RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

Angkek-angkek, Batu Peramal Nasib di Tanah Datar Sumbar

Percaya tidak percaya, sebuah batu di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, bisa meramal nasib seseorang. Batu itu dikenal masyarakat setempat dengan nama batu angkek-angkek atau batu angkat-angkat dalam Bahasa Indonesia.

Dinamakan batu angkek-angkek karena setiap orang yang datang ke tempat itu ingin mengangkat batu itu. Jika batu tersebut berhasil diangkat, tandanya keinginan yang disampaikan akan dikabulkan.

Orang-orang percaya jika seorang dengan mudah mengangkat batu itu ke pangkuan, maka apa yang ia inginkan akan mudah tercapai. Begitu juga sebaliknya jika batu itu terasa berat diangkat, keinginan yang disampaikan itu akan sulit ia raih atau tidak sama sekali.

Itu sebabnya banyak orang yang penasaran dan mencoba meramal nasib mereka dengan mengangkat batu angkek-angkek.

Batu itu juga salah satu objek wisata andalan kabupaten setempat pada libur Lebaran maupun akhir tahun sehingga dikunjungi banyak wisatawan.

Batu angkek-angkek juga memiliki kesamaan dengan salah satu objek wisata di Kyoto Jepang yang terkenal dengan batu “Omukaru Ishi”, yang artinya batu ringan atau berat. Batu itu diyakini bisa meramal nasib seseorang jika pengunjung bisa mengangkatnya.

Penasaran dengan batu angkek-angkek, pengunjung bisa datang langsung ke Nagari Tanjung, Kecamatan Sungayang Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Nagari itu berjarak sekitar 11 kilometer dari Kota Batusangkar, Ibu Kota Kabupaten Tanah Datar. Perjalanan menggunakan sepeda motor akan menghabiskan waktu sekitar 20 menit dengan kecepatan sedang.

Atau bisa juga dengan menggunakan kendaraan umum, bus trayek Batusangkar-Lintau melewati kawasan Puncak Pato. Setiba di Nagari Tanjung, pengunjung berhenti di pertigaan menuju objek wisata itu lalu lanjut dengan jalan kaki sekitar lima menit perjalanan atau bisa juga dengan naik ojek.

Jalan menuju ke sana mata disuguhkan hamparan sawah berkotak-kotak dan gunung Marapi yang berdiri tegap, serta jajaran bukit yang berjajar rapi.

Batu tetaplah batu, syirik hukumnya jika percaya kepada batu. Apalagi kita yakin batu itu yang mengabulkan permintaan.

Tanah Datar
Pengunjung mencoba mengangkat batu angkek-angkek. (Foto: Tagar/Etri Saputra)

***

Waktu itu Rabu, 21 Agustus 2019, Tagar menyempatkan diri datang ke tempat batu angkek-angkek. Berangkat dari Istano Basa Pagaruyung melewati Kota Batusangkar menghabiskan waktu sekitar 25 menit perjalanan.

Setiba di lokasi, rupanya batu itu disimpan dalam bangunan bergaya rumah adat Minangkabau, bukan di kuil seperti batu “Omukaru Ishi” di Kyoto Jepang. Rumah yang terbuat dari kayu itu memiliki empat jendela kecil dan satu pintu masuk dengan beberapa buah anak tangga.

Di sebelah rumah itu disediakan keran air dan sebuah ember tempat orang mengambil wudhu. Kabarnya dianjurkan bersuci sebelum mengangkat batu itu karena di belakang batu itu bertuliskan lafaz Allah dan Muhammad.

Karena batu angkek-angkek sudah dijadikan cagar budaya dan destinasi wisata oleh pemerintah Kabupaten Tanah Datar sejak tahun 1980, untuk masuk pengunjung harus membayar biaya retribusi sebesar tiga ribu rupiah.

Sementara untuk mengangkat batu itu tidak dipungut biaya alias gratis, cukup memberikan sumbangan ala kadarnya kepada penjaga.

***

Seorang pemilik batu angkek-angkek, Alfi Putra, mengatakan batu angkek-angkek adalah salah satu tujuan utama wisatawan datang ke Tanah Datar karena mitos yang disematkan terhadap batu itu.

Tidak saja wisatawan lokal, wisatawan mancanegara juga banyak datang ke tempat itu terutama pada hari libur Lebaran dan akhir tahun.

Banyak orang percaya dan yakin batu angkek-angkek benar bisa meramal tercapai atau tidaknya keinginan seseorang.

“Batu tetaplah batu, syirik hukumnya jika percaya kepada batu. Apalagi kita yakin batu itu yang mengabulkan permintaan,” kata Alfi kepada Tagar.

