RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Makna Menarik Tari Payuang, Tarian Khas Minang Selain Tari Piring

Makna Menarik Tari Payuang, Tarian Khas Minang Selain Tari Piring

Masyarakat Minangkabau telah lama berada di Tanah Deli, Medan, Sumatera Utara. Keberadaan mereka juga memperkaya kebudayaan dan kesenian yang ada di Kota Medan. Satu di antara kesenian masyarakat Minangkabau yang menarik untuk diulas adalah tariannya, misalnya Tari Payuang.

Tari Payuang merupakan tarian pergaulan muda-mudi masyarakat Minangkabau yang populer. Musik penggiringnya berciri khas hitungan ketukan pada gendangnya.

Penari pria memakai kostum taluak balango, berkopiah, bercelana panjang dan sesamping dari kain sarung. Sedangkan wanita memakai sunting kecil, baju kurung, sarung songket dan selendang.

Disebut Tari Payuang, karena tarian ini menggunakan payung sebagai propertinya. Selain payung, Tari Payuang juga menggunakan selendang.

Ditarikan oleh sepasang muda-mudi, Tarian ini menggambarkan suasana kegembiraan antara sepasang kekasih. Bisa dikatakan, Tari Payuang merupakan tarian cinta muda-mudi masyarakat Minangkabau.

“Jadi kalau Tari Payuang ini asalnya dari seluruh wilayah Minangkabau. Semua daerah Minangkabau ada tarian itu. Tapi dulu tarian ini hanya ada di kerajaan untuk acara adat atau menyambut tamu raja,” ujar Datuak angkatan 2015 Ikatan Mahasiswa Imam Bonjol (IMIB) Universitas Sumatera Utara, Songsang Bimantara Kukuh, Senin (30/4/2018).

Bima yang merupakan keturunan datok mulai dari buyut, kakek, ayah dan akan meneruskan poros pemerintahan kedatukan suku Koto di kampung halamannya ini juga menjelaskan, tarian ini menceritakan tentang sepasang manusia, yakni laki-laki dan perempuan.

Setiap gerakan tarian menceritakan bagaimana sepasang anak manusia ini saling mencari pasangan, kemudian bertemu dan bersama. Payung dan selendang juga memiliki arti sebagai simbol cinta.

Saat ini, tarian ini sering ditampilkan di pagelaran budaya Minangkabau, seperti Pagelaran Budaya Minangkabau di Gelanggang Mahasiswa USU, Jumat (29/4/2018) lalu. Namun sebelum itu, Bima menuturkan, tarian ini tak boleh ditampilkan selain di wilayah kerajaan.

“Dulu tarian ini enggak boleh dilakukan di luar wilayah kerajaan. Namun seiring berkembangnya zaman, tarian ini sudah menyebar luas ke masyarakat dan ditetapkan sebagai nilai budaya masyarakat Minangkabau,” katanya.

Bima pun menjelaskan, di wilayah Minangkabau, tarian ini dulunya ditampilkan di acara pernikahan. Namun sekarang hal tersebut sudah berkurang. Pada umumnya saat pernikahan hanya memutar lagunya saja.

“Sekarang ini Tari Payuang lebih sering ditampilkan di acara pagelaran,” tuturnya. Tribun

Leave a Reply