Alat Penangkap Ikan Sukam Dinilai Ramah Lingkungan

Pesatnya perkembangan teknologi, tak membuat masyarakat di Kampuang Pariak, Nagari Garagahan, Kecamatan Lubukbasung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, meninggalkan tradisi leluhurnya. Terutama dalam menangkap ikan di sungai.

Walau terbilang sudah banyak alat pancing modern yang canggih, mereka lebih tertarik menggunakan Sukam. Yaitu alat pemancingan tradisional yang dianggap efisien serta ramah lingkungan.

“Nenek moyang kami memakai alat tangkap sukam ini untuk menangkap ikan di sungai,” ujar Wel (42), yang merupakan ketua Kelompok Piliang, suku adat di Minangkabau, dilansir dari Antara.

Terbuat dari Bambu
Wel mengungkapkan jika seluruh elemen pembuatan sukam berasal dari alam. Bahan untuk membuatnya, menggunakan batang bambu sebagai penyusun utama di sungai, dan beberapa material kayu lain sebagai bantalan penyanggah.

Dalam sekali pembuatan, sukam memakan biaya sekitar Rp1,5 juta per unit dengan waktu pembuatan selama kurang lebih satu hari. Hal tersebut tergantung dari ketersediaan bahan serta cuaca sebagai pendukungnya.

“Pembuatan sukam tergantung dengan cuaca dan material. Apabila cuaca bagus dan material cukup, maka bisa selesai selama satu hari,” ujarnya.

Bisa Tangkap 50 Kg Ikan per Hari
Untuk hasil tangkapan ikannya sendiri, tergantung dari kondisi cuaca serta air sungai. Tangkapan akan jadi maksimal jika curah hujan tinggi diiringi dengan kondisi air sungai yang deras.

Wel menambahkan hasil tangkapan ikan bisa mencapai 50 kilogram perhari melalui Sukam. Beberapa ikan di antaranya berupa gariang, ikan zidat, nila dan lainnya.

Menurutnya, ikan-ikan di sungai akan secara otomatis masuk ke dalam sukam dan masyarakat bisa memilih ikan sesuai kebutuhan untuk dikumpulkan di suatu tempat. Terkait pemasaran hasil tangkapan, Wel mengungkapkan biasanya akan dijual kepada masyarakat sekitar di Lubukbasung dan Pasaman Barat.

“Hasil penjualan ikan itu akan kita keluarkan untuk modal pembuatan sukam dan sewa lahan Rp4 juta selama tiga tahun. Sisanya akan kita bagi ke kelompok dengan jumlah 10 orang,” katanya.

Sementara itu, tokoh masyarakat Garagahan, Tarazi (58) mengungkapkan jika di kawasan Sungai Batang Antokan, Kabupaten Agam, alat penampung ikan sukam telah terpasang sekitar 10 unit.

Ia menambahkan jika sukam tersebut dimiliki oleh beberapa kalangan. Di antaranya milik pribadi, maupun secara kelompok. Masyarakat sekitar tertarik karena bentuk dan cara kerjanya yang unik, sehingga banyak warga yang menyaksikan proses penangkapannya.

“Alat tangkap sukam itu ramah lingkungan dan menjadi daya tarik bagi masyarakat setempat, karena alat tangkap berupa tradisional,” tutupnya. Sumber

Leave a Reply