RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Melihat Kemegahan Istana Pagaruyung di Sumbar

Melihat Kemegahan Istana Pagaruyung di Sumbar

Bila berakhir pekan di Tanah Datar, Sumbar, sempatkan wisata ke Istana Pagaruyung. Traveler bisa menjelajahi berbagai sisi istana ini. Istano Baso Pagaruyuang, atau yang lebih dikenal dengan Istana Pagaruyung terletak di kota Batusangkar, kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Pada awalnya istana ini dibangun sebagai kediaman keluarga Kerajaan Pagaruyung dan kini sudah beralih fungsi sebagai objek wisata.

Istana Pagaruyung yang berdiri sekarang adalah replika karena istana yang asli pernah terbakar akibat kerusuhan pada tahun 1804. Istana tersebut kemudian didirikan kembali, namun kembali terbakar pada tahun 1966 dan 2007. Kebakaran tersebut menyebabkan sebagian dokumen, kain-kain hiasan serta barang-barang berharga lainnya ikut terbakar.

Mengunjungi Istana Pagaruyung kita akan dikenakan tiket masuk sebesar Rp 15.000 untuk wisatawan lokal dan Rp 25.00 untuk wisatawan mancanegara. Berjalan lurus dari gerbang Istana Pagaruyung akan tampak istana 3 tingkat yang begitu megah.

Di kanan dan kirinya juga terdapat beberapa bangunan kecil sebagaimana kebanyakan rumah gadang seperti tempat lumbung padi, patung kerbau (hewan khas minangkabau) juga taman yang cocok untuk dijadikan tempat piknik bersama keluarga.

Selain itu, tidak perlu khawatir akan letih mengelilingi komplek yang cukup luas ini, pasalnya di objek wisata ini terdapat kereta yang akan mengantarkan traveler mengelilingi kompleks istana.

Masuk ke dalam istana, kita harus melepas alas kaki. Beberapa pedagang tampak menjajakan kantong plastik untuk menyimpan sepatu bagi yang takut hilang. Begitu masuk terdengar suara nyanyian lagu-lagu Minang membuat saya merasakan vibes yang berbeda, rasanya semakin cinta dengan kampung halaman yang sudah lama tak dikunjungi ini.

Istana ini berbentuk seperti rumah gadang, 3 tingkat, dengan hiasan ukiran yang sungguh indah. Tidak hanya di dindingnya tapi juga langit-langit istana. Warna-warni ukiran tersebut ditambah kain-kain hiasan yang berpadu indah membuat saya tak berhenti berdecak kagum.

Di lantai 1 terdapat 2 bagian yang lebih tinggi diujung kanan dan kiri, bagian ini disebut Anjuang. Anjuang yang sebelah kanan disebut Anjuang Rajo Babandiang sedangkan yang sebelah kiri disebut Anjuang Perak. Anjuang diperuntukkan untuk raja, baik untuk bermusyawarah, bermeditasi serta sebagai kamar tidur dengan permaisurinya.

Selain itu, di lantai 1 terdapat 7 kamar untuk anak raja yang sudah menikah, anak yang paling tua menempati kamar yang paling kanan begitu seterusnya hingga anak yang termuda menempati kamar yang paling kiri.

Tepat di tengah ruangan, terdapat sebuah singgasana yang disebut Bunda Kanduang yang diduduki oleh ibunda raja sebagai tempat untuk mengawasi tamu-tamu yang datang dan mengawasi rapat atau perjamuan berjalan dengan baik. Karena fungsinya yang kini sebagai objek wisata, di lantai 1 juga terdapat beberapa etalase yang berisi barang-barang peninggalan kerajaan serta beberapa patung yang mengenakan pakaian khas Sumatera Barat.

Berjalan ke arah belakang terdapat dapur dan tempat penyimpanan bahan makanan yang cukup luas dari ukuran dapur pada umumnya. Di Padang ini adalah hal yang wajar dan mayoritas rumah penduduk juga memilik dapur yang cukup besar, bahkan ada yang hampir sama luas dengan rumahnya sendiri.

Terkadang beberapa rumah bahkan memiliki dapur yang terpisah dari kesatuan rumah. Hal ini berkaitan dengan kebiasaan masyarakat minang yang suka memasak dan makan, bisa dilihat dari banyaknya rumah makan padang yang tersebar baik di wilayah Sumatera Barat, ataupun di luar wilayah Sumatera Barat.

Naik ke lantai 2 traveler akan melihat ruangan kosong yang cukup luas, ruangan ini disebut Anjuang Paranginan yang diperuntukkan sebagai kamar anak perempuan raja yang belum menikah. Dari lantai 2 ini kita bisa melihat bukit hijau yang ada dibelakang istana.

Lantai ini luasnya lebih kecil dibandingkan lantai dibawahnya. Lanjut ke lantai 3, lantai ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan alat-alat kebesaran raja seperti mahkota kerajaan. Lantai ini cukup kecil tapi sangat sejuk dengan angin yang berhembus semilir.

Di istana ini juga disewakan pakaian adat minangkabau dengan biaya sewa Rp 30.000 untuk dewasa dan Rp 20.000 untuk anak-anak. Tak sedikit yang menjadikan ini sebagai ajang untuk berfoto keluarga atau foto kelompok. Apalagi banyak fotografer yang bersedia memotret traveler dan tak perlu menunggu lama foto tersebut dapat langsung dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.

Leave a Reply