RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Kisah Unik Sejarah Terminal Bus Kota Padang yang Melegenda

Kisah Unik Sejarah Terminal Bus Kota Padang yang Melegenda

Artikel ini tentang terminal bus kota Padang. Kota Padang merupakan kota terbesar di pantai barat Pulau Sumatera sekaligus ibu kota dari provinsi Sumatera Barat. Kota ini merupakan pintu gerbang barat Indonesia dari Samudra Hindia. Kota Padang memiliki wilayah seluas 694,96 km persegi dengan kondisi geografi berbatasan dengan laut dan dikelilingi perbukitan dengan ketinggian mencapai 1.853 mdpl.

Dikutip covesia.com dari Wikipedia, sejarah Kota Padang tidak terlepas dari peranannya sebagai kawasan rantau Minangkabau, yang berawal dari perkampungan nelayan di muara Batang Arau lalu berkembang menjadi bandar pelabuhan yang ramai setelah masuknya Belanda di bawah bendera Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Hari jadi kota Padang ditetapkan pada 7 Agustus 1669, yang merupakan hari terjadinya pergolakan masyarakat Pauh dan Koto Tangah melawan monopoli VOC. Selama penjajahan Belanda, kota ini menjadi pusat perdagangan emas, teh, kopi, dan rempah-rempah.

Memasuki abad ke-20, ekspor batu bara dan semen mulai dilakukan melalui Pelabuhan Teluk Bayur. Saat ini, infrastruktur Kota Padang telah dilengkapi oleh Bandar Udara Internasional Minangkabau, serta jalur kereta api yang terhubung dengan kota lain di Sumatera Barat.

Sentra perniagaan kota ini berada di Pasar Raya Padang, dan didukung oleh sejumlah pusat perbelanjaan modern dan 16 pasar tradisional. Padang merupakan salah satu pusat pendidikan terkemuka di luar Pulau Jawa, ditopang dengan keberadaan puluhan perguruan tinggi, termasuk tiga universitas negeri.

Sebagai kota seni dan budaya, Padang dikenal dengan legenda Malin Kundang dan Siti Nurbaya, dan setiap tahunnya menyelenggarakan berbagai festival untuk menunjang sektor kepariwisataan. Di kalangan masyarakat Indonesia, nama kota ini umumnya diasosiasikan dengan etnis Minangkabau dan masakan khas mereka yang umumnya dikenal sebagai masakan Padang.

Pada awalnya rute utama yang menghubungkan kawasan rantau (Kota Padang) dengan darek (pedalaman Minangkabau) pada masa lalu adalah jalur yang pernah ditempuh Raffles pada tahun 1818 untuk menuju Pagaruyung melalui kawasan Kubung XIII di Kabupaten Solok sekarang.

Saat ini ada tiga ruas jalan utama yang menghubungkan Kota Padang dengan kota-kota lain di Sumatera. Jalan ke utara menghubungkan kota ini dengan Kota Bukittinggi, dan di sana bercabang ke Kota Medan dan Pekanbaru. Terdapat pula cabang jalan di dekat Lubuk Alung ke arah Kota Pariaman. Jalan ke timur menuju Kota Solok, yang tersambung dengan Jalan Raya Lintas Sumatera bagian tengah.

Sebelumnya, di Arosuka terdapat persimpangan menuju Kota Jambi melalui Kabupaten Solok Selatan. Jalan ke selatan yang menyusuri pantai barat Sumatera menghubungkan Kota Padang dengan Kota Bengkulu melalui Kabupaten Pesisir Selatan.

Penemuan cadangan batubara di Kota Sawahlunto mendorong Pemerintah Hindia Belanda membangun rel kereta api serta rute jalan baru melalui Kota Padang Panjang sekarang, yang diselesaikan pada 1896.

Jalur kereta api ini juga menghubungkan Kota Padang dengan kota-kota lain seperti Kota Pariaman, Kota Solok, Kota Bukittinggi, dan Kota Payakumbuh. Saat ini rel kereta api yang aktif hanyalah jaringan komuter Padang-Pariaman menggunakan kereta api Sibinuang, dan Indarung-Bukit putus untuk pengangkutan semen ke pelabuhan.

