RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Belanda Butuh 400 Infanteri dan Artileri Untuk Kuasai Tanah Datar

Belanda Butuh 400 Infanteri dan Artileri Untuk Kuasai Tanah Datar

400 infanteri dan artileri, Belanda menyerbu Pagaruyung dan daerah sekitarnya. Pada tengah hari tanggal 4 Maret 1822, serdadu di bawah pimpinan Letnan Kolonel Antoine Theodore Raaff tersebut menduduki Pagaruyung dan kemudian pusat-pusat lain di sebelah tenggara Tanah Datar.

Hal ini disampaikan Sejarawan Christine E Dobbin dalam Buku ‘Kebangkitan Islam dan Ekonomi Petani yang Sedang Berubah: Sumatra Tengah, 1784-1847’ (1992). Hari itu, tepat 197 tahun yang lalu dari saat ini, Senin (4/3/2019).

Menurut Dobbin, kekuatan Belanda yang menyerang Pagaruyung sudah bersiap sejak Februari 1822 di dataran tinggi Sumbar. Di buku ‘Ketika Nusantara Berbicara’, Joko Darmawan mengungkapkan, serbuan yang direncanakan dengan matang itu berhasil memukul mundur kekuatan Padri keluar dari wilayah Pagaruyung.

Setelah menguasai Tanah Datar, Raaff bersama pasukannya kemudian membangun benteng yang kemudian dinamakan Fort Van der Capellen. Nama tersebut diambil dari nama Mr. Godert Alexander Gerard Philip Baron Van der Capellen. Ia adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berkuasa ketika benteng itu dibangun.

Pimpinan tertinggi ke-41 wilayah koloni tersebut, menjadi gubernur jenderal sejak 1816 sampai dengan 1821. Raaff yang memimpin penyerbuan adalah perwira muda Hindia Belanda. Usianya belum genap 28 tahun, saat letnan kolonel muda itu memimpin penyerbuan ke Pagaruyung.

Dobbin menulis, sebagian sekolah militer Raaff ia tempuh di Akademi Militer St. Cyr Prancis sebelum kemudian ikut kampanye Napoleon di Jerman. Ia kemudian dipindahkan dinas ke Ketentaraan Hindia Belanda dan langsung ditugaskan menghadapi Padri.

“Dia pendukung tindakan kekerasan militer dan bergerak serentak untuk menunjukkan kepada Padri bahwa Belanda bersungguh-sungguh,” tulis Dobbin.

Karena itu, setelah menundukkan Pagaruyung, Raaff dan pasukannya tak berhenti. Ia merencanakan penyerangan ke Lintau dan wilayah lainnya yang dikuasai Padri. Mundur dari Batusangkar dan Pagaruyung bukan berarti Pasukan Padri sudah kalah. Padri menyusun kekuatan di Lintau, hanya sekitar 37 kilometer dari Benteng Fort Van der Capellen.

Serangan balasan pun dilakukan. Pada 10 Juni 1822, menurut Joko Darmawan, pergerakan pasukan Raaff di Tanjung Alam diadang kaum Padri, meski belum menunjukkan hasil maksimal. Serangan Padri berikutnya pada 14 Agustus 1822 sudah membawa hasil. Dalam pertempuran di Baso, salah seorang perwira Belanda Kapten Goffinet menderita luka berat.

Ia kemudian meninggal dunia pada 5 September 1822. Karena serangan pasukan Padri di bawah pimpinan Tuanku Nan Renceh itu, Belanda mundur kembali ke Batusangkar. Pada 13 April 1823, pasukan Raaff kembali menyerang Lintau. Serangan ini gagal karena perlawanan sengit Padri. Belanda kembali ke Batusangkar pada 16 April.

Serangan Belanda ke pedalaman Minangkabau adalah aksi campur tangan mereka dalam Perang Padri yang sudah berlangsung sejak 1803 antara Kaum Adat dengan Kaum Padri.

Mengutip Jeanne Cuisinier (1958), Joko Darmawan menulis, Perang Padri dimulai dengan pertentangan sekelompok ulama atau kaum Padri dengan kaum adat sejak kebiasaan judi, sabung ayam, minuman keras sampai pada aspek substansi terkait matrilineal, matriakat dan warisan sesuai adat Minangkabau. Padri ingin mengubah semua kebiasaan dan hukum adat tersebut.

Zulkifli Salim Ampera dalam ‘Minangkabau dalam Catatan Sejarah yang Tercecer’ (2005) menyebutkan, tahun 1815 perselisihan itu mencapai puncak. Kaum Padri dipimpin Tuanku Pasaman menyerang pusat Kerajaan Pagaruyung yang menjadi basis kaum adat.

Karena serangan ini, Yang Dipertuan Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah mengungsi ke Lubuk Jambi. Pada 21 Februari 1821, salah satu petinggi Pagaruyung Sultan Tangkal Alam Bagagar datang ke Padang dan menandatangani perjanjian dengan Residen James du Puy.

Jeffrey Hadler dalam Buku ‘Sengketa Tiada Putus: Matriarkat, Reformisme Agama, dan Kolonialisme di Minangkabau’ (2010) menyebut, pada titik inilah Perang Padri beralih dari perang saudara antara reformis Muslim dan tradisionalis adat menjadi perang melawan pendudukan kolonial.

Setelah Belanda menguasai Pagaruyung sejak 1821, Yang Dipertuan Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah kembali pada 1824. Namun, setahun kemudian ia wafat. Letkol Raaff sendiri, setelah berhasil menguasai Pagaruyung diangkat menjadi Residen Padang pada 1823. Namun, ia meninggal dunia mendadak pada 1824 setelah sakit panas.

Sementara, di luar sudah menguasai Pagaruyung, Belanda makin kewalahan dengan perlawanan Padri. Karena itu, akhirnya pada 15 November 1825, Belanda menandatangani perjanjian dengan Padri, yang saat itu sudah dipimpin Tuanku Imam Bonjol. Selama masa gencatan senjata tersebut, Belanda berkonsentrasi menghadapi Perang Diponegoro yang berkecamuk di Pulau Jawa sejak 1825-1830.

Darmawan menulis, Padri sendiri memulihkan kekuatan dengan merangkul kaum adat. Perbedaan antara syariat Islam dan adat Minangkabau diselesaikan dengan ‘Plakat Puncak Pato’ di Bukit Marapalam. Dari sinilah terwujud konsensus, ‘Adat basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah’ yang tetap dipakai masyarakat Minangkabau hingga kini.

Episode kedua Perang Padri pasca Perang Diponegoro, adalah saat bersatunya Kaum Padri dan Kaum Adat melawan Tentara Hindia Belanda. Sebuah episode perang yang juga panjang dan memakan banyak korban.

Leave a Reply