RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Memahami Silat Minangkabau dari Pakaian dan Gerakan

Memahami Silat Minangkabau dari Pakaian dan Gerakan

Silat Minangkabau adalah seni beladiri yang dimiliki oleh masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat, Indonesia yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Masyarakat Minangkabau memiliki tabiat suka merantau semenjak beratus-ratus tahun yang lampau. Untuk merantau tentu saja mereka harus memiliki bekal yang cukup dalam menjaga diri dari hal-hal terburuk selama di perjalanan atau di rantau.

Nah sekarang yang mau dijelaskan silat itu sendiri, memahami silat minangkabau dari pakaian dan gerakanya. DETA adalah sebutan untuk ikat kepala yang dibentuk menyerupai tanduk beragam corak terpasang kokoh di kepala. Di bagian bawah, tampak jua songket yang dilipat dua tersemat menutupi pinggang hingga bagian paha atas. Pakaian ini sudah lumrah dipakai sang Pasilek atau pesilat di Minangkabau.

“Warna hitam yang dipakai bermakna, keluhuran budi. Kalau hijau maknanya siklus alam. Pariangan hijau. Ada yang namanya deta, seperti sapu tangan diikat seperti tanduk, lalu pakai baju silek, celana bahan,” jelas Irwan Malinbasa, Tetua Adat Nagari Pariangan seperti dilansir Antara.

Namun, pakaian di atas bukanlah satu-satunya seragam pasilek Minangkabau. Irwan melanjutkan, para pesilat juga bisa mengenakan atasan baju muslim dan mengganti deta dengan peci, lalu menyematkan sarung di atas kedua pundak mereka.

“Dulunya, saya belajar silek itu di surau, di rumah gadang, pakai celana bahan, pakai baju muslim, pakai sarung, peci. Sarung dan peci tidak boleh jatuh. Kalau jatuh berarti belum sempurna dalam langkah,” kenangnya.

Pada zaman sekarang, selain sebagai ilmu beladiri silek juga ditampilkan di festival-festival karena memiliki nilai seni yang tinggi, khususnya silek Minangkabau.

Dalam pertunjukannya, silek minangkabau sebelum memulai, para pasilek terlebih dahulu melepas alas kaki. Kemudian mereka saling memberi hormat, lalu bersiap memperagakan jurus silek sesuai aliran yang dikembangkan perguruan masing-masing di depan hadirin. Ada jurus memutar, mengelak dan menyerang.

Saat ini ada ratusan perguruan silek di ranah Minang dengan beragam aliran, sebut saja Perguruan Silek Pariangan, Silek Lintau, Silek Kumango, Silek Sungai Patai, Silek Maninjau, Silek Payakumbuh, Silek Solok Selatan, Silek Bukitinggi.

“Bedanya masing-masing. Dari sejarah, gerakan, memaknai silek, pakaian dan langkah berbeda. Pakaian dari segi warna tergantung alamnya, langkah macam-macam, senjatanya macam-macam tergantung wilayah masing-masing,” papar Irwan.

Indrayuda yang dulu mengemban tugas sebagai Direktur Silek Arts Festival (SAF) 2018 pernah mengatakan bahwa silek merupakan entitas budaya yang memayungi empat aspek, yakni teater, seni olah tubuh, tari, beladiri.

Secara umum, style silek dan silat di wilayah lain semisal Jawa Barat bisa dibedakan dari sisi posisi sikap dan jurusnya.

“Sunda lebih banyak gerakan dari pinggang ke atas. Sumatera Barat ada gerakan kuncian, sapuan, bantingan. Kalau silat Jawa banyak senjata. Kalau Sumatera Barat hanya tiga senjata,” katanya. Selain itu, silek lebih banyak menggunakan gerakan membuka atau menantang dan menutup.

Leave a Reply