RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Kebuntuan Belanda Dalam Menembus Pertahanan Padri

Kebuntuan Belanda Dalam Menembus Pertahanan Padri

Sejarah mencatat selama 16 tahun sejak 1821, Padri tak bisa ditakhlukkan tentara Belanda. Usaha intensif menyerang Benteng Bonjol sejak 1833 di bawah dua gubernur jenderal juga tidak membuahkan hasil. Situasi tersebut tak berubah saat veteran Perang Diponegoro Mayor Jenderal Johannes Baptista Cleerens yang memimpin perang pada 1836. Ia tak pernah berhasil mendekati Benteng Bonjol.

Hari Jadi Kabupaten Solok dan Limapuluh Kota, 2 Afdeeling Zaman Kolonial. “Ketika berita penting ini diterima di Batavia, Pemerintah mengirim Komandan Tentara Hindia Belanda Jenderal Cochius. Pada 12 April 1837, ia sampai di Bonjol,” tulis GJA Beijerinck dalam Buku ‘De Gids: Nieuwe Vaderlandsche Letteroefeningen’ (1850).

Sama halnya dengan Cleerens, Cochius juga adalah ‘alumni’ Perang Diponegoro. Belanda yang telah berperang dengan Padri sejak 1821, sengaja berdamai agar bisa berkonsentrasi menghadapi Diponegoro pada 1825-1830.

Usai perang itu, pada 1831 mereka kembali menyerang Padri. Para perwiranya yang dinilai berhasil dalam perang tersebut, kemudian dikirim ke Sumatra mencoba menghadapi Padri. “Setelah melakukan persiapan untuk mendekati tempat itu dengan lebih baik, menduduki beberapa poin dan sebagai hasilnya telah mencegat komunikasi pasukan Tuanku Imam Bonjol, ia memindahkan komando pasukan kepada Letnan Kolonel Michiels pada bulan Juli,” tulis Beijerinck.

Cleerens kembali ke Pulau Jawa dan Letkol Michiels menjadi pelaksana lapangan untuk strategi yang direncanakan Jenderal Cochius. “Sementara itu, kami (Belanda) sekali lagi menderita kerugian besar dalam berbagai pertempuran sehingga tidak mungkin lagi memikirkan serangan umum,” tulis Beijerinck.

Namun, benteng Padri akhirnya bisa ditembus Belanda. “Dengan menggunakan teknik Eropa melemahkan lawan, pasukan Belanda bisa mendekati tembok Bonjol dan menjebolnya. Desa itu pun diserbu pada Malam tanggal 15-16 Agustus 1837,” tulis Christine Dobbin, dalam Buku ‘Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam dan Gerakan Padri: Minangkabau 1784-1847’ (1983).

Imam Bonjol sudah meninggalkan benteng dan kemudian bergerilya saat Belanda menguasainya. Ia kemudian keluar dari hutan, lalu ditangkap dan dibuang Belanda hingga ke Manado, hingga wafat di sana.

Menurut Dobbin, pada 1837 tersebut Belanda mendirikan 25 pos kecil di berbagai jalur yang menuju Bonjol, benteng yang jatuh tersebut. Pendirian pos-pos ini membuat akses desa-desa yang memasok logistik untuk Bonjol terputus. “Ini dipermudah karena Belanda menguasai lautan. Semua pelabuhan yang mungkin dipakai untuk mendaratkan persediaan makanan dan lain-lain untuk Bonjol diblokir sampai di Tapanuli jauh di utara,” tulis Dobbin.

Kekuatan laut tersebut juga dipakai untuk menghancurkan tempat pembuatan garam Bonjol di antara Katiangan dan Air Bangis. “Belanda juga banyak mempunyai cadangan tentara yang masih segar yang terdiri atas orang-orang Minangkabau dan Batak.” Sekurang-kurangnya, menurut Dobbin, 13 ribu orang tetap ikut mengurung Benteng secara bergilir sampai akhirnya dikuasai Belanda. Kekuatan itu menambah sekitar 5.230 tentara Belanda.

Jalur komunikasi pasukan, menurutnya, juga diperbaiki dengan memakai tenaga kerja paksa. “Selain itu, dibangun pula jalur militer yang bagus dari Fort de Kock (Bukittinggi) melalui Matur sampai sebelum Bonjol. Hubungan antara Fort de Kock dan Padang pun juga ditingkatkan,” tulisnya.

Pukulan terakhirnya adalah dengan menghujani Bonjol dengan meriam besar hingga Tuanku Imam Bonjol dan keluarganya mengungsi. Ketika Benteng Bonjol kosong, Belanda masuk menguasai.

Perang Padri terjadi dalam beberapa periode. Periode 1803-1821 adalah perang saudara, antara kaum adat dan kaum padri. Pada 1821-1825 Belanda membantu kaum adat melawan Padri. Selanjutnya terjadi gencatan senjata antara 1825-1830, karena Belanda menghadapi Perang Diponegoro. Pada 1831 Belanda kembali menyerang Padri. Pada 1833-1837 kaum adat bergabung dengan padri melawan Belanda.

Perang Padri yang panjang, menurut Sejarawan Jeffrey Hadler, dipengaruhi tradisi desentralisasi dan demokratik dalam politik Minangkabau. Tradisi di Minangkabau tidak punya hierarki administratif yang jelas.

“Desentralisasi wewenang memungkinkan timbulnya secara alami semacam perang gerilya yang tidak mengarah pada pertempuran berklimaks atau habis-habisan,” tulisnya dalam sengketa Tiada Putus, Matriarkat, Reformisme Islam dan Kolonialisme di Minangkabau (2010).

Sejarawan Taufik Abdullah dalam pengantar buku Jeffrey menulis, secara resmi Perang Padri dianggap berakhir tahun 1837 ketika benteng Bonjol jatuh dan Tuanku Imam Bonjol bisa ditawan dan kemudian diasingkan ke Jawa dan akhirnya ke Sulawesi Utara.

Namun sebenarnya, menurut Taufik, Tuanku Tambusai
masih melanjutkan perlawanan dan pada tahun 1842 Regen Batipuh, yang sempat menjalin aliansi dengan Belanda ketika perang masih berkecamuk, melancarkan pemberontakan.

Mengutip dari Langgam.id

Leave a Reply