gulai tambusu

Napak Tilas Perkembangan Rumah Makan Padang di Bandung Dari Zaman ke Zaman

Rendang sudah beberapa kali masuk menjadi salah satu makanan terlezat di dunia versi CNN. Tak hanya di Sumatera Barat, rendang sudah ada hampir di seluruh pelosok negeri dengan menjamurnya rumah makan Padang.

Makanan berbahan daging yang digulai dengan santan hingga mengering tersebut identik dengan menu restoran atau rumah makan Padang yang keberadaannya jamak ditemui di berbagai daerah di Indonesia.

Lalu, bagaimana kisah kehadiran rumah makan Padang di Bandung, Jawa Barat? Pikiran Rakyat mencoba menelusurinya.

Keberadaan restoran Padang di Kota Bandung terlacak dari potongan iklan pada koran berbahasa Sunda Sipatahoenan.

Iklan sebuah rumah makan Padang itu terpampang pada sejumlah edisi penerbitan Sipatahoenan pada 1935.

Umpamanya pada edisi 11 Oktober 1935, iklan penggugah selera makan asal Minangkabau tersebut tertera jelas dengan menyertakan nama restorannya, Waroeng Nasi Padang yang beralamat di Gang Alketiri 299 13D-Bandoeng.

Iklan dengan nama rumah makan dan isi serupa bertebaran di Sipatahoenan pada edisi 22 Oktober 1935, 26 Oktober 1935.

Kehadiran iklan Waroeng Nasi Padang pada koran itu menjadi bukti kedai makanan Minang sudah ada di Bandung bertahun-tahun sebelum negeri ini merdeka. Yang menarik, Waroeng Nasi Padang mencantumkan promosi dengan tulisan, Tarief Malaise dalam iklan tersebut.

Ya, harga makanan restoran itu mengacu pada kondisi zaman malaise atau depresi besar ekonomi dunia yang dimulai pada 1929.

Pencantuman tarif Malaise, tentunya bisa dibaca sebagai bentuk promosi “harga damai” atau harga murah makanan-makanan yang disajikan restoran Padang itu kala malaise bikin sulit perekonomian masyarakat.

Waroeng Nasi Padang‎ juga mencantumkan beberapa tawaran berupa langganan per bulan serta jasa antar makanan ke pembeli dengan rincian masing-masing harganya f 7.50 dan f.10.
“Dan sedia roepa-roepa makanan dan minoeman dengen harga moerah. Silahken bikin pertjobaan tentoe memoeasken dan kemoedian djadi Toean poenja langganan,” demikian tulisan lain dalam iklan tersebut.

Pemilik Waroeng Nasi Padang pun tak luput dituliskan dengan nama, Abdoel Salam. Sayangnya, restoran Padang itu tak menuliskan daftar menu dalam iklan di Sipatahoenan guna mempermudah melacak apa saja makanan yang disajikan di masa itu.

Potongan iklan restoran Padang bukan hanya ditemukan di Sipatahoenan. Koran Sumatera Bode juga mencantumkan restoran Padang dalam pariwaranya pada edisi 19 Januari 1929. Judul iklan itu adalah Padangsch Restaurant Sawah Loento. Tak jelas benar, Sawah Loento atau Sawahlunto itu merupakan nama restorannya atau mengacu pada lokasi rumah makan tersebut yang berada di wilayah Sumatera Barat.

“Selalu tersedia semua jenis masakan Indische dan Jawa serta bahan-bahan gulai kambing, higienis!” demikian potongan tulisan iklan itu yang memuat jenis dan bahan makanannya dalam bahasa Belanda.

Lalu, sejak kapan makanan asal Minangkabau itu menyebar dan dijajakan di kedai-kedai di berbagai daerah, termasuk Bandung.

Fadly Rahman, sejarawan kuliner yang juga staf pengajar Program Studi Sejarah Universitas Padjajaran dalam bukunya, Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia turut mengupas hal itu. Fadly menghubungkan penyebaran makana selera Urang Awak itu, dengan geliat pers perempuan di Sumatera Barat, bernama Soenting Melajoe yang berdiri pada 1912.

Surat kabar yang bersemboyan, Soerat Chabar Perempoean di Alam Minangkabau tersebut ternyata dibaca luas oleh para perantau Minang di luar Padang.

“Para perantau yang tersebar di berbagai wilayah seperti Bandung, Medan, Bengkulu, Gorontalo, Pulau Pisang (Lampung Barat), Tanjung Karang (Lampung), dan wilayah lainnya tersebut minta dikirimkan Soenting Melajoe dengan cara memesan dan berlangganan,” tulis Fadly.

Surat kabar tersebut memuat kegiatan perempuan, termasuk menu resepsi dan resep-resep memasak yang jarang dimuat dalam buku-buku masak di Jawa.

Dari sana, makanan-makanan Minang mulai populer ke berbagai penjuru negeri ini.

“Ternyata di awal dasawarsa kedua abad ke-20, makanan daging awetan seperti dendeng dan rendang berhasil dipopulerkan dalam resep-resep yang dimuat Soenting Melajoe, dan telah dikembangkan melalui keberadaan rumah-rumah makan bergaya lepau Minangkabau di wilayah para perantau Minang bermukim,” kata Fadly.

Kepopuleran makanan-makanan Minang pun terlihat kala rendang menjadi lauk favorit guna bekal melakukan perjalanan jauh ibadah haji bagi orang-orang di Sumatera Barat.

Fadly juga membandingkan perkembangan makanan Minangkabau dan Jawa.

“Apabila di Jawa buku-buku masak menjadi sarana bagi pencitraan dan popularisasi makanan di Jawa, di Minangkabau tradisi rantau yang ditunjang juga dengan keberadaan media pers perempuan ternyata memiliki andil penting dalam mencitrakan dan memperkenalkan makanan mereka secara luas hingga ke luar wilayah Minangkabau,” tulisnya.

Tak pelak, diaspora perantau Minang, serta resep-resep dalam surat kabarlah yang membuat restoran-restoran Padang kini bertebaran di mana-mana. PikiranRakyat

Leave a Reply