RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Perang Kemerdekaan di Kaki Singgalang dan Marapi

Perang Kemerdekaan di Kaki Singgalang dan Marapi

Pandai Sikek, nagari pengrajin songket di kaki Gunung Singgalang itu merasakan cobaan tak mudah saat perang kemerdekaan. Berada di pinggir jalan antara Padang Panjang dan Bukittinggi, membuat Pandai Sikek mudah dicapai patroli tentara Belanda.

“Pada tanggal 18 April 1949, Pandai Sikek diserang musuh. Pertempuran terjadi sampai pukul 12.00. Pihak kita menderita 1 orang gugur dan 2 orang luka berat, sedangkan di pihak Belanda 6 orang mati,” tulis Ahmad Husein dkk dalam Buku ‘Sejarah perjuangan kemerdekaan R.I. di Minangkabau/Riau, 1945-1950’ (1992).

Bukan sekali itu Pandai Sikek menjadi pelampiasan serangan tentara NICA. “Pada bulan Januari 1949, desa ibu saya Pandai Sikek, Jorong Tanjung dibakar Belanda sehingga 50 rumah jadi puing abu,” tulis Sastrawan Taufiq Ismail, dalam ‘Himpunan Tulisan 1960-2008’ (2008).

“Saya ingat betul api merah yang marak menyala siang hari, nampak dari atas Singgalang. Abang sepupu saya Piri, ditembak Belanda pada dada, ketika dia melintas di sawah,” tulis Taufiq yang saat itu beranjak remaja.

Tak cukup di sana, tulis Husein, pada 1 April 1949,Belanda menembaki sekeliling Padangpanjang dengan meriam. Sasaran peluru meriam adalah Paninjauan, Tiagan, Air Angek, Tigo Suku dan juga Pandai Sikek.

Dari kaki Singgalang, patroli beralih ke kaki Marapi. “Pada 23 April 1949 tentera Belanda masuk ke Sungai Talang terus ke Paninjauan, yang dicegat oleh pasukan kita di Anak Kayu. Pertempuran terjadi selama 1 jam,” tulis mantan Panglima Divisi Banteng itu.

Dalam pertempuran tersebut, menurut Husein, seorang anggota Badan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) gugur dan beberapa orang luka. “Sedangkan di pihak Belanda 3 orang tewas.”

Pada tanggal 29 April 1949 patroli Belanda memasuki Padang Taji. Siangnya, menurut Husein, ketika tentara Belanda pulang ke markas, dicegat oleh para pejuang. “Pertempuran berkobar dari pukul 10.00 sampai pukul 12.00 siang siang, yang mengakibatkan delapan orang tentera musuh mati dan luka-luka.”

Lalu, menurut Husein, pada 5 Mei 1949 tentara Belanda menyerang Guci dan Batu Banyak. “Pasukan kita yang berada di luar Batu Banyak menyerang musuh. Mereka terkepung selama satu setengah jam. Hampir separo dari tentara musuh hancur sebelum bala bantuan mereka sebanyak 3 truk datang,” tulisnya.

Bersamaan dengan gerakan ke Guci, pasukan Belanda yang lain pada pagi itu bergerak ke daerah Sungai Talang terus ke Paninjauan. Gerakan ini dihadang oleh pasukan pejuang.
Sehingga pertempuran dahsyat berkobar.

Berhubung dengan kekuatan musuh lebih besar, pasukan pejuang pun berpencar. “Belanda bergerak segera ke daerah pertempuran Batu Banyak bersama bala bantuan yang datang dari Padangpanjang. Gerakan tentara Belanda hari itu rupanya hendak mengepung pasukan pejuang di Guci sesudah menyerang ke Padangpanjang malam harinya,” tulis Husein dkk.

Dalam pertempuran itu, menurutnya, pihak Belanda banyak menderita korban. “Semua korban dinaikkan ke dalam truk yang diikuti oleh pasukan jalan kakinya. Sebelum meninggalkan Batu Banyak musuh membakar beberapa rumah di kampung tersebut,” tulisnya.

Pada tanggal 6 Mei 1949 Belanda kembali memasuki Batu Banyak, tetapi mereka disergap oleh para pejuang dalam jarak dekat yang kemudian menghilang.

Husein juga mendeskripsikan pencegatan pasukan Belanda yang berada di dalam kereta di daerah Gunung dengan cara merusak jembatan kereta api di Batang Arau di daerah Sikundur Batipuah Baruah.

