Intip Tradisi Unik Di Ranah Minang yang Wajib Kamu Saksikan

Intip Tradisi Unik Di Ranah Minang yang Wajib Kamu Saksikan

SARIBUNDO.BIZ – Sumatera Barat merupakan wilayah yang terkenal dengan keberagaman budaya serta tradisi lokalnya. Tak heran, untuk menyaksikan tradisi unik Sumatera Barat, negri orang Minang ini kerap menjadi daftar destinasi tempat liburan wisatawan yang wajib dikunjungi.

Selain memiliki keragaman budaya yang unik, faktor lain yang menarik wisatawan berkunjung ke kota asal makanan rendang ini ialah mudahnya lokasi yang dituju. Jika Anda berada di luar Pulau Sumatera, penerbangan menuju Bandara Internasional Minangkabau menjadi pintu awalnya.

Berikut tradisi unik masyarakat Minang yang wajib Anda kunjungi selama berada di Ranah Minang

Marosok

Marosok adalah sebuah tradisi jual beli yang dilakukan secara “sembunyi” antara penjual dan pembeli di pasar ternak yang ada di Kabupaten Solok, Kabupaten Padang Pariaman hingga Kabupaten Tanah Datar. Dalam transaksinya, mereka menggunakan sarung, baju hingga topi sebagai penutup jemari tangan yang mengganti komunikasi suara.

Tiap jemari sendiri mengartikan nominal puluhan, ratusan, ribuan bahkan jutaan rupiah. Misalnya saja, jika lima setengah juta rupiah maka si jari pembeli akan digenggam lima buah oleh si penjual yang berarti seharga lima juta rupiah dan dilanjutkan dengan menggenggam lima buah jari lagi yang berarti lima juta lima ratus ribu rupiah. Jika kedua belah pihak sepakat, maka anggukan kepala mengakhiri transaksi tersebut.

Adapun yang dijual belikan adalah Sapi, kerbau dan kambing Konon, tradisi unik satu ini telah dilakukan sejak zaman raja-raja Minangkabau. Dengan melakukan cara bertransaksi ini diharapkan dapat menghindari kesenjangan harga antara pembeli yang satu dengan pembeli lainnya.

Tradisi Berburu Babi Hutan

Dahulu kala, tradisi ini muncul lantaran lahan persawahan dan perkebunan milik warga setempat selalu dirusak kawanan babi hutan. Situasi tersebut terus berulang dan membuat geram sehingga warga memutuskan untuk memburu hewan tersebut.

Awalnya, warga setempat memburu babi masih menggunakan jaring dan ranjau. Namun cara tersebut dirasa kurang efektif hingga pada akhirnya secara tidak sengaja melibatkan hewan peliharaan anjing untuk membantu menaklukan kawanan babi. (Baca Juga: Mengapa Orang Minang Senang Berdagang? Ini Rahasianya)

Berburu babi dulunya merupakan tradisi namun sekarang mulai bergeser menjadi hobi masyarakat minang. Bahkan setiap minggunya mereka rutin melakukan perburuan. Anjing-anjing yang “ditugaskan” berburu tersebut pun tak jarang mendapat perawatan istimewa dari sang pemilik agar dapat berburu babi hutan lebih banyak.

Pacu Jawi

Tradisi Pacu Jawi (balapan sapi) yang dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat Minang masih serupa dengan tradisi karapan sapi di Madura. yang membedakan adalah tempat berlangsungnya atraksi dimana jika karapan sapi dilakukan di tanah kering. Sebaliknya, Pacu Jawi dilakukan di tanah berlumpur di areal persawahan bekas panen padi.

Pada prinsipnya, balapan Pacu Jawi sendiri seperti kegiatan membajak sawah secara tradisional menggunakan hewan kerbau atau sapi. Namun yang membedakan, atraksi ini “dipimpin” oleh seorang joki yang bertugas mengendarai sepasang sapi yang diapit alat pembajak sawah sambil memegangi tali dan kedua ekor hewan tersebut.

Ketika atraksi ini dimulai, Anda akan melihat sang joki menggigit ekor sapi. Cara tersebut bertujuan agar sapi berlari kencang hingga ke garis finish. Semakin kencang, joki menggigit ekor sapi semakin kencang pula hewan ini berlari.

Tradisi unik ini masih dapat Anda temui di wilayah Tanah Datar dan Lima Puluh Kota. Bahkan, banyak wisatawan domestik dan mancanegara kerap berkunjung ke Sumatera Barat untuk melihat dan mencoba langsung.

Disarikan dari jurnalsumatera

Leave a Reply