Haji Rasul dan Muhammadiyah di Mata Orang Asing

Muhammad Yuanda Zara

Sejarah lahir dan berkembangnya Muhammadiyah serta pemikiran Islam murni, terutama di luar Jawa, tidaklah lengkap tanpa mengenal sosok dan kiprah Haji Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul.

Ayah Buya Hamka ini lahir di Maninjau, Sumatra Barat, pada 10 Februari 1879 dan meninggal di Jakarta pada 2 Juni 1945 atau beberapa bulan sebelum Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Haji Rasul-lah yang pertama kali memperkenalkan Muhammadiyah ke Sumatra Barat, tempat di mana organisasi ini kemudian tidak hanya bertahan, tapi juga berkembang pesat bahkan hingga kini.

Melalui Haji Rasul dalam mengembangkan Muhammadiyah sudah banyak diulas oleh para penulis Indonesia. Buya Hamka sudah menerangkannya dalam bukunya yang terbit tahun 1950, Ajahku. Beberapa peneliti Indonesia juga tak ketinggalan mengupas relasi Haji Rasul dan Muhammadiyah, umpamanya Taufik Abdullah dalam disertasinya di Universitas Cornell tahun 1971, Schools and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatra, 1927-1933, dan buku Murni Djamal tahun 2002, Dr H Abdul Karim Amrullah: Pengaruhnya dalam Gerakan Pembaruan Islam di Minangkabau Awal Abad ke-20.

Beberapa buku tentang sejarah Muhammadiyah juga senantiasa memasukkan kontribusi Haji Rasul dalam memperkenalkan Muhammadiyah di Ranah Minang. Lalu bagaimana dengan persepsi para jurnalis ataupun Indonesianis dari luar negeri? Poin penting apa yang mereka lihat dari Haji Rasul dalam kaitannya dengan Muhammadiyah?

Sebenarnya ada cukup banyak apresiasi yang diberikan pada Haji Rasul dalam kaitannya dengan perkembangan Muhammadiyah. Berikut beberapa di antaranya.

Salah satu tulisan paling awal tentang relasi Haji Rasul dan Muhammadiyah saya temukan di sebuah surat kabar Belanda yang terbit di Medan, De Sumatra Post. Dalam salah satu rubrik di edisi 3 Januari 1929 tertulis:

“Moehammadijah” in de Ommelanden

Kortgeleden trachtte het bestuur van “Moehammadijah” in de Ommelanden de toestemming van de ninik mamaks (Minangkabausche notabelen) te verkrijgen om Hadji Rasoel en Sjech Djamil Djambek van Fort de Kock in de Ommelanden godsdienstlezingen te laten houden. Dit verzoek door de ninik mamaks afgewezen.

Terjemahannya: “Baru-baru ini, pengurus Muhammadiyah di Ommelanden [area di sekitar Batavia] mencoba untuk mendapatkan persetujuan para ninik mamak (pemuka Minangkabau) agar Haji Rasul dan Syekh Jamil Jambek dari Fort de Kock [Bukittinggi] bisa memberikan kuliah agama. Permintaan ini ditolak oleh para ninik mamak.”

Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa kala itu nama Haji Rasul tengah berkibar. Ia dikenal di Sumatra bagian utara di mana De Sumatra Post terbit, di Sumatra Barat yang merupakan kampung halamannya, dan di Batavia, di mana ia diundang untuk menyampaikan ceramah agama.

Dan, bagi surat kabar De Sumatra Post, ada beberapa hal yang menarik untuk dipublikasikan. Pertama, nama Haji Rasul sudah beken di antara para pengurus Muhammadiyah di Jawa. Ini jelas disebabkan oleh kepeloporannya dalam mengintroduksi pembaruan Islam ala Muhammadiyah di Minangkabau serta kepemimpinannya di antara para ulama modernis di sana. Empat tahun sebelumnya ia mendirikan Muhammadiyah di kampung halamannya itu, dan sukses memajukannya.

