RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Peradaban Masyarakat Minangkabau Tempo Dulu

Peradaban Masyarakat Minangkabau Tempo Dulu

Sejarah asal mula orang Minangkabau dalam Tambo

Dalam Tambo, cerita rakyat dalam tradisi lisan masyarakat Minangkabau, Pariangan merupakan daerah pertama yang menjadi permukiman masyarakat Minangkabau pada masa lampau. Dan urang awak zaman dulu juga diceritakan keturunan Iskandar Zulkarnain.

Zulkarnain memiliki tiga anak yaitu Sultan Suri Maharajo Dirajo, Sultan Maharajo Alif, dan Sultan Maharajo Depang. Ketiganya kemudian berpisah, dan Sultan Suri Maharajo Dirajo bersama pengikutnya yang pada akhirnya berlayar hingga daerah Gunung Marapi, tempat mereka pertama kali bermukim di cikal bakal Nagari Pariangan.

Secara geografis, Minangkabau terdiri dari daratan Sumatera Barat, separuh daratan Riau, bagian barat Jambi, bagian utara Bengkulu, pantai barat Sumatera Utara, barat daya Aceh, dan Negeri Sembilan di Malaysia.

Asal Masyarakat Minangkabau dari Petunjuk Arkeologis

Lain dengan versi tambo, peninggalan arkeologis di Pariangan menunjukkan daerah tersebut sudah mulai eksis sejak zaman Hindu-Buddha, sebelum Islam masuk. Arkeolog dari Balai Arkeologi Sumatera Utara Taufiqurrahman Setiawan mengatakan daerah Pariangan menyimpan peninggalan sejarah dari zaman pra-Islam, termasuk di antaranya Prasasti Pariangan yang berada di daerah Biaro, tidak jauh dari Masjid Ishlah di Pariangan.

  Peradaban Masyarakat Minangkabau Tempo Dulu

Bersama beberapa peneliti, Taufiq berada di Pariangan untuk menindaklanjuti laporan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat mengenai temuan bata yang diduga bagian dari bangunan tempat pemujaan di Biaro, yang menurut kajian toponimi namanya berasal dari kata biara atau wihara.

Setelah melakukan penggalian pada 11-18 September, para peneliti menemukan beberapa pecahan bata dan gerabah yang kemudian disimpan dalam dua kotak. Namun temuan itu belum bisa menjadi titik awal untuk melakukan penggalian lebih lanjut.

Asal Masyarakat Minagkabau dari Petunjuk Akkeologis

Sedangkan berbeda dengan versi tambo, peninggalan arkeologis di Pariangan menunjukkan daerah tersebut sudah mulai eksis sejak zaman Hindu-Buddha, sebelum Islam masuk. Arkeolog dari Balai Arkeologi Sumatera Utara Taufiqurrahman Setiawan mengatakan daerah Pariangan menyimpan peninggalan sejarah dari zaman pra-Islam, termasuk di antaranya Prasasti Pariangan yang berada di daerah Biaro, tidak jauh dari Masjid Ishlah di Pariangan.

Bersama beberapa peneliti, Taufiq berada di Pariangan untuk menindaklanjuti laporan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat mengenai temuan bata yang diduga bagian dari bangunan tempat pemujaan di Biaro, yang menurut kajian toponimi namanya berasal dari kata biara atau wihara.

Setelah melakukan penggalian pada 11-18 September, para peneliti menemukan beberapa pecahan bata dan gerabah yang kemudian disimpan dalam dua kotak. Namun temuan itu belum bisa menjadi titik awal untuk melakukan penggalian lebih lanjut.

Agama Masyarakat Minangkabau

Saat ini, mayoratis agama masyarakat Minangkabau adalah Islam. Sebelum itu, mereka diyakini memeluk agama Budha karena pengaruh dari kerajaan Sriwijaya. Masuknya agama Islam ke kawasan tersebut diperkirakan melalui pesisir timur, bergerak dari daerah Inderagiri dan Arcat (Aru dan Rokan) yang saat itu telah menjadi pelabuhan Minangkabau ke arah pedalaman Minangkabau.

Dalam Sejarahnya, masyarakat Minang pernah mengalami perang saudara. Hal ini dipicu oleh konflik antara ulama dan pengikutnya yang bersikeras menerapkan hukum Islam dengan para kaum adat. Perang tersebut kemudian dikenal dengan Perang Padri. Perang Padri adalah perang saudara pertama di Asia Tenggara yang dipicu oleh konflik Agama.

Bahasa Masyarakat Minangkabau

Menurut sejarah yang satu, masyarakat Minangkabau memiliki bahasa sendiri, bahkan bahasanya disebut-sebut termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia. Sedangkan sejarah yang lain menyebut bahwa bahasa Minangkabau termasuk ke dalam bahasa Melayu, karena banyaknya kesamaan bentuk ujaran dan kosakata di dalamnya. Namun yang perlu diketahui, masyarakat penutur bahasa Minang itu sendiri juga telah memiliki berbagai macam dialek. Hal ini bergantung kepada daerahnya masing-masing.

Leave a Reply