Mengunjungi Masjid Siti Manggopoh,Kesaksian Perang Belasting

Masyarakat minangkabau mengenang Siti Manggopoh begitu lekat di hati, ia merupakan pejuang ketika Belanda menjajah negeri ini. Mande Siti tidak hanya dibuatkan patung, namun namanya juga diabadikan sebagai nama masjid.

Nama Siti Manggopoh dijadikan nama sebuah masjid yang masih berdiri kokoh di Nagari Manggopoh, Kabupaten Agam Sumatera Barat. Masjid ini juga menjadi saksi bisu ketika perang di daerah itu.

Meski keberadaanya yang sederhana dengan ornamen cat berwarna hijau, tapi yang membuat masjid ini besar karena di depan halaman masjid terdapat makam 17 tokoh pejuang yang gugur dalam perang Belasting 1908.

Perang itu dikenal dengan perang Manggopoh dan juga perang Belasting, masjid ini menjadi saksi bisu Siti Manggopoh dan para pejuang lainnya, sebab di sanalah strategi perang direncanakan.

Dalam buku Perempuan-Perempuan Pengukir Sejarah, Mulyono Atmosiswartoputra, diceritakan perang ini bermula dari kemarahan Mande Siti.

Ketika ia tahu Peraturan Pajak di tanah Minangkabau pada awal Maret 1908, diganti menjadi Peraturan Tanam Paksa terhadap rakyat.

Mande Siti tersulut amarah sebab merasa harga dirinya diinjak-injak, mengingat peraturan Belasting ini mengenakan pajak tanah yang dimiliki secara turun-temurun.

Perang Manggopoh meletus pada 16 Juni 1908. Perang ini dikomandoi oleh Hasik Bagindo Magek, suami Siti Manggopoh.

“Mande Siti dan suami serta sejumlah masyarakat lainnya menamakan diri dengan Pasukan 17,” tulis Mulyono dalam bukunya.

Saksi Bisu
Masjid Siti Manggopoh dibangun sekitar 1842. Ketika itu masih beratap ijuk dan berdinding bambu. Sebelum bernama Masjid Siti Manggopoh, masyarakat setempat menyebutnya Masjid Gadang.

Kini, masjid ini beratap tumpang tiga yang terbuat dari seng dengan bentuk bangunan bujur sangkar. Ruang utama masjid ditopang oleh sembilan tiang.

Langit-langitnya terbuat dari bahan triplek sisi dalam dan sisi luar teras terbuat dari seng. Pintu terletak di sisi timur dan satu lagi di sisi utara yang terbuat dari kayu.

“Mungkin bisa dikatakan ini masjid tertua di Manggopoh,” kata salah seorang cucu pasukan 17, Amiruddin.

Amiruddin merupakan cucu dari salah satu anggota pasukan 17 yang bernama Dullah Pakiah Sulaiman, ia menceritakan selain beribadah dan tempat bermusyawarah bagi niniak mamak masjid ini juga digunakan sebagai tempat latihan bela diri.

Suami dari Mande Siti, Hasik Bagindo Magek, orang yang mengajar bela diri silek. Kemudian di sana juga lokasi tempat berkumpulnya pasukan 17 sebelum melangsungkan serangan ke Markas Belanda.

“Di masjid pasukan 17 menyusun strategi dan siasat sebelum penyerangan Jumat malam, 15 Juni 1908,” ujarnya.

Masjid tersebut menjadi tempat berkumpul terakhir. Amiruddin menyebut di masjid pasukan 17 beritikaf, mengenal diri, menguji kemampuan masing-masing.

Ia menceritakan 17 orang yang berkumpul di masjid tersebut memang orang-orang yang terpilih. Pasalnya selain tangguh dari segi bela diri, mereka juga memiliki ilmu kebatinan yang mumpuni.

Sebelum menyergap Markas Belanda, di dalam masjid terjadi peristiwa kebatinan, di mana orang-orang yang akan pergi berperang ditentukan dengan prosesi mencabut pedang.

“Bagi yang bisa mencabut pedang, maka dia dilarang pergi berperang, karena itu pertanda akan gugur di medan perang,” ujarnya.

Dari 17 pasukan tersebut, jelasnya tidak ada satupun yang bisa mencabut pedang yang ditusuk ke tanah di dalam masjid.

Saat ini, halaman depan masjid menjadi kompleks makam 17 tokoh pejuang yang gugur dalam perang Belasting 1908 yang dikenal dengan perang Manggopoh. Sumber

Leave a Reply