Pasambahan Tuo Nagari Padang Laweh

Dikenal sebagai seorang penutur sastra lisan di Nagari Padang Laweh, Zal Arizon adalah seoarang penutur pasambahan adat. Zal Arizon lahir pada tahun 1985, putra dari Bapak Samsuar atau Labai Malano dan Ibu Ramida.

Zal adalah anak ke 3 dari lima bersaudara, 3 laki-laki dan 2 perempuan. Zal Arizon diberi gelar (gala) Sutan Majaleno ketika iya mempersunting Yuci Aptasari menjadi istrinya. Sekarang Zal sudah memiliki 3 orang anak, 2 laki-laki dan 1 orang perempuan.

Sedangkan anaknya yang paling besar masih kelas 2 SD dan yang paling kecil baru berumur 2 bulan. Zal tinggal bersama sang istri dan anaknya di NagarI Padang Laweh, Kecamatan Sungai Pua, Agam bersama istri dan anak-anaknya. Yuci adalah orang Solok, dan memutuskan untuk tinggal bersama suami di Padang Laweh. Zal tamatan Mts Parabek. Selain sebagai penutur sambah Zal juga bekerja sebagai seorang Wiraswasta di Aur, Bukittinggi.

Ketertarikan Zal pada pasambahan sudah dimulai saat ia kecil dulu, awalnya ia hanya ikut-ikutan teman, namun akhirnya menjadi kecanduan dan menjadi hobi tersendiri bagi Zal. Zal mulai memperlajari pasambahan sejak duduk di kelas 2 MTS, dan sekarang sudah 18 tahun Zal menekuni pasambahan tersebut dan tidak berhenti untuk belajar karena merasa masih banyak lagi makna-makna pasambahan yang harus dipelajari olehnya.

Zal merasa baru 50% ia tau maksud dan makna dari pasambahan tersebut, masih jauh dari kata sempurna baginya karena belum sampai 100% dalam memahami makna dalam pasambahan tersebut. Zal sangat ingin tau dan mengerti maksud atau makna dalam istilah-istilah pasambahan Minang tersebut dan menegerti dengan isi-isi dalam pasambahan tersebut.

Zal juga ingin memperkenalkan dirinya ke masyarakat dengan cara menjadi seorang penutur pasambahan. Belajar pasambahan bagi Zal adalah sebuah hobi yang ia jalankan sampai saat ini. Dan juga karena faktor dari orang tua yaitu ayah Zal adalah seorang Labai yang juga seorang penutur sambah yang membuat Zal semakin tertarik untuk belajar “manyambah”.

Awal-awal belajar pasambahan dulu, Zal pernah disuruh oleh ninik mamak untuk ikut tampil beberapa kali dalam pasambahan, namun setelah itu terputus karena ada kerjaan yang harus diselesaikan oleh Zal, tapi Zal tetap melakukan latihan secara rutin supaya apa yang ia dapat tidak terlupakan, hanya saja terputus untuk tampil di masyarakat, sekitar 3 tahunan Zal tidak tampil dalam masyarakat. Setelah itu Zal kembali aktif dalam manyambah.

Dulu Zal sering dicemooh oleh teman-teman sebaya karena belajar pasambahan. Mereka mengatakan bahwa seorang panyambah hanya mengharapkan sebungkus rokok. Namun, itu tidak menyurutkan keinginan dalam belajar pasambahan , bahkan sekarang Zal dibutuhkan oleh orang yang dulu mencemoohnya dan bahkan orang tersebut lebih menghargainya.

Menurut Zal, pasambahan yang ada di Padang Laweh adalah pasambahan yang diajarkan oleh niniak mamak terdahulu, pasambahan yang ada di Nagari Padang Laweh adalah “Pasambahan Basa” atau bisa disebut juga dengan “Pasambahan Tuah” karena masih pasambahan yang murni, pasambahan yang di ajarkan secara turun temurun. Itu lah sebabnya pasambahan yang ada di Nagari Padang laweh adalah pasambahan babatang.

Pasambahan babatang maksudnya adalah pasambahan yang memiliki pembukaan di awalnya, tidak langsung ke dalam isi pasambahan. Contoh pasambahan batang itu adalah “sambah dititah tinggi di anjuang, gadang di lambuak digampali, dahulu kato baistinah kamudian sambah basicapek kambali sambah pado Tuan”, dibaca setiap akan memulai sambah dengan orang lain.

Contoh instilah lain dalam pasambahan yang dikatakan atau tidak menggunakan batang jika ada yang datang berkunjung maka akan di tanya “aa nan taragak takana” atau “aa nan manjadi naiak jo naza” artinya adalah menanyakan maksud kedatangan orang tersebut.

Contoh yang menggunakan batang atau secara tidak langsung adalah “baa kok lah jauah bajalang ampia baturuik lah batingkek janjang batapi bandua duduak bareda di tangah rumah”, maksudnya adalah setelah jauah berjalan apa tujuan datang berkunjung.

Berbeda dengan pasambahan di daerah lainnya, di daerah lain pasambahan yang dituturkan adalah pasambahan yang langsung ke intinya atau isi dari pasambahan tersebut. Hanya menggunakan pengantar untuk sambah di awal saja seterusnya dilanjutkan isi sampai selesai.

Di padang Laweh pasambahan terbagi atas dua, pasambahan tuo dan pasambahan mudo. Pasambahan tuo adalah pasambahan yang dikuasai oleh niniak mamak dan orang yang dituokan.

Contoh pasambahan tuo adalah pasambahan kematian, pasambahan ini sifatnya pendek, pasambahan ini dipakai untuk memintak kerilaan dari ahli waris kepada masyarakat, dilakukan pada malam pertama takziah.

Contoh lain pasmbahan tuo adalah pasambahan saat batagak pangulu, saat menyambah hanya Niniak Mamak yang dibolehkan manyambah. Pasambahan mudo adalah orang yang belajar pasambahan tapi bukan datuak atau niniak mamak, pasambahan yang dipakai oleh panyambah yang ada di bawah niniak mamak, misalnya pasambahan manjapuik marapulai, dan pasambahan mananti.

Pasambahan manjapuik marapulai, tukang sambah adalah dari pihak perempuan. Sedangkan pasambahan mananti tukang sambah di pihak lahi-laki. Selain pasambahan manjapuik dan mananti ada pasambahan makan, pasambahan siriah dan pasambahan malapeh, namun di Padang Laweh pasambahan siriah tidak ada.

Di pasambahan mudo jika ada pasambahan yang tidak diizinkan oleh niniak mamak untuk dibawakan saat menyambah maka tidak boleh dibacakan. Karena pasambahan mudo harus seizin niniak mamak dan orang yang dituokan dalam mayambah.

Oleh: Rezi Veronika
Sumber Artikel dan Photo : minangkabaunews.com

Leave a Reply