RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Marah Rusli dan Roman Legendaris Siti Nurbaya

Hampir satu abad sejak pertama kali hadir ke tengah masyarakat, Siti Nurbaya tetap menjadi cerita yang pas untuk mengambarkan kasih tak sampai dan perjodohan. Roman terbitan Balai Pustaka pada tahun 1922 itu begitu lekat dalam ingatan masyarakat.

Penulis roman itu, Marah Rusli, lahir di Kampung Jawa, Padang, Sumatra Barat pada 7 Agustus 1889, bertepatan dengan 10 Zulhijjah 1307, atau tepat 130 tahun lalu dari hari ini, Rabu (7/8/2019).

“Katakan pada mama, cinta bukan hanya harta dan tahta, pastikan pada semua, hanya cinta yang sejukkan dunia,” petikan lirik lagu Dewa 19 berjudul Cukup Siti Nurbaya yang rilis pada tahun 1995.

Jauh sebelum Dewa 19, Liem Stone Band sudah menyanyikan lagu berjudul Siti Nurbaya yang diciptakan oleh Yoserizal. Sementara, pencipta lagu Minang lain, Nuskan Syarif juga menciptakan lagu dengan judul yang sama.

Selain menjadi lagu, roman Siti Nurbaya juga pernah diadaptasi ke layar kaca. Pada tahun 1991, di tangan sutradara Dedi Setiadi, Siti Nurbaya tidak lagi menjadi sebatas sosok di dalam ingatan. Begitu juga dengan Samsul Bahri dan Datuk Maringgih.

Novia Kolopaking adalah aktris yang berkesempatan menjadi sosok Siti Nurbaya. Selain itu, Gusti Randa memerankan Samsul Bahri dan Him Dasyik sebagai Datuk Maringih. Roman itu diadaptasi dalam film berjudul Siti Nurbaya (Kasih Tak Sampai) yang ditayangkan pertama kali di TVRI pada 7 September 1991.

Begitu populernya roman ini, bahkan membuat beberapa orang meyakini bahwa Siti Nurbaya bukanlah tokoh fiktif. Banyak yang mengira Siti Nurbaya adalah kejadian sebenarnya. Berbagai pembuktian pun mereka sebutkan. Seperti, keberadaan bukit Gunung Padang hingga sebuah makam yang berada di sela batu karang di bukit tersebut.

Tak dapat dimungkiri, kekuatan cerita Siti Nurbaya dengan latar Kota Padang awal abad 20 itu membuatnya begitu lekat di ingatan masyarakat. Mulai dari kisah cinta Siti dengan Samsul Bahri, perjodohan Siti dengan Datuk Maringgih lantaran utang orang tua, hingga kematiannya yang tragis.

Siti Nurbaya yang begitu populer itu tidak akan pernah hadir ke masyarakat tanpa adanya ide dari seorang Marah Rusli. Seorang pengarang kelahiran Minangkabau di penghujung abad ke 19.

Siti Nurbaya bukanlah satu-satunya karya yang lahir dari tangan Marah Rusli. Beberapa karyanya yang lain adalah Lasmi tahun 1924, Anak dan Kemenakan tahun 1956, Memang Jodoh, Tesna Zahera, Anak Kandung serta cerita anak berjudul Tambang Intan Nabi Sulaiman.

Marah Rusli menghadirkan Siti Nurbaya dengan gaya baru, ketika pada masa tersebut penulisan prosa masih berbentuk hikayat. Berkat karya fenomenal itu, H.B Jassin memberinya gelar Bapak Roman Modern Indonesia.

Pada biodata diri yang ia tulis sendiri dalam form Pendaftaran Orang Indonesia Jang Terkemoeka Jang Ada di Djawa pada masa Jepang, selain dikenal sebagai sastrawan, Marah Rusli berprofesi seorang dokter hewan.

Pendidikannya diawali dengan belajar di sekolah rendah, Padang tahun 1904. Kemudian dilanjutkan ke Sekolah Raja Bukittinggi yang selesai pada 1910. Sementara sekolah dokter hewan yang ditempuhnya di Bogor, selesai pada tahun 1915.

Selama di perantauan untuk menempuh pendidikan, ia menikahi Raden Sekar Ratna Kencana Wati. Pasangan ini kemudian dianugerahi tiga orang anak, yaitu Safhan Rusli, Ruslan Rusli dan Nani Rusli. Marah Rusli tutup usia pada 17 Januari 1968 di Bandung.

Mengutip dari laman Langgam.id

Leave a Reply