RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Kekalahan Penjajah ( Belanda ) Di Bukit Marapalam

Kekalahan Penjajah ( Belanda ) Di Bukit Marapalam

Menggunakan kekuatan hampir 13 ribu orang, pasukan Belanda dan kaum adat bersiap. Tujuan mereka adalah benteng Padri di Bukit Marapalam, Tanah Datar. Mereka akan masuk melalui Tanjung Barulak sebelum melancarkan serangan ke Bukit Marapalam. Strateginya, adalah menguasai terlebih dahulu dua bukit di sekitar bukit tersebut.

“Tentara Belanda tanggal 14 April 1823 bergerak menuju Tanjung Barulak, dan terus ke Bukit Baru,” tulis Muhammad Radjab dalam Buku ‘Perang Paderi di Sumatera Barat, 1803-1838’ (1964). Peristiwa itu terjadi tepat 196 tahun yang lalu dari hari ini, Ahad (14/4/2019).

Sejarawan Christine Dobbin menulis, Komandan Pasukan Belanda Letnan Kolonel Antoine Theodore Raaff menyusun rencana besar untuk merebut Lintau dengan menyerang bentengnya di Gunung Marapalam.

“Sesudah itu, pasukan Belanda akan menyerbu Limapuluh Kota, terus ke Agam dan kembali ke Danau Singkarak. Dengan demikian, Belanda akan mampu menguasai keempat lembah di Dataran Tinggi Minangkabau,” tulisnya dalam Buku ‘Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam dan Gerakan Padri: Minangkabau 1784-1847’ (1983).

Memperluas kekuasaan di wilayah pedalaman Minangkabau adalah obsesi perwira muda kelahiran 1794 tahun tersebut. Raaff masih berusia 28 tahun pada 1822 saat berhasil menguasai Pagaruyung dan Batusangkar serta merebutnya dari tangan Pasukan Padri.

Namun, posisi mereka tak pernah beranjak dari Batusangkar, tempat Belanda mendirikan Benteng Fort Van der Capellen. Pasukan Padri seperti momok bagi Raaff. Pasukannya gagal menguasai Agam pada 1822 saat dihantam Pasukan Tuanku Nan Renceh. Kini ia menyasar Pasukan Padri Lintau yang sempat membalas kekalahan mereka setelah serangan Raaff.

Pada akhir 1822 dan awal 1823, bantuan datang dari Batavia. Menurut Radjab, Raaff mengerahkan pasukan dengan kekuatan 26 opsir, 582 serdadu darat dari 39 serdadu laut. “Meriamnya dua dari 6 pon, 4 dari 3 pon, dan 2 houwitser. Kaum adat yang membantu 12.000 orang, di antaranya 2000 memanggul senapan,” tulisnya.

Sebelum menyerang Marapalam, menurut Radjab, Belanda menghubungi dan mengadakan perjanjian rahasia dengan para penghulu-penghulu di Buo. “Agar mereka tidak memukul tentara Belanda dari belakang.”

Belanda kemudian meminta sebagian tentara dan kaum adat untuk tinggal di Barulak, Tanjung Alam. Mereka dipersiapkan untuk menyerbu Limapuluh Kota, bila Belanda menang di Marapalam. “Di Air Bertumbuk (Aia Batumbuak) disiapkannya beberapa ribu kaum adat, supaya Padri membagi-bagi kekuatannya, dan tidak terlalu banyak di Marapalam,” tulis Radjab.

Bukit Bonio, Bukit Gedung dan Bukit Baru di dekat Marapalam menjadi tujuan pasukan Belanda saat bergerak pada 14 April yang dipimpin Mayor Laemlin. “Jam 1 siang tentara Belanda sampai di sana dan direbutnya kubu Padri di Bukit Gedung, yang kurang kuat penjagaannya. Tetapi meminta korban 4 serdadu Belanda,” tulis Radjab.

Baru saja bukit direbut, Belanda menyeret dua pucuk meriam ke puncaknya. Sementara, meriam yang lain ditarik ke atas Bukit Bonio dan Bukit Baru. Ketika pasukan Belanda menyeret meriam itu, pasukan Padri datang silih berganti menghalangi. Namun, bukit-bukit itu akhirnya dapat diduduki.

Keesokan harinja, Belanda menambah kekuatan di Bukit Gedung dengan 2000 kaum adat yang telah telah dibagi untuk menjaga masing-masing bukit yang direbut. Baru saja Padri melihat tentara Belanda memasang meriamnya di Bukit Bonio, mereka berbondong-bondong meninggalkan kubunya dan berupaya merebut puncak bukit tersebut.

Dengan tidak mempedulikan tembakan senapan Belanda yang serentak dahsyat, Padri terus menyerbu. Di puncak bukit mereka ditunggu oleh serdadu-serdadu Belanda dengan bayonet terhunus. “Lalu terjadilah perkelahian satu lawan satu yang sengit, kejam, dan banyak menumpahkan darah,” tulis Radjab.

Menurutnya, Padri lama-kelamaan mundur, karena banyak yang tewas. Di pihak Belanda juga banyak yang tewas. Keduanya sama menarik pasukannya. Setelah itu, kaum Padri dihujani dengan tembakan meriam dari Bukit Bonio dan Gedung. “Ketika disangkanya kubu Padri cukup rusak dan lawannya lemah, mereka menyerbu ke garis pertahanan Padri,” tulis Radjab.

Namun, serangan itu lemah karena para opsir dan perwira Belanda tak berada di depan. Prajurit kehilangan kepercayaan diri sehingga mereka menjadi korban pasukan Padri.”Di dalam pertempuran ini bertambah banyak korban di pihak Belanda dan lagi opsirnya banyak yang mati dan luka-luka,” tulis Radjab.

Mayor Laemlin yang melihat sebagian pasukannya telah menyerang, lalu mengerahkan dua kompi untuk menyerbu pula. “Tetapi serbuan ini sangat meletihkan, sebab mereka harus menyeberangi empat parit yang beranjau-ranjau,” tulis Radjab.

Sementara, pasukan Padri yang menghalau pasukan Belanda ke Bukit Bonio dan Bukit Gedung juga kembali membantu memperkuat pertahanan. Kembali banyak tentara Belanda menjadi korban.

Dobbin menulis, serangan ini gagal karena kuatnya kedudukan Padri di Bukit Marapalam yang merupakan jalan untuk mendekati Lintau. “Sejak tanggal ini, semangat Belanda untuk ekspansi di Minangkabau menurun,” tulisnya.

Kondisi ini karena kemudian Belanda harus berkonsentrasi menghadapi Perang Diponegoro di Pulau Jawa. Belanda bahkan membuat perjanjian damai dengan Padri pada 1825. Kondisi tersebut bertahan tahun 1830-an ketika Perang Padri memasuki babak baru, saat kaum adat bersatu dengan padri melawan Belanda.

Mengutip dari Langgam.id

Leave a Reply