Gambar Cadas Prasejarah dalam Gua di Solok Sumatera Barat Jadi Viral

Gambar Cadas Prasejarah dalam Gua di Solok Sumatera Barat Jadi Viral

Viral dijagad media sosial terkait dengan keberadaan gua di Nagari Bukit Bais, Kecamatan IX Koto Sungai Lasi, Kabupaten Solok, Sumatera Barat menjadi perhatian.

Akibat pemberitaan tersebut, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat (Sumbar) sedang meneliti keberadaan gua tersebut. Pengkaji BPCB Sumbar, Azwar Sutihat mengatakan, masyarakat setempat menyebut gua tersebut dengan nama Guo Basurek.

Keberadaan Gua tersebut berada di Perbukitan Karst (Bukit Karang), Jorong Tabisu, Nagari Bukit Bais. “Sebenarnya kalau kita menyebutnya lukisan dinding gua atau gambar cadas prasejarah,” kata Azwar Sutihat, Selasa (3/11/2020).

Dijelaskan oleh Azwar Sutihat, masyarakat di daerah itu sudah lama tahu mengenai keberadaan dinding gua tersebut yakni sejak 1960-an. Namun, informasi yang beredar, kata Azwar Sutihat, tim BPCB baru mengetahuinya melalui media sosial beberapa pekan lalu.

Sebab ada yang memviralkan di media sosial instagram kemudian menandai akun BPCB. “Setelah kita kaji, lihat foto dan videonya ada dugaan kuat itu bagian dari tradisi atau peninggalan gambar cadas atau dinding gua,” tutur Azwar.

Lalu, BCPB menugaskan tim untuk melakukan survei ke lokasi. Setelah dilakukan survei, diamati dan didokumentasikan, kata Azwar, memang sangat kuat dugaan itu adalah bagian dari lukisan dinding gua atau gambar cadas.

“Itu merupakan peninggalan masa prasejarah,” kata Azwar.

Kemudian, setelah dikonfirmasi ke pakar gambar cadas prasejarah di Indonesia, Guru Besar Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia Prof Dr Cecep Eka Permana, ia menyimpulkan hal itu memang lukisan dinding gua.

Tak sampai di situ, jika melihat perbandingannya dengan gambar di beberapa lokasi lain yang mana tim juga menemukan lukisan gua, seperti daerah Lima Puluh Kota dan Tanah Datar, dari motif dan warna itu sama.

“Warnanya putih, di tempat lain di Indonesia kan banyak juga, ada yang warnanya merah, oranye, hitam, di Sumbar yang kita temukan baru berwarna putih,” jelas Azwar.

Kata Azwar, dari hasil kajian tim menemukan sekitar 160-an gambar di dinding gua. Namun, itu baru identifikasi awal. Rencananya akan ada kajian mendalam terkait hal tersebut. Terkait usia gambar yang namanya penanggalan atau identifikasi umur, kata Azwar, pihaknya belum pernah melakukan itu.

Begitu juga dengan peneliti lain di Sumbar, belum pernah melakukan penelitian khusus penanggalan umur lukisan dinding gua. “Tapi jika dibandingkan dengan beberapa tempat lain, kalau yang dinyatakan pakar Prof Cecep memang untuk yang warna putih ini relatif lebih muda dibandingkan dengan warna yang lain, seperti merah tua atau hitam.”

“Jadi, perkiraan umurnya sekitar 500-1.000 tahun yang lalu,” ungkap Azwar.

Menurut pakarnya, jelas Azwar, penemuan itu memang bagian dari tradisi masyarakat penutur Austronesia. Yakni ketika mereka masih melakukan tradisi menyirih (makan sirih).

Sementara, kalau dari bahan baku untuk membuat gambarnya, yang pernah dilakukan penelitian di tempat lain yakni dari batu kapur. Azwar menyampaikan, warna gambar ada beberapa yang warna hitam, cuma yang warna hitam memang sudah kabur, yang jelas itu warna putih.

“Keistimewaan gua basurek ini, itu dia punya motif gambar yang lebih kaya atau bervariasi dibandingkan dengan tempat yang sudah kita survei,” tukas Azwar.

Di gua basurek tersebut, lanjutnya, ada gambar antropomorfik (manusia gaya kangkang) dan gambar hewan (anjing, kuda). Kemudian, gambar pola geometris (lingkaran, tanda silang, belah ketupat, persegi) serta gambar simbolik seperti matahari, dalam pemujaan dan gambar-gambar penangkap hewan. Sumber

Leave a Reply