“Kereta api pagi yang membawa pasukan musuh menuju Solok ditembaki dekat jembatan dan sewaktu melalui jembatan. Sehingga, terguling masuk jurang. Jembatan ambruk, loknya jatuh dan menimbulkan kebakaran. Musuh yang berada di dalam kereta api tidak dapat keluar. Hanya pasukan yang berada di gerbong paling belakang yang dapat bertahan dengan 2 water mantel yang terpasang pada gerbong tersebut. Tembak menembak berjalan selama satu jam,” tulisnya.

Pertempuran-pertempuran yang berlangsung di lembah Gunung Singgalang dan Marapi dalam gambaran Kolonel Husein dkk di buku tersebut adalah bagian dari perlawanan pasca-Agresi Militer II Belanda yang dilancarkan pada 19 Desember 1949.

Brigjen TNI Purn. Dr. Saafroedin Bahar dalam bukunya ‘Etnik, Elite dan Integrasi Nasional: Minangkabau 1945-1984’ menulis, dalam perang kemerdekaan setelah agresi kedua itu, di Sumbar bergerak sekaligus empat eselelon komando perang.

Empat eselon itu yakni, Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di bawah Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Komisariat Pemerintah Pusat untuk Sumatra (Kompensus) di bawah Mr. Muhammad Nasroen, Panglima Tentara dan Teritorium Sumatra (PTTS) Kolonel Hidayat dan Gubernur Militer Sumatra Barat Mr. Sutan Mohammad Rasjid.

PDRI, menurut Saafroedin, lebih banyak bergerak dalam memberi kebijakan umum perlawanan serta hubungan dengan luar negeri. “Kompensus tidak banyak memegang peranan. PTTS praktis lebih sedikit memberikan direktir.”

Hal itu karena, selama PDRI, Kolonel Hidayat tak berada di Sumbar. Usai deklarasi PDRI pada 22 Desember 1948, Hidayat longmarch ke Aceh dan kemudian bermarkas di sana.

Sementara, Gubernur Militer Sutan Mohammad Rasjid memainkan peranan aktif dalam perlawanan, bersama bupati militer dan camat militer serta wali perang, yang semuanya adalah orang sipil.

Saat agresi kedua terjadi, menurut Saafroedin, pasukan reguler Republik panik begitu mengetahui Belanda sudah dekat. “Perlawanan terhadap agresi Belanda baru dapat dilakukan secara teratur setelah masing-masing pasukan mengadakan konsolidasi.”

Dalam proses konsolidasi ini, menurutnya, amat besar peranan pasukan BPNK yang sebelumnya telah terbentuk di seluruh nagari. BPNK merupakan Badan Pengawal Nagari dan Kota. BPNK dibentuk oleh Chatib Sulaiman sejak 1947, sebelum ia gugur dalam Peristiwa Situjuh pada Januari 1949. Selain BPNK juga ada Pasukan Mobil Teras (PMT) yang merupakan gabungan anggota BPNK terpilih dan laskar.

Perlawanan pasukan BPNK (dan PMT) bersama pasukan reguler TNI, dinilai sangat efektif. “Brigade Tentara Belanda U KL yang bertugas di Sumbar berulang kali meminta bantuan kekuatan ke markas besarnya di Jakarta,” tulisnya. (Baca: Pasukan Mobil Teras dan Strategi Tempur Nagari Saat PDRI)

Mengutip disertasi PMH Groem ‘Marsroutes en Dwaalsporen, Saafroedin menyebutkan ada tiga pola serangan TNI di Sumatra Tengah antara 1 Januari-10 Agustus 1949. Pola tersebut yakni menyerang pos dan konvoi sebanyak 114 kali, menyerang pos 51 kali, menyerang konvoi 63 kali serta penyerangan patroli tempur 1.281 kali.

Korban yang jatuh di pihak rakyat dan TNI, dalam catatan Belanda disebutkan banyak. Yakni, 4.700 gugur dan 31 luka. Selain itu tercatat 2.284 tertawan dan 880 menyerah. Total keseluruhannya 7.904 pejuang.

Menurut Saafroedin, serangan TNI dan pejuang, menitikberatkan serangan pada pasukan patroli Belanda. Itu artinya, serangan dilakukan kepada mereka yang siap bertempur. Bukan terhadap sasaran yang sifatnya defensif seperti pos dan konvoi.

“Dengan pola gerilya yang sangat agresif tersebut, tersebut, dapatlah dipahami bahwa jumlah korban yang diderita oleh pasukan TNI di Sumbar ini adalah yang tertinggi di Sumatra.”

Perjuangan di kaki Gunung Singgalang dan Marapi tersebut adalah bagian dari rangkaian pertempuran selama PDRI yang kemudian membantu memperkuat posisi diplomasi Indonesia di dunia internasional.

Mengutip dari Langgam.id 

Leave a Reply