RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Jembatan Kelok 9, Ikon Destinasi Wisata Baru di Sumatera Barat

Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono mengagumi jalan layang kelok sembilan ( 9) yang dibangun di Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat. Jalan layang yang kokoh tersebut juga berakselerasi dengan lingkungan yang hijau.

Jalan layang kelok Sembilan sangat megah dan indah ini merupakan hasil karya anak bangsa yang membanggakan dan menjadi sebuah ikon konstruksi monumental yang memiliki ketinggian 250 meter. Jembatan ini terbentang di lembah perbukitan Bukit Barisan, lingkungan kawasan suaka alam yang akan memperlancar arus barang dan jasa. Keberadaan jalan layang ini juga diharapkan dapat meningkat perekonomian dan merupakan jalan utama Padang-Bukittinggi-50 Kota ke Pekanbaru. “Keberadaan jalan layang ini sangat membantu mengurangi kemacetan panjang yang kerap terjadi di Jalan Kelok Sembilan yang lama,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten 50 Kota Novian Baruno kepada kronosnews.com.

Dalam pertemuan IMS-GT (Indonesia-Malaysia-Singapura Growth Triangle), jalur ini dinyatakan sebagai jalur strategis Padang- Dumai atau Bukittinggi-Pekanbaru untuk arus barang dan jasa guna mengakomodasi pertumbuhan ekonomi.

Jembatan kelok 9 dibangun dengan sinergi bersama antara Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Kehutanan dan pemerintah provinsi Sumatera barat dan kabupaten 50 kota. Jembatan kelok 9 terletak antara lembah kawasan pelestarian alam di Bukit Barisan yang memiliki pemandangan yang sangat menakjubkan dan dinilai memiliki potensi wisata dan diperkirakan bakal jadi lokasi destinasi wisata baru di Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat.

Panjang jalan layang Kelok Sembilan mencapai 3 kilometer dengan rincian panjang jalan mencapai 2 kilometer sedangkan panjang jembatan mencapai 1 kilometer.  Dari sisi konstruksi, jalan layang Kelok 9 sangat unik karena menyatu serta melengkapi kelestarian lingkungan cagar alam. Konstruksinya dirancang bisa menahan beban vertikal dan gempa. Menurut Novian, konstruksi ini adalah terbaik di Asean. Nantinya di kawasan ini akan dibangun lift kaca dan kereta gantung, sehingga wisatawan bisa menikmati keindahan wisata alam Kabupaten 50 kota. Selain itu, di dinding tebing jalan kelok Sembilan lama akan dibuat relief sejarah. Pembangunan jalan tersebut diperkirakan hampir bersamaan dengan pembuatan Jalan Cadas Pangeran di Sumedang Jawa Barat yang diperkirakan tahun 1908-1914.

“Konsep nature and engineering in harmony, sebuah konsep yang menggabungkan alam (taman konservasi nasional bukit barisan) dengan rekayasa teknologi dapat berpadu harmonis dengan alam. Konsep harmoni ini juga diberlakukan saat desain, pembangunan konstruksi hingga pasca konstruksi.dengan membuat taman taman yang indah di sekitar lokasi kelok 9 yang lama dan jembatan kelok 9,” kata Novian.

Menurut Novian, pembangunan destinasi wisata ini mutlak harus berujung pada peningkatan sosial dan ekonomi masyarakat. Demikian juga pengendara yang melewati jalan layang ini, tidak hanya sekadar melewati dan merasakan sensasi jalan dan jembatan kelok 9, tetapi juga memperoleh manfaat lain berupa ilmu pengetahuan baru seputar jembatan kelok 9 dan mega proyek di tengah hutan yang berpadu dengan harmonis antara konsep alam dan teknologi. “Alangkah tepatnya jika di lokasi ini dibangun sebuah Museum Pembangunan Jembatan Kelok 9, sehingga daerah lain yang memiliki pegunungan dan lembah seperti di Papua juga bisa menikmati kue pembangunan infrastruktur monumental ini,’” ujar Yon Wardi Anwar, perantau dari mudiak yang menetap di Jakarta.

Jembatan ini bisa menjadi salah satu ikon mega konstruksi dan kebanggaan pariwisata Indonesia. Pembangunan proyek jalan layang Kelok 9 ini bukan saja besar untuk ukuran Sumatera Barat, namun  untuk skala nasional. Seharusnya masyarakat pemerintah Sumatera Barat, khususnya Kabupaten 50 Kota dan Kota Payakumbuh langsung menangkap peluang ini sebagai salah satu pemicu untuk memacu wisata Ranah Minang ini. Apalagi saat ini Kementerian Pariwisata telah menetapkan Sumatera Barat sebagai destinasi wisata syariah. “Jangan lupa, saat ini juga sedang dibangun Monumen Nasional Bela Negara di Koto Tinggi Ibukota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia,”  pungkas Iwan panggilan akrab Yon Wardi Anwar yang berasal dari Koto Kociak – Kabupaten 50 Kota saat mendampingi Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten 50 Kota.

Leave a Reply