Tentang kelebihan yang konon ada pada batu angkek-angkek, Alfi menjadikannya sebagai motivasi diri, bukan sebagai khayalan ataupun beban.

“Terangkat syukur, kalau tidak terangkat jadikanlah motivasi bahwa keinginan yang kita minta itu butuh pengorbanan dan usaha yang kuat. Seandainya batu itu terangkat pun, jika tidak berusaha kan juga percuma,” katanya.

“Ibarat tidak kuat membeli mobil cash, kita beli dengan kredit. Intinya selalu ada cara untuk mewujudkan keinginan selagi ada motivasi,” kata Alfi.

Banyak orang berbadan kekar tapi tidak sanggup mengangkat batu itu, sebaliknya tidak sedikit pula nenek usia 60 tahun dengan mudah mengangkat batu itu.

***

Untuk mengangkat batu angkek-angkek, pertama pengunjung dianjurkan untuk bersuci lalu memberikan sumbangan ala kadarnya ke dalam kotak yang ditutup kelambu dekat batu itu.

Kemudian pengunjung duduk bersimpuh di depan batu dan membuat keinginan di dalam hati sebelum mengangkatnya.

Jika batu itu terasa ringan di angkat artinya keinginan yang dipinta dengan mudah akan terwujud. Namun, jika batu itu terasa berat untuk diangkat atau tidak sama sekali maka keinginan yang dipinta perlu waktu lebih lama untuk tercapai atau bisa saja tidak sama sekali.

Pengunjung juga diperbolehkan mengangkat batu itu berulang kali dengan niat atau harapan yang berbeda. Satu kali angkat satu kali niat terserah apa yang diinginkan.

***

Ramadhona 23 tahun, seorang pengunjung asal Nagari Barulak, Kecamatan Tanjung Baru. Ia mendengar batu angkek-angkek bisa meramal keinginan seseorang, membuatnya tertantang untuk menaklukan batu yang dianggap keramat tersebut.

“Ternyata benar tidak semua orang bisa mengangkat batu angkek-angkek. Tiga kali saya mencoba tapi belum membuahkan hasil,” kata dia.

Meski tidak terangkat, perempuan berkacamata itu tetap yakin dengan apa yang disampaikannya di hadapan batu angkek-angkek.

“Percaya tidak percaya sih, tapi saya yakin kalau ada usaha pasti ada jalan,” katanya tersenyum.

***

Alfi Putra megatakan batu angkek-angkek memiliki berat berubah-ubah. Sampai saat ini belum bisa dipastikan berapa sebenarnya barat batu itu. Beratnya hanya bisa dirasakan bagi mereka yang berhasil mengangkatnya. Ada yang bilang lima kilo, 20 kilo bahkan lebih dari itu.

“Banyak orang berbadan kekar tapi tidak sanggup mengangkat batu itu, sebaliknya tidak sedikit pula nenek usia 60 tahun dengan mudah mengangkat batu itu. Semuanya memiliki kesempatan sama untuk bisa mengangkat batu, tergantung sejauh mana keikhlasan dan motivasi sesorang,” ujarnya.

Kendati demikian Alfi mengingatkan tidak boleh terlalu percaya kepada hal itu karena syirik dan haram hukumnya meminta kepada batu. Anggap saja batu angkek-angkek sebagai penyemangat untuk mewujudkan niat yang baik.

Dilihat kasat mata, batu angkek-angkek lebih mirip logam berwarna merah kecoklatan dengan ukuran tidak lebih besar dari batu gilingan cabe.

Sebelah sisi batu itu permukaannya datar, sisi satunya lagi melengkung seperti punggung kura-kura. Di belakang batu itu ada tulisan Allah dan Muhammad.

Alfi mengatakan batu angkek-angkek itu sudah berusia sekitar 500 tahun.

Ia bercerita, batu angkek-angkek pertama kali ditemukan oleh Datuak Bandaro Kayo kepala suku kaum Piliang di daerah itu yang bermimpi didatangi Syech Ahmad. Dalam mimpinya Syech Ahmad berpesan kepada Datuk Bandaro Kayo untuk mendirikan sebuah perkampungan.

Saat dilakukan pemancangan tonggak pertama tiba-tiba saja terjadi gempa lokal disusul hujan panas berselang 14 hari 14 malam.

Karena begitu lama situasi tersebut, masyarakat setempat berkumpul untuk bermusyawarah.

Saat musyawarah berlangsung, terdengar suara dentuman berasal dari dalam lubang pemancangan tiang tadi, dan ditemukanlah batu bernama batu pendapatan, atau yang dikenal saat ini dengan nama batu angkek-angkek.

Leave a Reply