Kedua, Haji Rasul tidak disukai kalangan adat. Ia adalah penentang tradisi jahiliah yang dianggapnya masih eksis dalam adat Minangkabau. Sebagai gantinya ia mempromosikan adat Islamiah yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits Nabi. Lantaran upayanya ini iapun dijadikan musuh oleh para pemuka adat (ninik mamak) yang memandang usahanya itu akan melemahkan otoritas mereka.

Di luar surat kabar Belanda, bagaimana para Indonesianis asing dari negara lain menilai peranan Haji Rasul dalam mengembangkan Muhammadiyah di Sumatra Barat? Aspek apa yang mereka nilai krusial?

Biografer Buya Hamka, James Rush, dalam karya terbarunya, Hamka’s Great Story: A Master Writer’s Vision of Islam for Modern Indonesia (2016: 53-54) menekankan bahwa kunjungan Haji Rasul ke Jawa, khususnya yang kedua pada tahun 1925, adalah tonggak sejarah penting dalam hal bagaimana ia memandang Islam dan pengamalannya. Di era itu, diskusi soal Islam dan alam modern juga berkembang di Minangkabau, tapi itu lebih banyak dalam ranah perang wacana saja.

Haji Rasul terkesan dengan implementasi ajaran Islam yang dilakukan Muhammadiyah dalam bentuk pendirian sekolah, rumah yatim, rumah bagi kaum miskin, dan klinik pengobatan. Rush menulis, “Everywhere he went, he worked tirelessly to promote Muhammadiyah” (Ke manapun ia [Haji Rasul] pergi, ia tak kenal lelah mempromosikan Muhammadiyah). Perjuangan ini membuahkan hasil: hanya dalam waktu tujuh tahun telah berdiri 57 Cabang Muhammadiyah di Sumatra Barat.

Pengakuan akan arti penting Haji Rasul dalam menyebarkan Muhammadiyah juga tampak dalam buku antropolog London Schools of Economics, Thomas P. Gibson, Islamic Narrative and Authority in Southeast Asia: From the 16th Century to the 21st Century (2007). Ia menyebut bahwa awalnya Muhammadiyah berkembang dengan perlahan.

Namun, “the subsequent growth of the organization throughout Indonesia was due in large parts to the efforts of a Minangkabau, Haji Abdul Karim Amrullah” (perkembangan Muhammadiyah selanjutnya di seluruh Indonesia terutama sekali terjadi berkat usaha seorang Minangkabau, Haji Abdul Karim Amrullah).

Yang tak kalah penting, Gibson menggarisbawahi bahwa baik Haji Rasul dan KH Ahmad Dahlan sempat mempunyai pola studi keagamaan yang sama: keduanya pernah belajar di Mekkah di bawah bimbingan Ahmad Khatib, lalu pulang dan mendirikan institusi pendidikan Islam yang modern di kampung halamannya masing-masing.

Satu pandangan lain yang menarik adalah dari sejarawan Universitas California, Berkeley, Jeffrey Allen Hadler. Ia menyebut Haji Rasul dalam artikelnya, Home, Fatherhood, Succession: Three Generations of Amrullahs in Twentieth Century Indonesia, yang diterbitkan tahun 1998 oleh jurnal Indonesia. Pada tahun 1929/1930, Haji Rasul menerbitkan bukunya yang ditulis dalam Arab Melayu (Jawi), Kitab Cermin Terus: Berguna untuk Pengurus-Penglihat Jalan yang Lurus. Isinya adalah berbagai fatwa keagamaan, khususnya terkait dengan berbagai kebiasaan masyarakat Minangkabau. Dan, menurut Hadler, Kitab Cermin Terus Haji Rasul ini “inspired by the activities of Aisyiah (then Aishijah, Muhammadiyah’s sister organization)” (terinspirasi oleh Aisyiah [dulu bernama Aishijah, organisasi yang sejenis dengan Muhammadiyah]). Dari sini kita ketahui bahwa bukan hanya amal usaha Muhammadiyah saja yang memengaruhi Haji Rasul, sebagaimana kita pahami selama ini. Haji Rasul rupanya juga mendapat banyak manfaat dari aktivitas dan gagasan yang dipromosikan ‘Aisyiyah, yang agaknya ia saksikan tatkala ia berkunjung ke Jawa beberapa tahun sebelumnya. Sumber

Leave a Reply