RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Menyusuri Jejak Kolonial Jepang di Kota Bukittinggi

Menyusuri Jejak Kolonial Jepang di Kota Bukittinggi

Bila kita berkunjung ke Kota Bukittinggi, Sumatra Barat, saat melewati Jalan Perintis Kemerdekaan tepat di sebelah kanan jika hendak menuju Pasar Bawah, sebuah bangunan berbahan beton berdiri kokoh, sebagian dindingnya mulai berlumut, beberapa atap seng karatan terlihat berlubang.

Kondisi bangunan yang berada tidak jauh dari Bioskop Eri itu, merupakan sisa-sisa dari penjara yang dahulunya dikenal dengan nama Gevangenis van Fort de Kock. Penjara tersebut dibangun pada pertengahan abad IX dan menjadi tempat ditawannya beberapa tokoh penting Sumatra Barat oleh pemerintah Belanda.

Nampak bagian depan bangunan terdapat ruangan yang pernah dipergunakan sebagai kantor, sementara beberapa ruangan lain di bagian belakang dipergunakan sebagai ruang tahanan. Tidak diketahui pasti kapan penjara tersebut pertama kali dibangun, sejarawan IAIN Bukittinggi, Deddy Arsya menyebutkan, pada salah satu catatan Mr. C. J. van Asska yang berjudul Verslag over het Gevangeniswezen diketahui bangunan itu sudah ada sejak tahun 1940.

Melalui catatan tersebut, kondisi bangunan masih sangat memprihatinkan, atap dan dindingnya hanya ditutupi alang-alang. Pada 1950, Deddy menjelaskan, Fort de Kock (sebutan untuk Bukittinggi pada masa kolonial) sudah mengajukan proposal anggaran pada Gubernur Jendral di Batavia untuk pembangunan penjara baru, akan tetapi tidak mendapatkan tanggapan.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1857, proposal kedua kembali diajukan dan baru mendapatkan respon pada 1960 untuk pembangunan. Dalam pembangunannya, penjara ini dikerjakan oleh pekerja paksa yang merupakan tahanan hukuman berat di Penjara Padang.

Tidak sedikit tokoh-tokoh Minangkabau pernah ditawan pada bangunan yang pernah digunakan sebagai lokasi shooting film Sengsara Membawa Nikmat itu. Sebut saja Haji Rasul yang merupakan ulama kaum muda yang merupakan ayah dari Buya Hamka serta Sutan Chaniago yang merupakan anak kandung dari Tuanku Imam Bonjol, pernah ditawan di sini.

Beberapa tokoh pergerakan lain, seperti Rasuna Said, Rasimah Ismail hingga Upiak Hitam yang merupakan aktivis perempuan komunis juga pernah ditahan pada salah satu ruang tahanan.

Tidak hanya itu, sastrawan Maisir Thaib juga dipenjarakan akibat mengarang roman yang membuat gusar pemerintah kolonial. Selanjutnya, Muchtar Luthfi, seorang tokoh muda Islam yang juga salah seorang pemimpin Permi juga pernah melewati malam pada salah satu ruangan penjara sebelum akhirnya dibuang ke Digul.

“Mereka semua dipenjarakan karena perlawanan terhadap kekuasaan kolonial Belanda,” katanya.

Leave a Reply