Cerita Dibalik Alunan Musik Rabab Saluang di Jam Gadang

Jika berkunjung ke Sumatra Barat wajib rasanya untuk mengunjungi objek wisata paling tersohor di Kota Bukittinggi, yakni Jam Gadang.

Berada di titik nol Kota Bukittinggi, objek wisata Jam Gadang menyuguhkan sederet keistimewaan, mulai dari cuaca yang sejuk, lokasi yang strategis, sampai dengan nuansa Ranah Minang yang kental melalui alunan musik Rabab Saluang.

Beberapa waktu lalu, redaksi WE Online berkesempatan untuk berkunjung ke objek wisata Jam Gadang serta berbincang dengan salah satu pemain seni Rabab Saluang yang berada di kawasan wisata tersebut. Seperti apa cerita menarik dari pemain musik legendaris Minangkabau ini? Yuk simak cerita lengkapnya di bawah ini.

Rabab Saluang: Magnet Bagi Wisatawan
Alunan musik yang dihasilkan dari alat musik tradisional Minangkabau langsung menjadi magnet bagi para wisatawan di tempat wisata Jam Gadang untuk mendekat ke sumber suara. Berada tak jauh dari tugu Jam Gadang, di sanalah Mak Etek Kecek Kemenakanda beserta dengan istri dan dua anaknya sangat piawai memainkan alat musik rabab khas Minangkabau.

Lelaki dengan sapaan Uda itu mengatakan, penamaan Rabab Saluang diambil dari nama alat musik serta suara yang dihasilkan saat alat musik itu dimainkan. Rabab ialah alat musik gesek yang bentuknya menyerupai biola, di mana saat alat musik itu dimainkan akan menghasilkan suara lembut menyerupai suara saluang, yakni alat musik tiup khas Minang yang digunakan untuk mengiringi lagu atau dendang.

Menurut penuturannya, pertunjukan Rabab Saluang hanya membutuhkan empat personel, yakni seorang lelaki sebagai pemain rabab, seorang lelaki sebagai pemain gendang, dan dua orang perempuan sebagai penyanyi. Pertunjukan Rabab Saluang ini bisa kamu nikmati setiap malam di objek wisata Jam Gadang, lho. Ihwal waktu pertunjukkan, biasanya akan dimulai seusai salat Isya sampai dengan pukul 12.00 malam.

“Sabtu-Minggu itu yang hari pengunjungnya paling besar (ramai). Tapi sekarang setiap harinya pengunjung udah ramai, setiap hari udah ada keramaian,” ujar pria paruh baya itu kepada WE Online, Bukittinggi, Sabtu (14/03/2020).

Mewarisi Bakat Sang Ayah
Dalam perbincangan malam itu, Sabtu (14/03/2020), ia bercerita bahwa profesi sebagai penggiat seni Rabab Saluang sudah ditekuninya sejak usia dini. Kala itu, ia turut pentas bersama sang ayah yang juga berprofesi sebagai pemain Rabab Saluang.

Pria paruh baya itu mengatakan, ia telah menjalani profesinya sebagai penggiat seni Rabab Saluang sejak usia dini. Kala itu, ia turut pentas bersama sang ayah yang juga berprofesi sebagai pemain Rabab Saluang. Setelah sang ayah meninggal, ia lantas mewarisi bakat dan melanjutkan profesi sang ayah hingga saat ini.

Sebagai pewaris satu-satunya dalam keluarga, ia mengaku bahwa sempat ada rasa benci saat melihat sang ayah melakoni profesi sebagai pemain Rabab Saluang. Dengan usia yang masih sangat belia, ia merasa bahwa sang ayah tak seharusnya melakoni profesi itu dan mendapat perlakuan yang buruk dari para pengunjung.

Perlu diketahui, dalam pertunjukkan ini, para pengunjung bisa memberian apresiasi dalam bentuk uang yang dilemparkan ke arah pemain, hal inilah yang membuatnya merasa sakit hati melihat sang ayah dilempari uang seperti halnya pengemis.

