RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Di Kota Padang, Kue Putu Jajanan Legendaris Mulai Sulit Didapat

Di Kota Padang, Kue Putu Jajanan Legendaris Mulai Sulit Didapat

Tidak banyak jajanan tradisional Indonesia yang melegenda dan tetap bertahan hingga sekarang, salah satunya Kue putu. Meskipun saat ini sulit ditemukan, namun peminat dari jajanan legendaris ini cukup banyak sampai kini.

Di Kota Padang, Sumatera Barat, jajanan tradisional ini bisa menemukan di Simpang Masjid Baiturrahman Jati, Jalan Jati IV No 2. Yazi Wirza Ikhsan (26), menjual jajanan tradisional ini dengan dua jenis yaitu Kue Putu Bambu dan Kue Putu Mayang.

“Bahannya sama hanya bentuk dan cara penyajiannya saja beda,” katanya saat ditemui TribunPadang.com, Selasa (19/3/2019).

Yazi menyebutkan bahan yang digunakan saat membuat kue putu adalah tepung beras. “Tepung beras direndam, paginya digiling ke pasar. Setelah dari pasar dikukus lagi sampai matang,” ucap Yazi.

Untuk penyajian kue putu bambu, Yazi menjelaskan saat tepung beras kasar tersebut telah jadi, kemudian diberi air dan sedikit garam biar rasanya lebih gurih. Campuran tepung beras tersebut dimasukkan ke dalam potongan bambu yang berbentuk tabung kemudian diisi irisan gula merah kemudian dikukus dengan cara menaruhnya diatas uap panas.

Lalu, Yazi menjelaskan hanya membutuhkan waktu sekitar dua menit, kue putu yang telah diuapi ini siap untuk disajikan. Nantinya saat dimakan, adonan tersebut akan bercampur manis berpadu di dalam mulut.

Saat digigit, campuran antara tepung beras dan gula merah akan meleleh. Sedangkan untuk Kue Putu Mayang, Yazi mengatakan adonannya sudah jadi dari rumah. “Tepung beras dimasak dengan air panas, dibentuk menggunakan cetakan mie,” jelas pria asal Bukittinggi ini.

“Kue putu ini dimakan pake kelapa dan gula merah yang sudah cair, tapi biasanya orang Medan pake gula pasir,” tutur Yazi lagi.

Kemudian kue putu yang telah jadi ditaruh di atas plastik mika bening. “Dilapisi pake daun pisang juga bisa,” tambahnya.

Yazi mengatakan peminat Kue Putu Bambu lebih banyak disukai konsumen dibandingkan Kue Putu Mayang.

Dalam sehari Yazi bisa menjual 150 Kue Putu Bambu, sedangkan untuk Kue Putu Mayang hanya 50. “Kadang ada yang sekali beli langsung 50 buah, tapi kalau biasanya konsumen beli 5-10 buah,” ujar Yazi.

Cukup siapkan Rp 2 ribu untuk satu potongnya, camilan ini cukup nikmat untuk menemani sore hari.
Yazi mengatakan mulai berjualan dari pukul 16.00 hingga pukul 22.00 WIB. “Kecuali Hari Minggu, tidak berjualan libur,” tambahnya.

Ditemui TribunPadang.com, Yusuf sedang membeli jajanan tradisional ini. Ia mengatakan anaknya menyukai Kue Putu Mayang. “Kue kaya gini sekarang agak susah dicari di sini,” tuturnya.

Lalu, pria asal Medan ini bercerita kalau di kampung halamannya orang-orang berjualan kue putu dengan dipikul keliling kampung. “Kalau di Medan makannya pakai gula pasir, kalau di sini lebih banyak milih gula merah,” tutupnya.

Leave a Reply