RESPON CEPAT PESAN ANTAR : (021) 345 8343 & (021) 386 5055

7 Fakta Naskah Kuno Islami yang Ditemukan di Surau-surau Sumbar

Selain kelezatan makanan, hal lain yang dikembangkan dan menjadi budaya di Sumatera Barat atau ranah Minangkabau adalah sastra. Di permukaan kita mengenal Buya Hamka dengan karya-karya sastranya, Abdul Muis, Chairil Anwar dan banyak tokoh berdarah Minangkabau lainnya yang terkenal dengan karya sastranya.

Rupanya, jauh sebelum tokoh-tokoh tersebut dikenal dengan karyanya, karya sastra di Sumatera Barat telah lebih dahulu berkembang dan menjadi budaya tersendiri. Hal ini dibuktikan dengan temuan sejumlah naskah kuno Islami di surau-surau (sebutan untuk masjid di ranah Minangkabau) yang tersebar di berbagai wilayah Sumatera Barat.

Temuan ini merupakan hasil penelitian seorang dosen sekaligus peneliti budaya Minangkabau, Pramono. Meskipun sama sekali tak punya garis keturunan Minangkabau, dan asli berdarah Jawa, kesukaan serta semangatnya meneliti berhasil menemukan peninggalan sejarah budaya yang hampir terlupakan ini.

Tentu saja tak banyak yang mengetahui keberadaan dan keklasikan naskah ini, karena penelitiannya memang masih minim. Padahal, tentu saja naskah-naskah ini merupakan suatu kekayaan budaya nusantara. Dan berikut adalah beberapa fakta tentang naskah kuno tersebut, yang dihimpun dari hasil penelitian Pramono.

1. Naskah ditulis oleh ulama sebagai hasil tradisi yang disesuaikan dengan tarekat
Sebagian besar naskah-naskah tersebut ditulis oleh ulama-ulama lokal Sumatera Barat sebagai hasil tradisi intelektualnya. Karena ulama-ulama tersebut menuliskannya saat berada di surau, maka hasil kumpulannya wajar banyak ditemui di surau-surau. Penulisan oleh para ulama zaman dulu itu pun disesuaikan dengan tarekat yang mereka ikuti masing-masing. Tarekat adalah kelompok pembelajaran agama berdasarkan faktor-faktor pemahaman tertentu, dan banyaknya pemahaman itulah yang menyebabkan perbedaan antar tarekat. Tentu saja, tarekat yang menjadi acuan para ulama itu adalah tarekat yang terdapat di Sumatera Barat seperti Tarekat Sumaniah, Tarekat Naqsabandiyah, dan Tarekat Syattariyah. Semua tarekat itu tersebar di Sumatera Barat kecuali Mentawai yang mayoritas penduduknya tidak beragama Islam. Pengaruh dari perbedaan tarekat itu selanjutnya terlihat dari sebagian isi naskah yang dituliskan ulama. Hal itu bersanding dengan pengaruh ajaran turun temurun dari masing-masing ulama. Sehingga, ada perbedaan berkarakter dari setiap naskah.

2. Terdapat juga naskah yang diimpor dari luar Indonesia, seperti dari Arab
Naskah kuno yang ditemukan di surau-surau itu terbagi atas tiga: ditulis secara otentik oleh para ulama, hasil impor dari luar daerah Minangkabau bahkan Nusantara, dan hasil saduran oleh para ulama. Naskah-naskah impor yang ditemukan tersebut ditulis dengan aksara Arab dan berbahasa Arab. Menariknya, naskah-naskah impor tersebut tertulis rapi dengan tinta halus hitam dan juga merah sebagai pembatas rubrik, serta penjilidan yang rapi. Namun, isinya lebih banyak merupakan terjemahan atau tafsiran Al-quran berupa doa-doa, zikir, dan fikih.

3. Berisikan sejarah hidup para syekh di masa lampau dan perkembangan agama Islam di daerah Minangkabau
Naskah-naskah yang dituliskan langsung oleh para ulama asli Nusantara atau Sumatera Barat umumnya berisikan tentang sejarah ke-Islam-an dan biografi para ulama. Beberapa di antaranya tentang Syekh Kuala sang pengembang Agama Islam di Aceh, Syair Perjalanan Haji yang berupa sejarah, pengobatan tradisional, dan lain-lain. Hebatnya, naskah-naskah tersebut tertulis dalam beragam bahasa. Ada yang berbahasa Melayu, campuran Melayu-Minangkabau, Minangkabau asli dan juga bahasa Arab.