“Kala itu Bapak saya main, Bapak saya dilempar sama uang itu (ke tikar tempat ia pentas). Saya paling benci tengok Bapak main kayak saya sekarang, saya paling gak suka. Sekarang, tempat menaruh uangnya sudah ditentuin (dalam kotak atau keranjang kecil),” ujarnya.

Lambat laun waktu berjalan, rasa benci itu berubah menjadi cinta seiring dengan pemahaman yang diberikan sang ayah. Kini, pria kelahiran Pariaman, Sumatra Barat itu mengaku sangat mencintai profesinya itu. Bukan hanya sebagai sumber penghasilan sehari-hari, melalui profesi itu pula ia dapat menjunjung tinggi kebudayaan Minangkabau di tengah perkembangan zaman.

“Inilah kesenian Minang. Kau belum paham, cepat atau lambat kau akan paham. Ini adalah kesenian internasional,” sambungnya lagi.

Ini Adalah Budaya Minang, Harus Dijunjung Tinggi
Bapak dua anak itu melanjutkan, profesi yang ia jalani saat ini sangat berbeda dengan pengamen. Pasalnya, ia mempertunjukkan kesenian Minangkabau yang patut dijunjung tinggi. Kesenian yang menjadi kebudayaan Ranah Minang ini, menurutnya, tak akan pernah bisa untuk dimatikan.

“Ini kebudayaan. Kebudayaan ini akan dijunjung tinggi, akan dijunjung tinggi dan akan digalakkan sampai kapan pun, gak bisa dibunuh, gak bisa dimatikan,” tegasnya.

Jika kesenian ini hilang ditelan zaman, hilang pulalah identitas masyarakat Minang. Oleh karena itu, ia menilai sudah sepatutnya kesenian Rabab Saluang ini diwariskan turun-temurun ke generasi selanjutnya.

“Kalau kebudayaan ini kita hentikan, kita hilangkan, Ranah Minang ini jadi apa. Jadi, Ranah Minang ini kalau gak ada Minangnya lagi, gak ada ranah internasional lagi,” lanjutnya lagi dengan penuh penekanan.

Terkenal Lewat Teknologi dan Melanglang Buana hingga ke Luar Bukittinggi

Kesenian Rabab Saluang boleh saja disebut tradisional, namun bukan berarti kesenian ini antimodernitas. Secara perlahan, unsur teknologi sudah dimanfaatkan oleh pelaku seni Rabab Saluang dalam memperkenalkan kesenian ini kepada masyarakat umum.

Meski masih relatif sederhana, pertunjukkan Rabab Saluang ini sudah disebarluaskan melaui media sosial, seperti Facebook dan YouTube. Uda ini mengaku, beberapa kali pertunjukkan yang ia lakukan disiarkan secara langsung di Facebook sehingga siapa saja bisa menonton dan menikmatinya. Atas kontribusi teknologi inilah yang membuat kesenian Rabab Saluang menjadi semakin besar.

“Saya mencintai (kesenian ini) sepenuh hati. Tontonlah kesenian ini dan nikmati pantunnya yang saya mainkan, dihayati,” lanjutnya.

Dengan popularitas yang dimiliki, Uda beserta dengan anggota grup musik Rabab Saluang lainnya pernah berkesempatan untuk pentas di luar wilayah Bukittinggi. Bahkan, kesenian khas Minang ini sudah dikenal dan dipertunjukkan secara langsung hingga ke Batam.

“Kami mempunyai grup untuk panggilan kenduri (pesta), acara pesta nikahan. Jadi, kami dibawa (diundang pentas) ke Batam, Tanjung Pinang, dan lainnya. Kalau mainnya itu malam di pesta, abis Isya sampai jam empat subuh,” tutupnya.

Sumber artikel dan photo : www.wartaekonomi.co.id

Leave a Reply