RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Nasi Padang Lebih Banyak Dibungkus daripada Makan di Restonya

Siapa yang tak tahu dengan makanan lezat satu ini. Makanan yang terkenal dari Sumatera barat ini terkenal dengan gulai dan santannya.

Nasi Padang juga merupakan sebuah hidangan yang disajikan secara lengkap secara prasmanan dengan daging, ikan, sayuran, dan makanan pedas dimakan dengan nasi putih, itu adalah komoditas ekspor paling terkenal dan masyarakat minangkabau mempunyai kontribusi yang besar untuk masakan Indonesia.

Orang yang sering makan nasi Padang pasti familiar dengan hal yang satu ini. Rumah makan Padang selalu memberikan porsi nasi lebih banyak kalau dibungkus. Makan di tempat diberi 1 centong nasi, untuk bungkus diberi 2 centong nasi.

Hal ini sebenarnya jadi pertanyaan banyak orang. Walau terkesan tidak adil, tapi jarang ada pembeli yang protes. Semuanya setuju saja. Kebiasaan ini pun sudah berlangsung entah dari kapan hingga saat ini di seluruh rumah makan Padang.

Jika ditanya kisahnya, sebenarnya ada cukup banyak versi. Tapi kami rangkum 2 kisah yang paling terkenal dan paling masuk akal.

Saudagar Belanda Vs. Rakyat Jelata
Kisahya dimulai pada zaman Belanda. Pada masa itu, restoran Padang dipercaya sebagai restoran kaum elite. Jadi banyak saudagar Indonesia atau orang Belanda yang makan di sana.

Karena itu, rakyat jelata jadi segan untuk makan nasi Padang di tempat. Padahal restoran Padang pada masa itu sudah punya harga yang murah, lho. Mengetahui hal itu, pemilik restoran Padang pun berinisiatif memberi porsi nasi lebih kepada rakyat jelata yang membungkus.

Tujuannya agar cukup dimakan sampai dua orang mengingat jaman dulu orang pribumi sangat miskin. Jadi porsi nasi yang dibungkus ini menunjukkan kebaikan hati pemilik restoran Padang pada zaman dulu.

Biaya Cuci Piring
Versi kedua terdengar lebih realistis dan bukan lagi tentang sejarah. Katanya sejak dulu, pemilik restoran Padang sudah memperhitungkan biaya operasional sampai sangat detail.

Untuk makan di tempat, pemilik restoran padang harus mengeluarkan biaya membeli sabun cuci piring sampai membayar gaji karyawan. Sedangkan jika membungkus mereka tidak butuh mencuci piring dan tidak butuh juga menggaji banyak pelayan di restoran.

Akhirnya, dikurangilah porsi nasi saat makan di tempat untuk menutupi biaya sabun cuci piring dan pelayan tersebut.

Sama-sama adil, kan?

Sampai saat ini masih belum ada penelitian yang membuktikan mana kisah yang benar di balik “nasi Padang lebih banyak kalau dibungkus”. Namun kedua kisah ini bisa jadi informasi tambahan yang membuat kita berhenti bertanya-tanya setiap kali makan nasi padang.

Cukup nikmati saja kuliner khas Nusantara yang lezatnya selangit itu.

Leave a Reply