RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Kampung Adat Todo, Pusat Peradaban Minangkabau di Flores Barat d

Kampung Adat Todo, Pusat Peradaban Minangkabau di Flores Barat

Menjelajahi perkampungan-perkampungan adat di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai dari bagian barat Flores sampai di bagian timur terdapat kampung-kampung tradisional dan kampung-kampung tua dengan usia ribuan tahun. Salah satu dari sekian perkampungan tradisional di Flores barat adalah kampung adat Todo yang dikenal sebagai pusat peradaban Minangkabau. Orang Flores menyebutnya “Minangkebau”.

Tak ada yang membantah tentang penelusuran orang Minangkabau di kampung tradisional Todo, Desa Todo, Kecamatan Satarmese Utara, Kabupaten Manggarai. Selain itu kampung tradisional ini sebagai pusat kerajaan Manggarai di zaman dulu.

Berbagai kisah lisan dan kisah yang sudah dituangkan dalam berbagai buku sejarah Manggarai, Kampung adat Todo selalu dicantumkan dalam berbagai dokumentasi tertulis karena raja-raja pertama di wilayah Manggarai Raya tinggal dan hidup di kampung itu yang berada di kawasan Lembah Todo.

Deretan nama-nama Raja Manggarai selalu berasal dari Kampung Todo sejak masuknya tokoh Mashur dari Minangkabau ke wilayah Manggarai dan menetap di kampung Todo ratusan tahun yang lalu.

Selama ini saya hanya mendengar kisah raja-raja Manggarai yang berasal dari kampung adat Todo dan saya belum pernah mengunjungi perkampungan itu sebelumnya.

Akhirnya saya bisa mengunjungi perkampungan tradisional Todo bersama rombongan dosen program doktoral bagian resources management Universitas Bina Nusantara (Binus) Jakarta akhir Oktober 2018.

Ketertarikan dari dosen Universitas Binus Jakarta yang dipimpin Dr Dyah Budiastuti untuk mengunjungi perkampungan tradisional Todo karena ada sejumlah dosen Binus berasal Minangkabau dan Batak serta berbagai daerah lain di Tanah Air.

Disambut Tarian Sepa dan Lopa Hari itu, Selasa 2 Oktober 2018, rombongan beranjak dari penginapan mereka di kota dingin Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai. Pertama, rombongan itu mengunjungi Sekolah Menengah Atas Katolik Setia Bakti Ruteng. Hari itu rombongan menyewa bus Gunung Mas.

Setiba di pintu gerbang sekolah itu, Kepala Sekolah SMAK Setia Bakti, Sr. Irmina Bezo, SSPS bersama dengan guru dan ratusan siswa dan siswi di sekolah tersebut memadati pintu gerbang. Sejumlah penari sudah siap menyambu tamu khusus dari Universitas Binus Jakarta pagi itu.

Tarian Sepa dan Lopa dipentaskan untuk memberikan penghormatan dan penghargaan kepada rombongan atas kunjungan khusus itu di lembaga pendidikan tersebut. Sejumlah penari dari sekolah itu menari di depan halaman kantor Kepala sekolah untuk menyambut tamu yang berkunjung di sekolah tersebut.

Usai mementaskan tarian Sepa dan Lopa khas SMAK Setia Bakti Ruteng, seorang tua adat yang sudah dipercayakan sekolah memegang seekor ayam jantan putih untuk melaksanakan ritual “kepok kapu manuk” kepada rombongan tersebut. Suguhan Kopi Manggarai Ritual adat sesuai tradisi orang Manggarai dan pementasan tarian khas sekolah itu selesai, selanjutnya rombongan masuk ke ruangan Kepala Sekolah SMAK Setia Bakti.

Selanjutnya, ritual adat Kepok juga dilangsungkan di dalam ruangan tersebut untuk menyambut tamu yang masuk sebagai tamu khusus lembaga pendidikan saat itu.

Tak lama sesudah penyambutan secara adat selesai, guru menyuguhkan minuman kopi manggarai kepada rombongan dosen Universitas Binus Jakarta yang pertama kali mengunjungi sekolah tersebut. Semua dosen Universitas Binus Jakarta yang berkunjung ke Manggarai Raya adalah penyuka kopi Nusantara sehingga saat disuguhkan kopi manggarai dengan aroma dan rasa yang berbeda dari rasa dan aroma kopi dari wilayah lain di Indonesia.

