RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Makna Kesakralan Prosesi Pernikahan Adat Minang

Makna Kesakralan Prosesi Pernikahan Adat Minang

Adat Minang menganut sistem kekerabatan matrilineal, sehingga garis keturunan berdasarkan jalur perempuan. Suku Minangkabau atau yang kerap disingkat Minang secara geografis mencakup daerah di daratan pulau Sumatra. Hal yang membuat unik adat Minang dan berbagai kultur yang mencakup budaya yang dianut, termasuk pada pernikahan adat Minang sendiri.

Rangkaian prosesi pernikahan adat Minang sarat akan nilai-nilai kehidupan, sehingga ritual pada prosesi pernikahan ini masih terus dipertahankan sampai sekarang. Untuk lebih lengkapnya, simak penjelasannya di bawah ini yuk!

1. Marasek adalah penentuan pasangan di mana penjajakan dilakukan oleh pihak keluarga wanita dengan tujuan mencari pemuda yang cocok. Marasek bertujuan untuk menentukan pemuda yang cocok untuk mau berbagi kasih dalam suka maupun duka. Dalam tradisi Minang, hal ini dilakukan oleh pihak keluarga wanita yang sudah dituakan dan diutus untuk mencari tahu siapa pemuda yang sekiranya cocok untuk menikahi si gadis. Ritual ini dilakukan selama beberapa kali sampai menemukan pemuda yang cocok.

2. Maminang adalah pinangan resmi oleh keluarga wanita yang membawa hantaran berupa sirih pinang, diharapkan pertemuan dapat berkesan. Maminang adalah pinangan resmi yang dilakukan oleh orang tua kedua belah pihak jika marasek membuahkan hasil positif dan sudah disepakati. Ketika datang ke kediaman laki-laki, keluarga mempelai wanita membawa hantaran berupa buah tangan, yang wajib ada adalah sirih pinang. Arti dari buah tangan yang manis dan ditata rapi ini agar calon besan bisa mengingat pertemuan sehingga pertemuan kedua keluarga dapat berkesan.

3. Mahanta siri dilakukan oleh mempelai pria yang memohon restu pada orangtua dan saudara, tujuannya mendapat dukungan dari keluarga besar. Sebelum proses mahanta siri, biasanya dilakukan ritual batimbang tando yang merupakan pertukaran benda pusaka seperti keris, kain adat, atau benda lain yang memiliki sejarah dan tata cara penjemputan mempelai pria. Setelah itu baru mahanta siri, dimana calon mempelai pria memohon doa restu pada orangtua dan sanak saudara agar pernikahan berjalan lancar. Biasanya mempelai pria akan membawa daun nipah dan tembakau, kemudian keluarga yang didatangi memberi bantuan untuk memikul beban dan biaya pernikahan.

4. Babako-babaki adalah prosesi di mana ayah calon mempelai wanita ikut memberi hantaran, artinya biaya pernikahan ditopang kedua belah pihak. Bukan hanya pihak laki-laki yang mengeluarkan biaya pernikahan tapi juga pihak perempuan, ritual ini dinamakan dengan babako-babaki. Pada babako-babaki calon mempelai wanita membawa berbagai hantaran seperti sirih, nasi kuning, makanan adat, busana, perhiasan emas, dll. Setelah itu mempelai wanita dijemput untuk mendapat petatah-petitih (nasihat) di rumah keluarga pihak ayah. Paginya, mempelai wanita diarak ke rumahnya dengan membawa hantaran.

5. Malam bainai dilakukan mempelai wanita sehari sebelum akad, tujuannya untuk mendapat doa restu dari para sesepuh. Malam bainai dilakukan sehari sebelum akad oleh mempelai wanita. Bainai adalah melekatkan tumbukan halus daun pacar merah atau daun inai ke setiap kuku calon pengantin. Ritual ini menyimbolkan kasih sayang dan doa restu para sesepuh keluarga mempelai wanita.

6. Manjapuik marapuai adalah prosesi saat mempelai pria dijemput untuk akad nikah, pada ritual ini mempelai wanita menjemput rombongan. Salah satu yang merupakan prosesi penting adalah manjapuik marapuai, di mana mempelai pria dijemput dan diarak bersama rombongan ke kediaman calon mempelai wanita. Saat proses penjemputan mempelai wanita membawa sirih lengkap sebagai tanda tata krama dan dilakukan prosesi sembah-menyembah serta mengutarakan maksud kedatangan sebelum melangsungkan akad nikah. Penyambutan di rumah anak daro (mempelai wanita) adalah momen meriah yang diiringi musik tradisional dari telempong. Para sesepuh menaburi calon pengantin pria dengan beras kuning. Sebelum masuk rumah, kaki mempelai pria diperciki air untuk mensucikan diri dan berjalan di kain putih tempat berlangsungnya akad nikah.

7. Upacara setelah akad nikah dimulai dengan mamulangkan tando, mengadu kening, sampai bamain coki. Setelah akad selesai, prosesi setelah pernikahan dimulai dengan memulangkan tando yang berarti tanda yang diberikan sebagai ikatan janji dipulangkan oleh kedua pihak. Kemudian mengumumkan gelar pengantin pria yang menjadi tanda kehormatan dan kedewasaan. Setelah itu, memadukan kening kedua pengantin dengan dibimbing oleh para sesepuh wanita. Selanjutnya adalah mangaruak nasi kuning di mana kedua mempelai berebut mengambil daging ayam yang tersembunyi di nasi kuning, yang berarti bahwa hubungan kerjasama suami istri harus saling melengkapi satu dengan yang lain. Terakhir adalah bermain coki, semacam permainan halma yang merupakan permainan tradisional adat Minang. Bamain coki mengisyaratkan bahwa kedua mempelai harapannya bisa saling meluluhkan kekakuan dan egonya masing-masing agar tercipta kemesraan.

Jadi itulah tadi beberapa rangkaian dari prosesi pernikahan adat Minang yang masih dilestarikan sampai sekarang. Setiap ritualnya mengandung nasihat dari para sesepuh yang sarat nilai luhur.

Leave a Reply