perkawinan sampai dianggap tidak beradat karena tidak menggunakan tradisi adat ini dan tidak menghargai ninik mamak.

Namun perlu diketahui, tradisi bajapuik bertujuan mengangkat derajat pria di Pariaman, mereka dijemput untuk menghormati pria tersebut yang akan menjadi anggota baru keluarga besar sang istri (urang sumando).

Asal Muasal Tradisi Bajapuik

Mengenai dari awal mula tradisi ini berasal, kami mencoba merangkum beberapa sumber. Dari cerita yang kami temukan, tradisi bajapuik sudah ada dari sejak dahulu. Bermula dari kedatangan Islam ke nusantara. Hal ini juga yang melatarbelakangi kenapa akhirnya semua adat di Minangkabau berasal dari ajaran Islam, atau bersumber dari Al-Qur’an. Seperti kata pepatah Minang, “adaik basandi syarak, syarak basandi kitabulloh”. Maka dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, jika ada yang bertentangan dengan ajaran islam maka adatlah yang akan ‘Dibuang’

Balik kecerita awal, dulunya orang asli Pariaman adalah penduduk pesisir yang memiliki mata pencaharian nelayan. Mereka hidup dari hasil melaut di pantai pariaman. Hingga kemudian datang lah orang rantau dari daerah bukit-tinggi Padang Panjang. Mereka merantau dan mulai bertempat tinggal dan berocok tanam sebagai petani di Pariaman.

Nah para perantau ini ingin mengawinkan anak gadis mereka dengan laki-laki asli Pariaman. Namun, karena orang Pariaman dulunya miskin, dan untuk mengangkat derajat calon suami mereka tersebut, keluarga wanita pun menjemput dan memberikan sejumlah harta untuk calon suaminya dengan tujuan mengangkat derajat calon suaminya tersebut.

Suami mereka pun akan dihormati di keluarga istrinya, dipanggil dengan gelar mereka, misal sidi, bagindo atau sutan. Setelah menikah, suami tinggal di rumah istrinya, di rumah tersebut, suami mereka dipanggil dengan hormat sesuai dengan gelarnya, tidak boleh dipanggil dengan nama aslinya.

Related Posts

Leave a Reply