Suguhan minuman kopi dinikmati oleh seluruh rombongan tersebut. Kepala Sekolah SMAK Setia Bakti Ruteng, Sr. Irmina Bezo, SSPS kepada Kompas.com mengungkapkan, terima kasih banyak atas kunjungan dari rombongan dosen Universitas Binus Jakarta ke lembaga pendidikan yang dipimpinnya. “Ini kunjungan yang sangat bermakna bagi lembaga pendidikan SMAK Setia Bakti Ruteng.

Yang hadir adalah dosen dari program doktor di Universitas tersebut yang memberikan semangat kepada siswa dan siswi dan guru-guru di lembaga pendidikan ini,” jelasnya. Selanjutnya, Dr Dyah Budiastuti dan dosen lainnya memberikan motivasi kepada ribuan siswa dan siswi SMAK Setia Bakti di halaman sekolah.

Pada dosen memberikan semangat belajar untuk meraih impian di masa depan serta mengajak siswa dan siswi di lembaga pendidikan itu untuk kuliah di Universitas Binus yang tersebar di beberapa tempat di Indonesia.

Menuju ke Kampung Tradisional Todo Seusai kegiatan di lembaga pendidikan SMAK Setia Bakti, rombongan dosen itu bergegas dengan bus Gunung Mas yang disopiri Herdianto Lelang menuju perkampungan tradisional Todo dari Kota Ruteng ke arah barat dari Pulau Flores.

Hari itu cuaca di wilayah Manggarai Raya sangat cerah. Bus Gunung Mas yang membawa rombongan laju dengan waktu normal. Saat keluar dari Kota Ruteng melewati jalan berkelok-kelok dan menurun di jalan Transflores. Setiba di pertigaan di Mbelang, sang sopir belok kiri menuju ke kampung tradisional Todo. Jalan itu juga searah menuju ke perkampungan tradisional Waerebo. Laju kendaraan penuh kehati-hatian karena jalan menurun berkelok-kelok di celah-celah bukit dan lereng gunung.

Hamparan bukit dan lerengan gunung serta persawahan di lembah-lembah di kiri kanan jalan menuju perkampuan tua Todo membuat mata tertuju kepada keindahan alam dan pemandangan yang disuguhkan Sang Pencipta alam semesta. Rasa mengantuk karena melewati jalan berkelok-kelok dan menurun hilang karena mata tak bisa pejam karena keunikan alam menuju perkampungan tradisional Todo.

Selanjutnya Dr Agustinus Bandur, Dosen Universitas Binus Jakarta dan Tommy, mahasiswa S2 di Universitas Binus Jakarta menginformasikan bahwa jalan mendaki menuju ke perkampungan tradisional Todo. Setelah melewati jalan mendaki, lalu jalan lurus dengan melewati Gereja Katolik Todo di sisi kanan dari jalan itu.

Dari bukit kecil itu, terlihat kemegahan deretan rumah adat tradisional Todo dengan arsitektur unik yang terus mengarah ke langit. Dari bukit kecil itu menuju ke lahan parkir kendaraan. Kendaraan berhenti dan rombongan turun dari bus Gunung Mas. Selanjutnya rombongan menuju ke pos penjagaan obyek wisata kampung tradisional Todo.

Seorang pegawai dari Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai, Titus Jegadut (52) tersenyum dan menyapa tamu yang berwisata ke obyek wisata budaya tersebut. Mendengarkan Langsung Kisah Orang Minangkabau Setiba di pos penjagaan tersebut, semua rombongan registrasi di buku tamu yang disediakan Dinas Pariwisata Manggarai untuk perkampungan tradisional Todo.

Satu per satu rombongan menulis nama lengkap di buku tamu tersebut. Suguhan kopi kembali dilakukan petugas di Pos penjagaan tersebut sesuai dengan tradisi orang Manggarai Raya. Saat menikmati minuman kopi manggarai, Pegawai Dinas Pariwisata Manggarai, Titus Jegadut (52) menjelaskan, asal usul Kampung Todo serta orang Minangkebau pertama yang ada dan menikah dengan perempuan Manggarai asli di perkampungan tradisional Todo.

Dikisahkan secara lisan secara turun temurun dan sudah dibukukan oleh kaum intelektual Manggarai bahwa seorang tokoh terkenal dari Minangkabau dengan sebutan Mashur.

Memang dikisahkan saat tokoh Minangkabau itu ada di perkampungan Todo sudah ada orang asli Manggarai yang belum diketahuinya mereka berasal dari mana dan bahkan mereka suku apa.

