RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Mengenal Sosok Mahmoed Joenoes Ulama Jenius Asal Sumatra Barat

Mengenal Sosok Mahmoed Joenoes Ulama Jenius Asal Sumatra Barat

Sejarah mencatat Sumatra Barat kerap melahirkan tokoh tokoh yang kerap menjadi inspirasi dan ketokohanya dikenal sepanjang masa. Tanggal 16 Januari 1982, hari ini 36 tahun lalu, Indonesia kehilangan sosok ulama besar yang sangat berjasa dalam sejarah pendidikan Islam di tanah air, Prof. DR. H. Mahmoed Joenoes. Ia adalah seorang jenius yang mengusulkan kepada pemerintah pusat agar mata pelajaran agama Islam dimasukkan ke kurikulum pendidikan nasional, beberapa tahun setelah Indonesia merdeka.

Berikut ini jejak kiprah Mahmoed Joenoes selengkapnya:

1899
Mahmoed Joenoes dilahirkan di Sungayang, Tanah Datar, Sumatera Barat, tanggal 10 Februari 1899. Kejeniusannya sudah terlihat sejak kecil. Saat baru berusia 14 tahun, Mahmoed dipercaya menjadi guru bantu di Madras School yang dipimpin oleh ulama besar, Muhammad Thaib Umar.

1917
Muhammad Thaib Umar jatuh sakit. Mahmoed Joenoes yang kala itu berumur 18 tahun diminta menggantikan sang guru untuk sementara memimpin Madras School. Ia juga mewakili Thaib Umar dalam acara penting, termasuk Rapat Besar Ulama Minangkabau pada 1919 yang melahirkan Persatuan Guru Agama Islam (PGAI).

1920
Mahmoed Joenoes mulai menuangkan pemikirannya melalui tulisan. Bahkan, pada Februari 1920, ia menerbitkan majalah al-Baysir selain terlibat dalam penerbitan sejumlah media Islam lainnya, seperti al-Munir, al-Manar, dan al-Bayan. Tak hanya itu, ia merintis perkumpulan pelajar Islam Sumatera Thawalib cabang Sungayang.

1923
Cita-cita Mahmoed Joenoes yang ingin belajar ke Universitas Al-Azhar, Mesir, akhirnya terwujud. Pada Maret 1923, ia berangkat dengan kapal laut melalui Penang (Malaysia). Sebelum ke Kairo, Mahmoed terlebih dulu menunaikan ibadah haji di Mekkah, Arab Saudi.

1924
Mahmoed Joenoes diterima di Universitas Al-Azhar. Pemuda ini memang jenius. Hanya butuh setahun baginya untuk mendapatkan ijazah Syahadah Alimiyah, setara dengan agister. Ia adalah salah satu orang Indonesia pertama lulusan Al-Azhar. Setelah itu, ia melanjutkan studi di Darul Ulum atau yang kini menjadi bagian dari Universitas Kairo.

1930
Bulan Oktober 1930, Mahmoed Joenoes menuju tanah air, dan tiba di Sumatera Barat pada awal 1931. Ia kembali ke Madras School dan menerapkan konsep pendidikan Islam yang lebih modern, termasuk mengenalkan pembagian jenjang untuk madrasah, yakni Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah.

1933
Madras School ditutup karena terbentur kebijakan Ordonansi Sekolah Liar (Wildeschoolen Ordonantie) yang mewajibkan setiap sekolah memiliki izin resmi dari pemerintah kolonial. Di Jawa, kebijakan ini ditentang oleh Ki Hadjar Dewantara yang tetap mengembangkan Taman Siswa.

1931
Setelah Madras School tutup, Mahmoed Joenoes dipercaya memimpin sekolah pendidikan guru yang dibentuk PGAI, yakni Normal Islam School (NIS) atau Kulliyyatul Muallimin Al-Islamiyyaah di Padang. Di sekolah ini, Mahmoed memasukkan mata pelajaran pendidikan agama Islam dalam kurikulumnya yang untuk pertamakalinya diberlakukan di Hindia Belanda.

1940-1944
Mahmoed Joenoes undur diri dari NIS karena diminta oleh beberapa rekannya di PGAI untuk merintis Sekolah Tinggi Islam (STI) di Padang. STI adalah perguruan tinggi pertama di Sumatera Barat, namun kemudian dibubarkan oleh pemerintah militer Jepang.

Selanjutnya, pada 1943, Mahmoed turut membidani berdirinya Majelis Islam Tinggi (MIT) Minangkabau. Ia mengusulkan kepada pemerintah Jepang agar mata pelajaran agama Islam dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan, dan diterima. Tahun 1944, ia kembali ke NIS dan memimpin sekolah ini hingga pasca-kemerdekaan Indonesia.

1946-1947
Mata pelajaran agama Islam diterapkan di Sumatera Barat sejak 1 April 1946 berkat andil Mahmoed. Ia juga ditunjuk untuk menyusun kurikulum sekaligus menulis buku-buku panduan untuk guru. Sejak Maret 1947, kurikulum pendidikan di seluruh wilayah Sumatera menyertakan mata pelajaran agama Islam.

Pada 1946 pula, Mahmoed Joenoes turut mendirikan Sekolah Menengah Islam (SMI) di Bukittinggi. Ini merupakan cikal-bakal Universitas Islam Indonesia (UII) seiring kepindahan ibukota RI ke Yogyakarta.

1948
Ketika Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) didirikan di Bukittinggi pada 1948 lantaran Yogyakarta diduduki Belanda, Mahmoed turut mengambil peran. Ia memprakarsai dibukanya sekolah-sekolah darurat serta mengusulkan dibukanya Madrasah Tsanawiyah di seluruh wilayah Sumatera.

1951
Berkat perjuangan Mahmoed Joenoes, Departemen Pendidikan dan Pengajaran RI akhirnya menetapkan mata pelajaran agama Islam menjadi bagian resmi dari kurikulum pendidikan nasional. Kebijakan ini mulai diajarkan di setiap jenjang sekolah negeri maupun swasta pada 20 Januari 1951.

1957
Mahmoed Joenoes ditunjuk sebagai rektor pertama Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) yang didirikan Departemen Agama pada 1 Juni 1957. Atas usulan Mahmoed, ADIA dilebur dengan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) atau Universitas Islam Negeri (UIN). Mahmoed sempat menjabat Rektor IAIN Imam Bonjol di Padang.

1982
Dalam usia 82 tahun, Mahmoed Joenoes wafat di Jakarta pada 16 Januari 1982. Di sepanjang hidupnya, ia telah menulis lebih dari 75 judul buku yang masih dijadikan rujukan untuk pengajaran sekolah Islam sampai saat ini.

Leave a Reply