4. Naskah terbanyak ditemukan di daerah Lubuk Landur, Kabupaten
Penelitian tentang naskah kuno Islami ini benar-benar membuka mata tentang keberadaan karya sastra kuno di Sumatera Barat. Pasalnya, tidak satu, dua atau puluhan yang ditemukan, tapi ratusan. Naskah terbanyak ditemukan di Surau Lubuk Landur, yang terdapat di Kabupaten Pasaman Barat sebanyak 101 naskah. Diketahui ulama yang aktif di surau tersebut saat itu ialah Syekh Muhammad Bashir. Terbanyak kedua ditemukan di Surau Calau, Nagari Muaro, Kabupaten Sijunjung. Ulama yang bertugas di sini bernama Syekh Abdul Wahab atau Syekh Calau. Di surau ini ditemukan sebanyak 99 naskah. Selanjutnya ada Surau Lubuk Ipuh di Kabupaten Padang Pariaman sebanyak 82 naskah; surau-surau kecil di nagari Malalo, Kabupaten Tanah Datar sebanyak 79 naskah, dan puluhan naskah lainnya yang tersebar di banyak surau di Sumatera Barat.

5. Ada ratusan naskah ditemukan dan hanya menjadi warisan, kondisinya memprihatinkan
Kabar buruk dari keberadaan naskah-naskah tersebut adalah statusnya yang tidak difungsikan lagi. Naskah-naskah itu hanya menjadi koleksi di surau-surau tempat penulisan dan persebarannya. Bahkan, dapat dikatakan bahwa ratusan naskah yang ditemukan itu hanya menjadi ‘warisan’ yang kondisinya sangat memprihatinkan. Beberapa dapat terselamatkan secara utuh sehingga masih bisa dibaca walaupun rentan. Beberapa lagi butuh usaha keras untuk menyatukan elemen-elemennya yang terpecah-pecah. Padahal, naskah-naskah tersebut merupakan bagian sumber literatur yang dapat memperkaya pengetahuan budaya bahkan keilmuan secara akademis dan sosial budaya.

6. Menjadi daya tarik peziarah ke surau-surau klasik baik dari dalam maupun luar Sumatera Barat
Kabar baik tentang adanya naskah-naskah tersebut adalah daya tariknya yang terkesan sakral dan klasik sehingga mendatangkan banyak ziarah. Diketahui, surau-surau yang menyimpan naskah-naskah tersebut dikunjungi banyak peziarah baik dari dalam maupun luar Sumatera Barat. Jumlahnya mencapai ribuan setiap tahunnya. Faktanya, para peziarah itu tidak hanya mengunjungi satu surau tertentu. Mereka mengunjungi banyak surau sesuai budget dan keinginan mereka. Sehingga, hal ini seharusnya bisa menjadi potensi wisata yang bisa dikembangkan di Sumatera Barat menjadi wisata religi sejarah. Dengan demikian, akan ada dampak perekonomian positif yang diperoleh masyarakat.

7. Berpotensi dikembangka ke arah ekonomi kreatif
Menjadi tempat wisata religi sejarah merupakan sebuah potensi surau dengan naskah kuno yang harus diarahkan kepada industri ekonomi kreatif. Tujuannya agar pengembangannya berkelanjutan dan dapat disesuaikan dengan kebudayaan lokal yang menjadi daya tarik itu sendiri. Selain itu, naskah-naskah yang ditemukan itu rupanya tidak hanya berupa teks bacaan, tapi juga desain artefak yang memperindah tampilannya dalam sebuah kitab. Desain otentik itu tentu saja bisa dimanfaatkan menjadi sebuah daya tarik khas Sumatera Barat yang sangat bernilai karena bersumber dari naskah kuno.

Sejauh ini sang peneliti Pramono berpikiran untuk menuangkan tampilan naskah tersebut kepada produk cetak seperti kaos, tas kain dan lain-lain. Desain tersebut akan dituangkan berupa motif batik.

Leave a Reply