Tokoh Mashur menikah dengan perempuan asli Manggarai (leluhur orang Manggarai yang berasal dari Minangkabau) lahirlah beberapa anak-anaknya yang terus berkembang dan bertumbuh di perkampungan tersebut. Karena ketenaran dan kekuatan magis dari tokoh tersebut dan keturunannya maka mereka membentuk sebuah kerajaan kecil di perkampungan tersebut. Mereka menyebutnya kerajaan Todo. Kerajaan Todo karena kemungkinan ada relasi perdagangan dan kekeluargaan di bawah pengaruh Kerajaan Bima atau Raja Bima di zaman itu sampai di wilayah pesisir Labuan.

Sementara di bagian utara dari Manggarai Raya, di bagian Cibal di bawah pengaruh Kerajaan Goa atau Raja Goa. Itulah sepintas seputar peradaban Minangkabau di perkampungan Todo sebagai pusat Kerajaan Todo dan peradaban Minangkabau di Flores Barat, NTT. Jegadut mengisahkan, berdasarkan penuturan lisan tetua adat di perkampungan tradisional Todo bahwa pertama arsitektur rumah adat di kampung Todo berbentuk rumah Gadang Minangkabau.

Lalu kira-kira tahun 1911, model dan bentuk rumah Gadang Minangkabau berubah ke Mbaru Niang Todo. Mulai saat itu Mbaru Niang ada di perkampungan tradisional Todo hingga di era teknologi ini. Dr Mohammad Hamsal, Dosen Universitas Binus Jakarta asal Minangkabau kepada Kompas.com belum lama ini menjelaskan kunjungan langsung ke perkampungan tradisional Todo dengan jejak-jejak orang Minangkabau di tanah Flores Barat menunjukkan beberapa hal yang mirip dengan kebudayaan Minangkabau.

Hal ini membuktikan bahwa benar orang Minangkabau ada di perkampungan tradisional Todo seperti ukiran-ukiran yang ada di dalam Mbaru Niang Todo, batu kubur dan motif kain tenun. Selain itu bentuk tiang Mbaru Niang dan batu nisan mirip seperti di Minangkabau.

Dr Hamsal menjelaskan, mendengar kisah tentang kerajaan Todo dan leluhur orang Manggarai Raya yang berasal di Minangkabau ada yang hilang dalam sejarah budaya orang Manggarai. Mengapa tidak dikisahkan dan diceritakan atau dibukukan, siapa perempuan asli yang menikah dengan leluhur dari Minangkabau, nenek moyang Mashur. Selanjutnya siapa dan berasal dari mana orang asli Manggarai yang ada wilayah Flores barat sampai di perkampungan Todo.

Tentu sebelum tokoh Mashur datang ke Flores Barat sudah ada orang Manggarai asli yang menggunakan bahasa Manggarai asli bahkan dengan sistem adat istiadatnya. Buku-buku sejarah tentang Manggarai belum mendokumentasikan orang asli dengan bahasa Manggarainya. Siapa orang pertama asli Manggarai yang menghuni perbukitan dan lembah di wilayah Flores Barat? Orang asli Manggarai berasal darimana?

Ini yang harus ditelusuri oleh sejarawan dan antropolog orang Manggarai. Selain itu dari mana asal usul bahasa lokal Manggarai. Siapa tokoh yang memperkenalkan bahasa lokal Manggarai.

Karena kalau ditelusuri lebih lanjut, menurut Dr Hamsal, tokoh Mashur menikah dengan perempuan Manggarai dan mengikuti adat istiadat orang Manggarai dan bukan lagi adat istiadat orang Minangkabau dengan sistem matrilineal. Sedangkan orang Manggarai menganut sistem patrilineal dalam sistem perkawinan dan hidup berkeluarga. Prof Adler H Manurung menjelaskan, tradisi penyambutan orang Manggarai Raya hampir mirip dengan tradisi penyambutan orang Batak. Selain itu keramahtamahan orang Manggarai hampir sama dengan keramahtamahan orang Batak dan Minangkebau.

Dr Dyah Budiastuti menjelaskan, tradisi asli orang Manggarai Raya harus terus dijaga dan dilestarikan kelangsungannya di era teknologi ini. Ada banyak wisatawan minat khusus yang selalu mengunjungi Pulau Flores dan perkampungan adat di Flores barat ini. Unik dan sangat menarik tradisi dan perkampungan adat di Manggarai Raya.

Alam, budaya dan berbagai keunikan lain di Flores Barat memikat wisatawan asing dan Nusantara serta para peneliti budaya akan terus berkunjung ke kampung-kampung adat di Flores.

Untuk itu warga setempat menjaga keaslian tradisi dan budaya serta menjaga kelestarian perkampungan adat seperti perkampungan tradisional Todo,” kata Dyah. sumber

Leave a Reply