Kereta api baru ke bandar udara Minangkabau telah dipersiapkan sejak 2012 dengan mendatangkan railbus, namun diperkirakan baru akan dapat dioperasikan pada pertengahan tahun 2018.

Kota Padang yang merupakan ibukota Provinsi Sumatera Barat sampai hari ini masih belum mempunyai sebuah terminal bus Kota Padang. Cukup ironis memang dan kondisi ini telah berlangsung cukup lama. Sejak terminal bus Kota Padang Lintas Andalas berubah fungsi menjadi pusat perbelanjaan sejak itu pula kendaraan umum di Kota Bingkuang tak mempunyai rumah.

Pemerintah Kota Padang sempat membangun terminal Bingkuang di kawasan Aia Pacah. Namun entah karena apa terminal tersebut akhirnya tidak berfungsi dan sekarang justru dialihfungsikan menjadi pusat pemerintahan Kota Padang dipindahkan ke lokasi tersebut.

Tidak adanya terminal bus Kota Padang membuat kota menjadi semrawut. Terminal bayangan muncul dimana-mana dan menjadi salah satu penyebab kemacetan di Kota Padang. Tidak adanya terminal membuat supir angkot dan supir bus AKDP mencari tempat sendiri-sendiri untuk ngetem dan mencari penumpang.

Keberadaan Terminal Andalas sejak 1972 hingga 2002 tidak hanya sekadar titik simpul transportasi publik di ibukota Sumatera Barat. Terminal Andalas juga berfungsi sebagai sudut simpul peraduan rindu.

Pembangunan Terminal Lintas Andalas karena makin meningkatnya jumlah kendaraan penumpang di Kota Padang sehingga tidak tertampung lagi di Terminal Goan Hoat dan mulai dioperasikan pada tahun 1972 di bawah pengawasan Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya.

Menurut berbagai cerita, sebelum kawasan ini dibangun, terminal Lintas Andalas dulunya merupakan kuburan orang-orang Belanda. Lokasi Terminal Lintas Andalas yang berada di pusat kota menjadi lahan perekonomian baru bagi masyarakat Minang yang bergerak di sektor informal seperti pedagang dan agen penjualan tiket bus.

Padang pada era 1970 hingga 80-an adalah kota yang bersih dan teratur. Ketika itu, terminal bus antar kota digunakan sebagaimana layaknya sebuah terminal. Bus antar kota dan propinsi keluar masuk dengan tertib di Terminal Lintas Andalas yang terletak di jalan Pemuda, sekarang menjelma Plasa Andalas (Ramayana).

Kawasan Aiapacah dirasa sebagai lokasi strategis bagi terminal baru. Daerah penghubung dari pelabuhan Teluk Bayur dan Bandara Internasional Minangkabau (BIM).

Pada tahun 1998, terminal baru, yang diberi nama Terminal Regional Bingkuang mulai dilakukan uji coba. Sejumlah Perusahaan Oto (PO) dan sopir menolak pindah ke lokasi baru yang berada di jl By Pass, Air Pacah dengan alasan jarak yang agak jauh lebih kurang 6 KM dari pusat kota dan minimnya moda transportasi ke pusat kota.

Lalu, Terminal Regional Bingkuang dioperasikan untuk ke dua kalinya di tahun 2002. Instruksi untuk mengosongkan terminal Lintas Andalas harga mati yang harus diikuti. Kehilangan Terminal Lintas Andalas mengakibatkan matinya ekonomi masyarakat di sekitar terminal. Beberapa titik terminal bayangan menjamur. Di Jalan Hamka, Simpang Lubukbegalung, simpang Gaung, depan Basko, simpang Balai Kota lama dan lainnya.

Terminal bus Regional Bingkuang tidak berjalan sesuai perencanaan. Pemko Padang berencana memindahkan lagi terminal bus Kota Padang ke Anakaia, Kecamatan Kototangah. Sampai hari ini terminal bus Kota Padang yang direncanakan masih dalam proses land clearing dan penimbunan. Dishubkominfo Padang menargetkan pembangunan terminal Tipe A itu selesai pada 2018. (Baca : Ulasan Tentang Suku Sikumbang)

Karena itu, kini Padang mungkin satu-satunya kota besar di Indonesia yang saat ini tidak memiliki terminal bus AKAP. covesia.com

Leave a Reply